Raedu dan Iffah, Pemupuk Literasi di Billapora

Terdidik, pintar, dan cakap tidak membuat dua orang ini alergi hidup di desa. Justru dengan bekal kecakapan, mereka pulang ke desa dan menghidupkan literasi desa dengan cara mereka. Keduanya adalah suami-istri Raedu Basha (36) dan Iffah Hannah (36). Raedu Basha adalah nama pena. Nama aslinya Badrus Shaleh. Iffah Hannah pun nama pena. Nama aslinya Khanifah. Keduanya sama-sama penulis dan pegiat literasi di Billapora, Sumenep. Mereka menghidupkan sastra di sana.

Oleh: Dahlia Irawati

Sebelum pulang ke desa, Raedu dikenal sebagai penyair muda. Ia termasuk dalam daftar sastrawan muda Indonesia dalam 2010 Who’s Who in Readers & Writers (WWR). Namanya dicatat di sana, bersama penyair-sastrawan lain dari karya-karya tulisnya.

Nama Raedu lahir dengan status dan perhatian tidak berarti sebuah akhir atau tujuan. Pidato-pidato pendek penuh semangat di forum-forum kesusastraan di kota-kota, Indonesia, bahkan luar negeri, bukanlah sebuah capaian. Semua itu Raedu jadikan modal dasar untuk menghidupkan kesusastraan desa, tanah kelahirannya, Guluk-Guluk, juga Sumenep.

Selama hampir dua dekade, tidak banyak sastrawan pascareformasi yang berprestasi mengembangkan sastra di desa. Persebaran apresiasi sastra pascareformasi kebanyakan menumpuk di kota-kota besar. Maka, upaya Raedu kembali ke desa adalah pilihan langka yang menarik. Menghidupkan Billapora, sebuah dusun di Kecamatan Guluk-Guluk, ia membangun Pondok Pesantren Annuqayah.

Tesisnya mendapat Anugerah Penulisan Karya Sastra dari Pusat Pembinaan Bahasa tahun 2021. Anugerah Sastra Indonesia Award 2019 dan Anugerah Sutasoma 2015 dari Badan Bahasa dan Kemendikbud Ristek. Raedu bertindak untuk tidak sekadar menjadi sastrawan di desa, namun juga memupuk literasi warga dan lingkungannya.

Kelola pondok

Raedu adalah pemuda kampung halamannya yang hijrah untuk kembali ke kampung. Di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, ia bersama istri, Iffah Hannah, menghidupkan banyak aktivitas pengetahuan dan sastra.

Raedu lebih dulu pulang. Ia mulai dengan aktivitas pustaka, perpustakaan, dan pelbagai pengembangan literasi. Awalnya Raedu bersama tim Sahabat Gajah Mada (Saga) menghidupkan pustaka di tengah-tengah penduduk pesantren.

”Dulu, pondok-pesantren, khususnya pondok pesantren, itu biasa disipai bara. Versi singkatnya, Bu Sapi, sekali, ini biasa disipai bara Kalau Bu As, ini Bara. Penajaman jadi ini nama penanya, Raedu. Menulisnya Raedu Basha,” katanya.

Sejak awalnya menulis, Raedu menghidupkan penduduk pesantren. Ia biasa menghidupkan ruang diskusi dan juga ruang baca. Ia membangun dan mengelola perpustakaan, mendirikan Forum Apresiasi Sastra Pustaka (Fasbuk) UIN Sunan Kalijaga, Jogja. Di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, yang juga almamaternya, Raedu menghidupkan banyak ruang pustaka dan kegiatan baca. Sebagian ruang baca tidak jarang melahirkan sastrawan, juga beberapa pustakawan baru yang kelak menjadi pustakawan di kampus tersebut.

Kegiatan pustaka di Fasbuk UIN Sunan Kalijaga dan di Fasbuk UII adalah sebagian dari banyak kegiatan yang dijalankannya. Raedu biasa menghidupkan kolong-kolong kampus dengan buku-buku berbahasa Jawa, berbahasa Indonesia, juga buku-buku berbahasa Inggris. Kegiatan membaca, diskusi, seringkali muncul di bawah pohon yang rindang di kampus-kampus itu.

”Kenikmatan, bukan sesuatu yang ‘neker-neker’, tetapi lebih sering menghidupkan suasana tenang, damai, dan bersahaja,” kata Raedu.

Ekonomi kreatif

Iffah Hannah atau Khanifah yang juga pegiat literasi dan ekonomi kreatif di pesantren, menceritakan upayanya yang tidak hanya sekadar pegiat literasi, tetapi juga mengelola ekonomi kreatif. Keduanya seringkali membuat usaha ekonomi mikro.

”Di Fasbuk UIN Sunan Kalijaga, kami biasa membaca bersama. Bahkan kami seringkali menulis bersama, membuat bulletin atau buletin, menulis antologi bersama. Ruang Fasbuk itu seringkali dimanfaatkan untuk kegiatan bersama dalam rangka menumbuhkan kecintaan pada dunia literasi. Itu kami lakukan untuk menghidupkan suasana yang hangat, tidak hanya literasi, tetapi juga kegiatan kreatif, berjualan kue, membuat produk dari hasil karya sendiri,” kata Iffah.

Selain mengelola Fasbuk UII, Iffah juga aktif menghidupkan berbagai ruang literasi, mengelola dan menghidupkan kegiatan ekonomi kreatif, bekerja sama dengan para mahasiswa, pelajar, dan masyarakat sekitar.

Ia mengakui bahwa di kampung, literasi seolah hanya tugas-tugas sekolah, bukan menjadi bagian kehidupan. Di dusun, banyak yang tidak mengerti apa pentingnya literasi. Seringkali juga banyak yang bertanya, apakah literasi bermanfaat bagi kehidupan mereka. Di sinilah mereka menjelaskan, bahwa literasi penting tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk kemajuan desa.

Di pesantren Annuqayah, Raedu Basha dan Iffah Hannah menghidupkan banyak kegiatan kreatif. Kegiatan kreatif itu bukan hanya sekadar menumbuhkan kecintaan pada literasi, tetapi juga menumbuhkan kecintaan pada lingkungan sekitar.

Raedu Basha alias Badrus Shaleh

Lahir Sumenep, 3 Juni 1988
Pendidikan: Ilmu Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Aktivitas:

  • Penyair, penulis, pegiat literasi
  • Pengajar di Pondok Pesantren Annuqayah
    Penghargaan:
  • Anugerah Penulisan Karya Sastra dari Pusat Pembinaan Bahasa (2021)
  • Anugerah Sastra Indonesia Award 2019
  • Anugerah Sutasoma 2015

Khanifah atau Iffah Hannah

Lahir Banyumas, 17 Oktober 1988
Pendidikan: Jurusan Ilmu Budaya, Universitas Indonesia
Aktivitas:

  • Penulis, pegiat literasi
  • Pengajar di Pondok Pesantren Annuqayah
    Penghargaan:
  • Penulis Terbaik Gading Pustaka, 2021
  • Penulis Terbaik Forum Lingkar Pena, 2017
  • Pemenang Lomba Penulisan Sastra Nasional, 2016

Naskah ini merupakan kliping Kompas, Jumat, 5 Juli 2024