Hai Puja, Sindiran Humor Gaya Bali

Kadek Puja Astawa (46), karateka sekaligus seniman asal Bali, dikenal lewat video pendek berisi kritik sosial dan pesan edukatif bernuansa humor di akun Hai Puja dan Puja Astawa. Lewat gaya ringan dan lucu, ia menyoroti perilaku masyarakat Bali modern, seperti ketergantungan pada media sosial, pamer, atau kurang peduli terhadap lingkungan. Karya-karyanya yang banyak ditonton di YouTube dan Instagram menyampaikan pesan moral tanpa menyinggung pihak mana pun. Berbekal kemampuan fotografi dan videografi, Puja menangani seluruh proses produksi sendirian. Ia ingin melestarikan budaya dan karakter masyarakat Bali agar tidak luntur oleh modernisasi.

*****

Kadek Puja Astawa (46) menyadari, banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat Bali masa kini. Ia menangkapnya lewat video pendek berisi pesan-pesan edukatif dan kritik bernuansa humor. Dengan begitu, siapa pun yang melihat video tersebut tidak merasa sedang diserang, tetapi sedang dihibur.

Pesan-pesan moral yang edukatif dalam balutan humor atau lawakan di Bali biasanya disuntikkan para seniman lewat pementasan wayang atau drama. Biasanya aktor wayang atau drama mengenakan kostum seperti penari Bali.

Namun, belakangan ini, pesan-pesan edukatif, bahkan kritik, muncul dalam cerita-cerita keseharian orang Bali yang direkam secara audiovisual. Video pendek semacam itu kini disukai banyak warga Bali yang akrab dengan teknologi digital.

Salah seorang produsen video semacam itu yang sedang naik daun di Bali adalah Puja Astawa. Ia menangkap perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat Bali masa kini dan menjadikannya sebagai bahan cerita video pendek. Video buatannya kemudian ia sebarkan melalui akun media sosialnya, Hai Puja dan Puja Astawa.

Dua tahun terakhir ini, Puja Astawa semakin dikenal dan karyanya dinantikan penggemarnya. Konten videonya berupa fragmen kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Dalam fragmen tersebut ada imbauan agar menjauhi narkoba, tidak berjudi, hingga menghindari keramaian di musim pandemi Covid-19. Di sana-sini, tokoh-tokoh dalam cerita melontarkan sindiran atau kritik atas perilaku sombong, sok pamer, suka menang sendiri, tidak peduli, dan sebagainya.

Dalam sebuah video tentang pandemi Covid-19, misalnya, ada adegan seorang bapak yang senang punya sepeda motor baru. Ia berencana pergi sembahyang ke pura sambil memamerkan motor barunya. Kemudian datang putrinya, Niken, yang mengingatkan, pura sementara ditutup untuk mencegah penyebaran virus korona baru penyebab Covid-19. Sang ayah gundah dan memprotes penutupan pura. Lalu Niken menyela, ”Pura ditutup sementara ribut. Kemarin-kemarin pura dibuka 24 jam enggak mau masuk.”

Sang anak mengingatkan lagi agar kita semua mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah. ”Niken takut, Pa. Kali ini dengerin masukan Niken, Pa.” ”Niken takut karena Niken sayang sekali sama Papa, ya,” jawab sang ayah.

”Bukan, Pa, utang Papa banyak. Nanti siapa yang bayar (kalau Papa meninggal),” ucap Niken.

Begitulah gaya Puja Astawa menyampaikan pesan dengan humor dan gaya bahasa sehari-hari yang mudah dicerna. ”Edukasi yang dibalut humor-humor segar menjadi syarat mutlak segala karya video Hai Puja. Tanpa menyinggung siapa pun tetapi pesan tetap mengena ke masyarakat. Itu tidak mudah,” kata Puja Astawa di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (21/4/2020).

Segalanya ia persiapkan sendirian. Kemampuan fotografi dan videografi menjadi modal berharga saat ini untuk menghasilkan karya orisinal, homoris, tetap sopan, dengan pesan yang mengena di benak masyarakat.

Puja tak menyangka, video sindiran yang diunggahnya menarik perhatian publik. Ia pun berpendapat, video ini dapat menjadi perantara untuk mengungkapkan keperihatinanya terhadap budaya masyarakat Bali yang mulai luntur.

Memahami masyarakat

Puja Astawa membuat drama pendek awalnya lantaran ia sulit memahami warga sekitarnya ketika menghadapi gempa bumi. Ia bingung, saat gempa terjadi, orang malah sibuk mengunggah peristiwa itu ke akun media sosial.

”Heran, bukannya mikir keselamatan diri atau keluarganya. Saya lihat malahan kebanyakan sibuk pegang telepon seluler dan cepet-cepetan mengunggah,” ujarnya geram.

Sejak saat itu, ia bertekad membuat drama pendek yang isinya menyentil, tetapi dibalut humor. Humor, bagi Puja Astawa, membuat suasana jadi lebih cair. Orang Bali juga biasanya lebih mudah mencerna pesan-pesan jika dibalut lelucon seperti di pementasan pewayangan. Ia ingin pesannya bisa dinikmati siapa pun.

Sebagian besar videonya ia dedikasikan untuk kaum perempuan. Mengapa? Menurut Puja, perempuan itu luar biasa hebat. Hanya saja, ia sedih mengapa masih ada yang mendiskreditkan peran perempuan.

Ide-ide mengalir. Namun, ia tak mau hanya asal membuat tanpa skenario. Hal yang paling ia khawatirkan adalah jika ia tidak lucu lagi dan menyenggol urusan SARA. Puja membutuhkan sedikitnya satu hari untuk pengambilan gambar serta proses pengeditan. Semuanya ia lakukan sendirian. Jika ada yang membantu, ia pun profesional.

Karateka

Selama ini, Puja Astawa lebih dikenal sebagai karateka. Ia atlet nasional sejak 1990-an dan saat ini menjadi pelatih karate di Bali. Di luar itu, ia pernah aktif sebagai pemain Teater Palawara. Ayahnya seorang petani dan ibunya seniman arja, semacam wayang orang Bali.

Dua-tiga tahun terakhir, Puja Astawa mulai membuat cerita-cerita pendek dalam format video. Ia menangani semua prosesnya, mulai dari menulis skenario, menjadi sutradara, menjadi pemain utama, hingga mengedit. Ia kerap melibatkan ibunya sebagai lawan main. Ia mengatakan sangat senang bermain dengan ibunya karena tidak ada sekat.

Sejauh ini sudah banyak drama pendek yang ia unggah di media sosial. Puja Astwa senang karena respons masyarakat cukup bagus. Video-video yang ia unggah lewat akun Youtube Hai Puja dan Puja Astawa ditonton 100.000-400.000 kali. Namun, ada juga video yang ditonton 800.000-an kali. Sementara itu, video-video serupa yang ia unggah di akun Instagram banyak yang ditonton 100.000 kali.

”Saya tidak mengejar uang untuk video ini. Saya hanya ingin budaya bermasyarakat di Bali ini tidak luntur karena modernisasi serta arogansi status,” ujar Puja.

Sumber: Kompas edisi 29 April 2020 di halaman 16 dengan judul “Kadek Puja Astawa, Sindiran Humor Gaya Bali”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *