Dimas Jayasrana, Lumbung Pangan untuk Warga

Dimas Jayasrana, pegiat seni dan film yang pernah bekerja di Ruangrupa serta Institut Prancis di Indonesia, menginisiasi gerakan lumbung pangan pada April 2020. Terinspirasi tradisi jumputan beras di masa kecilnya, ia ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong melalui berbagi bahan pangan, bukan sekadar donasi uang. Lumbung pangan mempertemukan warga yang memiliki kelebihan bahan makanan dengan yang membutuhkan, sekaligus memperkuat ikatan sosial. Selain aktif di dunia film, budaya, dan berbagai komunitas sejak tahun 2000, Dimas juga terlibat dalam kegiatan sosial, seperti kelompok tani, bantuan untuk anak jalanan, serta pelatihan audiovisual bagi anak muda.

*****

Pria yang pernah bekerja di Ruangrupa sebagai Kepala Riset dan Dokumentasi, kemudian menjadi Wakil Atase Kebudayaan di Institut Perancis di Indonesia, Kedutaan Besar Perancis, ini kemudian menginisiasi lumbung pangan. Gerakan ini mempertemukan warga yang memiliki kelebihan bahan makanan meski hanya sepotong tahu-tempe dengan warga yang membutuhkan bantuan pangan. Di lumbung, warga bisa memilih bumbu dapur dan sayur-mayur sesuai dengan kebutuhan.

Pertahanan pangan

Lumbung pangan dulu mudah ditemukan di desa-desa di Indonesia. Tujuannya untuk menyimpan bahan makanan cadangan untuk digunakan terutama saat terjadi peristiwa tak terduga, seperti paceklik atau bencana. Sayangnya, kearifan lokal ini mulai dilupakan.

Dimas, yang melewati masa kecil di Jagakarsa, Jaksel, pada pertengahan tahun 80-an, masih ingat bagaimana warga menjalankan jumputan beras setiap hari. Warga meletakkan secangkir beras di depan rumah dan pengurus RT atau masjid mengumpulkannya. Beras yang terkumpul diberikan kepada warga yang kekurangan.

Kini, tradisi jumputan beras sudah sulit ditemukan di Jakarta dan diganti dengan sumbangan uang tunai, bahkan uang digital. ”Meski terlihat lebih mudah dan ringkas (dengan sumbangan uang), interaksi antarmanusianya hilang. Padahal, kalau berbagi bahan pangan, seperti beras, tempe, tahu, di situ ada sentuhan personal yang membuat kita merasa sebagai manusia seutuhnya,” ujarnya.

Dari ingatan masa kecil itu, Dimas ingin mengembalikan semangat gotong royong melalui lumbung pangan. Di lumbung pangan, masyarakat tidak hanya berbagi, tetapi juga saling memberikan kekuatan mental dan sosial. Idenya pertama kali ia realisasikan pada 24 April 2020. Ia mengumpulkan bahan pangan yang ada di warung mi instan miliknya untuk dibagikan kepada warga.

Selanjutnya, keluarga dan teman-teman ikut memberikan bantuan. Bantuan juga datang dari warga dalam bentuk bahan pangan dan lauk-lauk. ”Ini bukanlah kegiatan donasi, tetapi berbagi. Siapa pun boleh ikut,” jelasnya.

Menyebar kebaikan

Dimas lahir dan besar di Jakarta. Setamat SMA, ia pindah ke Purwokerto, Jawa Tengah, dan sempat kuliah tiga semester di Jurusan Bahasa Inggris Universitas Jenderal Soedirman.

Di Purwokerto, Dimas bergaul dengan banyak kalangan yang membawanya mengenal dunia film, seni, dan budaya. Suatu hari, seorang kawan bernama Alex Fahmi membantu Dimas meminjam kamera untuk membuat film pendek. Belakangan, film pendek itu membawa Dimas mengikuti International Short Film Festival di Hamburg, Jerman.

Ia pun terjun sepenuhnya ke dunia film. Ia membuat berbagai judul film dengan berbagai genre, mulai dari dokumenter, eksperimental, hingga film pendek. Beberapa judul di antaranya adalah Kepada yang TerhormatPlease Come to My Dream, I want to Hurt YouTakbir, dan Garuda Power.

”Alex dan teman-teman memberikan pengetahuan mendasar untuk melangkah. Tanpa mereka saya lost. Ini menginspirasi saya untuk berbagi, agar kebaikan itu menyebar,” ujar Dimas.

Dimas berpengalaman membuat berbagai judul film dengan berbagai genre, mulai dari dokumenter, eksperimental, hingga film pendek. Ia mengelola proyek seni budaya, termasuk mengelola pertunjukan, berjalan bersamaan dengan keterlibatannya di jejaring komunitas film di Indonesia sejak tahun 2000. Pada 2007 hingga 2018, ia aktif membantu CLC Purbalingga untuk mengelola Festival Film Purbalingga. Ia juga mendirikan PT Selasar Kebudayaan Nusantara, fokus pada media cerita, pengelolaan, dan database seni budaya Nusantara.

Sejak tahun 2000, Dimas banyak terlibat dalam berbagai proyek seni budaya, pengelolaan pertunjukan, dan pengembangan jejaring komunitas film. Ia juga mendirikan Spektakel.id, perusahaan yang fokus pada media, perjalanan, dan pengembangan bisnis seni budaya.

Selain fokus berkesenian, Dimas terpanggil berbagi pengetahuan dengan masyarakat kebanyakan. Ia, antara lain, mendirikan kelompok tani di daerah Banyumas dan membantu anak-anak jalanan di Purwokerto pada 1999-2002. Hingga kini, Dimas juga aktif memberikan lokakarya dan pelatihan audiovisual untuk anak-anak muda. Menurut Dimas, film dan kesenian adalah alat untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Dimas tak hanya melangkah. Ia melangkah jauh.

Sumber: Kompas edisi 19 Agustus 2020 di halaman 16 dengan judul “Dimas Jayasrana, Lumbung Kebaikan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *