
Timo Tjahjanto, Perfilman Indonesia Lebih Berwarna
Timo Tjahjanto adalah sutradara Indonesia yang dikenal lewat karya-karya bergenre horor dan aksi, seperti Sebelum Iblis Menjemput dan The Night Comes for Us. Ia menyoroti tantangan perfilman Indonesia, terutama dari sisi selera penonton yang cenderung memilih tontonan arus utama. Timo menekankan pentingnya edukasi bagi pembuat film agar berani berinovasi, serta bagi penonton agar lebih terbuka terhadap variasi. Bersama Kimo Stamboel dalam duo The Mo Brothers, Timo berharap kerja sama antara pemerintah dan platform global seperti Netflix dapat mendorong terciptanya konten lokal yang lebih beragam dan berani keluar dari zona nyaman.
*****
Sutradara Timo Tjahjanto menilai bahwa penggarapan film di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya dari segi penonton. ”Sudah ada sebuah market study yang susah kita lawan. Penonton Indonesia maunya kalau enggak nonton A, ya nonton B. Mereka tidak bisa di tengah-tengah atau yang sedikit lebih berani keluar dari zona nyaman,” kata Timo seusai jumpa pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Netflix di Jakarta, pekan lalu.
Untuk itulah, Timo berharap ada edukasi untuk pembuat film dan penontonnya. ”Edukasi untuk film maker supaya berani lebih variatif, dan edukasi untuk penonton juga supaya lebih variatif,” kata sutradara Sebelum Iblis Menjemput ini.
Selain itu, Timo yang bergabung dengan Kimo Stamboel di bawah bendera The Mo Brothers ini juga berharap kerja sama Kemdikbud dengan Netflix membuka pintu bagi pembuat film lokal untuk menggarap konten yang lebih bervariatif. Dengan demikian, penonton Indonesia juga bisa menikmati konten yang lebih berwarna.
”Sebenarnya bibit-bibit untuk sesuatu yang lebih variatif di Indonesia ada. Cuma belum vokal saja,” ungkap sutradara yang menggarap film The Night Comes for Us, film orisinal Indonesia yang tayang di Netflix, ini.
Sumber: Kompas edisi 13 Januari 2020 di halaman 12 dengan judul “Timo Tjahjanto, Semakin Berwarna “.
Leave a Reply