Riri Riza, Meneladani Usmar Ismail

Dunia perfilman Indonesia bergerak sirkuler, dengan krisis yang berulang. Sutradara Riri Riza memaknai pasang surut tersebut dengan meneladani ketangguhan sineas legendaris, terutama Usmar Ismail. Menurutnya, Usmar menghadapi tantangan berat sejak masa revolusi, keterbatasan pasar, dominasi film impor, hingga gejolak 1965. Semangat itu diteruskan oleh Sjumandjaja, Teguh Karya, dan Arifin C Noer. Riri menyinggung kolapsnya sinema pada 1990-an, kebangkitan pascareformasi lewat Kuldesak, lalu pandemi. Ia mengapresiasi sineas yang terus berkarya dan tengah menggarap film thriller Paranoia, diproduksi saat pandemi, sebagai refleksi kegelisahan zaman. Ia menekankan pentingnya memulai kembali, menjaga keyakinan pada film sebagai elemen kehidupan bersama di tengah ketidakpastian masa depan.

*****

Dunia perfilman nasional tak berjalan linear, melainkan sirkuler. Riri Riza (50) pun memaknai pasang surut sinematik, termasuk masa pandemi, yang berulang setiap beberapa masa. Sineas tersebut menjalin benang merah ketangguhan sutradara-sutradara legendaris dengan kalabendu yang dilaluinya.

”Usmar Ismail, misalnya, berjuang saat revolusi,” kata Riri seusai acara Panjang X Lebar, program menonton cuplikan film yang pemutarannya tertunda, di Jakarta, pekan lalu. Di masa perjuangan dan setelahnya, Usmar harus berkutat dengan ekonomi yang baru bergerak.

”Saya yakin, sekitar 70 tahun lalu, Usmar mengalami situasi seperti sekarang. Keterampilan belum seberapa. Pasar juga masih lemah,” katanya. Usmar melewati Perang dingin, masa bioskop-bioskop dipenuhi film impor, hingga karut-marut tahun 1965.

”Tahun ini, 100 tahun kelahiran Usmar diperingati. Semangatnya menghadapi masa-masa sulit perlu diteladani. Saya selalu menengok (ke Usmar) saat terjadi krisis,” ucap Riri. Ia lantas menyebut Sjumandjaja, Teguh Karya, dan Arifin C Noer yang melanjutkan spirit tersebut.

”Sinema Indonesia lalu kolaps pada tahun 1990-an. Reformasi dimulai dan saya bikin Kuldesak. Lama-lama stabil, eh, datang pandemi,” ujarnya. Riri mengapresiasi rekan-rekannya yang meyakini film sebagai elemen penting dalam kehidupan dengan tetap berkarya.

”Ya, harus dimulai lagi. Saya pun sedang menggarap Paranoia yang rencananya diluncurkan sebelum September 2021,” ujarnya.

Karya bergenre thriller atau kisah mencekam itu diproduksi saat pandemi. Riri merefleksikan film tersebut dengan situasi saat ini yang membawa kerisauan.

Sumber: Kompas.id, Riri Riza Meneladani Usmar Ismail, 07 Apr 2021 05:36 WIB 

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *