
Aga, Musik, dan Pemikiran
Sri Hanuraga (Aga), pianis jazz Indonesia, menemukan panggilan musiknya setelah terpukau oleh Keith Emerson pada masa SMP. Perjalanannya berlanjut melalui Farabi, bimbingan Riza Arshad dan Indra Lesmana, hingga studi jazz enam tahun di Conservatorium van Amsterdam. Sepulangnya ke Indonesia, Aga aktif tampil, merilis proyek musik seperti Meta dan Indonesia Vol. 1–2, serta mengajar sejak 2015. Ia memandang musik sebagai pemikiran yang diekspresikan lewat bunyi dan mendorong orisinalitas jazz Indonesia. Melalui metode pengajarannya, ia menekankan pembentukan “kosa bunyi” jazz dan pentingnya menemukan warna musikal sendiri.
*****
Sosok idola yang dipuja sejak remaja menyematkan mimpi yang terus dihidupi oleh Sri Hanuraga (34). Meski berada di ceruk sempit yang tak banyak dilirik orang, pianis jazz ini terus melaju.
Aga, begitu Sri Hanuraga biasa disapa, terus melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang diejawantahkan melalui musik. Ia juga tetap berdedikasi memberdayakan para pembelajar musik.
Perjumpaan dengan Aga terjadi secara virtual melalui aplikasi Zoom pada Selasa (14/7/2020). Meski ”hanya” berjumpa secara virtual, Aga lancar mengisahkan perjalanan musiknya. Salah satu yang terpenting adalah saat dia memutuskan untuk menjadi musisi.
”Bener-bener saat lihat Keith Emerson. Dulu di laser disc, lihat konser dia. Pertama kali lihat, saya langsung flip. Langsung tahu mau main musik,” ungkap Aga.
Keith Emerson adalah kibordis pentolan band rock progresif Emerson, Lake & Palmer asal Inggris. Kepiawaian Emerson memainkan kibor dan piano membuat Aga kepincut, lalu serius belajar piano.
Kala itu, Aga duduk di kelas II SMP. Sebelumnya, meski sudah belajar gitar dan piano, tak pernah terlintas dalam benaknya serius menjadi musisi.
”Tadinya enggak suka main piano karena suka diledekin sama teman, kayak cewek. Nah, Keith Emerson ini, kan, sangar banget. Kayak Jimi Hendrix-nya keyboard-lah. Dari situ akhirnya tertarik banget sama musik dan mulai belajar piano serius,” ujar Aga.
Di tengah perjalanan, Aga menemukan bahwa Emerson ternyata sangat terpengaruh oleh musik jazz. Mengikuti jejaknya, Aga pun memutuskan belajar jazz.
Tekadnya makin bulat setelah dia menyaksikan simakDialog di Gedung Kesenian Jakarta. Lewat obrolan dengan pentolan simakDialog, Riza Arshad (alm), Aga lalu memulai perjalanannya dengan piano di Sekolah Musik Farabi milik Dwiki Dharmawan. Ia juga belajar kepada Indra Lesmana.
”Akhirnya juga belajar jazz sama Mas Indra, yang tujuannya sebenarnya supaya bisa ’jadi’ Keith Emerson. Tapi malah jatuh cinta sama musik jazznya, sih,” ujarnya.
Melihat bakatnya, pria kelahiran Jakarta ini didorong untuk belajar musik secara formal di bangku kuliah. Persiapan yang matang siap membawanya ke Berklee School of Music. Tetapi, kebakaran yang menimpa rumah keluarga memupus harapannya. ”Wacana untuk sekolah musik sempat hilang,” ujarnya.
Aga pun banting setir. Ia kuliah di Universitas Atmajaya Jurusan Teknik Elektro. Pilihan ini ”lagi-lagi” dipengaruhi idolanya, Emerson, juga pianis idolanya yang lain, Herbie Hancock, asal Amerika Serikat. Seperti Emerson, Herbie juga kuliah di teknik elektro. Sebuah pilihan yang diakui Aga ”konyol”.
Namun, garis hidup terus menuntun Aga pada musik. Di masa awal kuliah, Aga sempat mengikuti master class yang digelar Erasmus Huis dari kuartet asal Belanda, Ronald Douglas Quartet. Kuartet ini beranggotakan pianis Belanda ternama, Rob van Kreeveld. Aga kembali didorong untuk masuk sekolah musik. Kali ini di Belanda.
”Selama ini, keraguan untuk kuliah di Eropa, apalagi jazz, karena ngeliat musisi Eropa yang datang ke Jakarta itu jazznya beda dengan Amerika. Enggak seperti yang saya pengin. Tapi, grup ini bener-bener American banget,” kata Aga. Dia pun lolos tes dan diterima di Conservatorium van Amsterdam.
Perjalanannya di Belanda merombak tujuan dan pandangannya terhadap musik. Bebop yang semula menjadi gaya yang ingin ia kuasai pun terlupakan karena dirinya mulai terpapar berbagai jenis aliran musik yang justru memperkaya rasa bermusiknya.
”Akhirnya, buat saya, musik itu kayak enggak ada batasan genre. Musik jadi luas banget,” kata Aga yang selama di Belanda kerap mengikuti tur musik, tampil di berbagai festival, serta mengikuti berbagai kompetisi musik
Selama enam tahun, Aga mengenyam pendidikan di ”negeri kincir angin” itu mulai dari jenjang strata pertama hingga magister. Setelah menuntaskan studi, Aga sempat tinggal dan bekerja selama dua tahun di Belanda. Kemudian, karena alasan personal, ia memilih kembali ke Indonesia.
Bukan musik mudah
Di Tanah Air, Aga terus menemukan jalan bermusik. Ia memang bukan sama sekali baru di dunia jazz Tanah Air. Sejak di Farabi, duduk di bangku SMA, Aga sudah mulai naik panggung. Di sela-sela liburan kuliah pun, ia kerap tampil di sejumlah festival, seperti Java Jazz Festival dan Ngayogjazz. Aga sempat pula membuat konser dan merilis album bersama Riza Arshad. Dia juga menggelar lokakarya musik.
Langkahnya yang relatif mulus menembus belantara musik, terutama jazz, diakuinya karena pertemuan dengan orang-orang yang tepat. Padahal, musiknya, yang bukan modern jazz, disadari Aga bukan musik yang mudah diterima.
Salah satu contohnya adalah proyek musiknya bersama gitaris Gerald Situmorang di album Meta. ”Musik saya di situ sebenernya berat banget. Tapi, lagu-lagu Gerald yang nge-balance,” kata Aga.
Contoh lain adalah proyek trio Sri Hanuraga feat Dira Sugandi. Jika bukan Dira yang menyanyi, Aga yakin, musiknya akan sangat berat dicerna. Toh, sambutan publik sangat positif. ”Jadi, somehow saya selalu punya kesempatan untuk men-deliver musik saya,” ujarnya.
Proyek bersama Dira itu berawal dari penampilan mereka di Frankfurt Book Fair 2015 membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia yang diaransemen jazz. Proyek itu berlanjut dengan merilis lagu-lagu yang mereka garap itu di album Indonesia Vol 1. Album ini berlanjut di Indonesia Vol 2 yang rilis pada November 2019.
Berbeda dengan album pertama yang meramu musik tradisional dengan aransemen jazz, di album kedua, musik tradisional justru menjadi konsep dasar yang memberi warna dan melahirkan jazz secara berbeda. Praktik ini mengilhami Aga setelah ia mengajar di salah satu universitas swasta di Jakarta sejak 2015. Mengajar adalah passion Aga yang lain.
”Musik itu pemikiran yang disampaikan secara bunyi. Jadi, karena saya ngeliat musik sebagai pemikiran, saya mesti menambahkan sesuatu di atas pemikiran orang-orang yang pernah saya pelajari. Itu goal saya yang paling besar, menemukan warna sendiri,” ungkapnya.
Pandangan ini juga melahirkan metode pengajaran yang kini diterapkan pada mahasiswanya. Laiknya belajar bahasa, yang dilakukan pertama adalah meniru. Selama dua tahun pertama, dia memaksa mahasiswanya untuk hanya memainkan kosa bunyi jazz. Jazz, seperti dikatakan Aga, punya kosa bunyinya sendiri.
”Praktik improvisasi di jazz, semua selalu ngajariplay what you hear. Tapi, kalau bunyi di kepalanya belum jazz, ya, keluarnya bukan jazz,” ujarnya.
Melalui metode ini, Aga juga terus menggali ciri dan warna agar jazz Indonesia memiliki orisinalitas. Menurut dia, musik di Indonesia sangat berkiblat pada Barat. Tidak ada pemikiran baru sama sekali.
”Ini bukan masalah bagus atau enggak. Ini lebih masalah orisinalitas. Menurut saya, ini mesti dimulai sama generasi baru dan mesti diubah. Kenapa kita nyontek terus? Kenapa enggak ambil konsepnya? Harusnya kita bisa melihat metode bekerja yang sama, lalu dilakuin ke musik kita,” imbuhnya.
Aga sudah memulai. Ukuran perjalanan karier bagi Aga bukan dari kesuksesan materi atau variabel popularitas lain. Baginya, ini soal perkembangan pemikiran.
Sumber: Kompas edisi 26 Juli 2020 di halaman 8 dengan judul “Aga, Musik, dan Pemikiran”.
Leave a Reply