Syaf Anton WR, Suarakan Madura lewat Sastra

Orang mengenal Madura dengan stereotype keras. Melalui sastra, Syaf Anton menyuarakan sisi kelembutan Madura. Sisi sederhana dan penuh cinta.

Oleh: Dahlia Irawati

Ada masa orang-orang Madura bertingkah, suar bercakap dengan terang dan menakutkan untuk mengatasi anak-anak. Sutan mengkristalisasi nilai hidup orang Madura.

Keuletan sastra Madura memang diakui pada sastra lama. Dalam perkembangan waktu, banyak juga orang Madura menulis.

Di Jogja Ria pada Pustaka, tahun 1910-1920an, ada 55 judul buku sastra Madura diterbitkan. Pekikan budaya tulisan untuk kegiatan R Syafii Anwar atau Syaf Anton (56).

Perkembangan sastra Madura tidak lepas dari keberadaan WB Sumenep, Keraton Islam mengakomodasi kehidupan masyarakat sekitarnya, termasuk dalam menulis. Saat itu berkembang jenis sastra seperti papareman dan solako. Menariknya Kesultanan Madura di Madura menganjurkan menulis. Dekade 1970-an hingga 1980-an, bacaan terdepan orang di pelosok Madura berisikan karya-karya sastra.

Kecakapan dalam menuliskan sastra itu banyak yang menjejaki dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Syaf Anton menulis karya sejak SMP (1979). Sejak itu, ia terus menulis dan mengirimkan karya ke mana-mana. Sampai SMA pada 1982, Syaf Anton pindah ke Surabaya. Ia mengirimkan puisi dan cerpen ke media-media di Surabaya, Yogyakarta, maupun Jakarta. Tahun 1978 ia diminta almarhum penyair Suripan Sadi Hutomo membantu mengasuh rubrik Balada, Harian Surabaya Pos, rubrik yang terisi naskah dari media remaja bertulis remaja berbahasa Madura.

Di ujung 1981, Syaf Anton kembali ke Sumenep. Ia menulis riang berbagai Semi Pringgitan (1985), Sanggar Seni Keris Sumenep (1985), Komunitas Sumenep, Forum RRI Surabaya, Forum RRI Malang dan Buasir (1994). Ia juga menggerakkan seni jurnal ilmiah dengan dalang seni Sumenep sejak (1985) hingga FKIP (1999).

Penulis Sumenep seharusnya bisa memaknai Kesultanan Sumenep serta mendirikan Rumah Literasi Sumenep.

“Lewat sastra, orang akan lebih mudah tersentuh. Ungkapan-ungkapan sastra bisa mengenaikan kepada jiwanya sehingga kritik sekalipun akan terdemgar santun dan lembut,” ujar Syaf Anton.

Di satu sisi, Syaf Anton mendidik para santri, ia bisa mengatur berhitung puisi selama bertahun-tahun, sesekali dengan kata-kata Madura. “Setahun ini saya bisa menulis Lanji Puisi Lanji Tulisan (2018), dan Manuk Pulang Malam (2019). Juga mengarang Prenganten Madura (2019).”

Ajak orang lain

Cinta pada ayah menorehkan lebih dari pengabdian kepada Ayahanda. Syaf Anton menghabiskan masa mudanya di pesantren Al-Amin. “Misi menulis adalah misi sosial dan budaya, pesantren dibangun untuk mencerahkan orang Madura,” ujar Syaf Anton.

Banyak penulis Madura datang dari pesantren. “Menulis adalah Pondok Pesantren Al-Amin di Rukoh. Itu luar biasa. Mengirimkan naskah dan mencetaknya,” ujar Syaf Anton. Hingga kini lahir peonco sastra dari kalangan pesantren seperti Luhher dan Sanggar Sastra Al-Amin. Di sini, para santri justru lebih tertarik pada dunia sastra ketimbang dunia pesantren itu sendiri. Mereka mengatur sastra di sana. Belakangan, Hal itu penulis sudah berhasil. Syaf Anton bersyukur Pondok Pesantren An-Nuqayah. Di sini, karya sastra Madura juga diwarnai karya-karya seni dan komunitas seni lainnya. Dari hasil berkontemplasi di kamar-kamar sunyi, lahir pula manuskrip atau puisi yang menarik dari sana.

Dengan mengendarai motor Vespa, Syaf Anton keliling Sumenep. Ia berbagi karya-karya untuk Kepulauan sekitarnya, ingin menunjukkannya. Penulis mengajarkan dalam mobil keliling karena hal yang menarik dan melintasi anak sungai Madura. Masih tetap memaknai pesantren untuk menulis.

Karya sastra tidak dilukis Syaf Anton yang produktif sejak (2000-an hingga 2024). Dengan sastra Madura lebih menarik rata-rata menerbitkan puisi terbit.

“Dengan sastra, kita bisa menyuarakan hal dengan santun dan tidak menyinggung banyak orang. Orang bisa belajar banyak hal yang mereka tidak tahu. Itulah kenapa sastra itu penting” kata Syaf Anton.

Dengan sastra, Syaf Anton tetap memetik semangatnya menjadi api berpijar di Madura. Ia memelihara harapan dengan menunjukkan karyanya memunculkan museum sastra Madura.


R Syafii Anwar atau Syaf Anton WR

  • Lahir: Sumenep, 13 Juni 1966
  • Pendidikan: SMA
  • Karir: Penulis, Sastrawan Madura
  • Prestasi: Satu Indonesia Awards 2023 untuk Sastra, Penghargaan Kebudayaan dari Pemerintah Sumenep, Penghargaan Seni Bidang Sastra (2016)