Naya Anindita, Toleransi pada Diri Sendiri

Sutradara Naya Anindita ingin berkarya dengan pesan jujur tentang toleransi dan penerimaan diri. Lewat Imperfect The Series, ia menyoroti standar kecantikan di Indonesia yang kerap membatasi perempuan pada tubuh kurus, kulit putih, dan rambut lurus. Naya mengajak masyarakat merayakan perbedaan serta kekurangan sebagai bagian dari keberagaman. Ia menyadari para pemain pun memiliki rasa tidak percaya diri, dan proses produksi menjadi terapi untuk belajar menerima diri. Meski merasa cukup toleran pada orang lain, Naya mengaku sulit bertoleransi pada diri sendiri dan belajar menghargai kelebihan maupun kekurangannya.

*****

Sutradara Naya Anindita (32) ingin berkarya dengan membawa pesan yang jujur. Salah satunya lewat film Imperfect The Series, Naya ingin menyampaikan pesan supaya kita bisa bertoleransi pada perbedaan yang dimulai dari kesadaran diri sendiri.

Bagi Naya, dia tertarik untuk merefleksikan standar kecantikan. Dia ingin membukakan kesadaran tentang standar kecantikan baru sebagai bagian dari merayakan perbedaan dan kekurangan. ”Sekarang di Indonesia, ada stigma, perempuan cantik harus kurus, putih, rambut lurus. Pas ku tanya-tanya dengan pemain, mereka juga merasa insecure dengan yang dipunyai (masing-masing). Main di film buat mereka jadi terapi menerima diri,” ujar Naya di webinar ”Gue Udah Toleran Belum, Sih?”, awal Juni 2021 lalu.

Jika ditanya soal toleran, Naya yang pernah menyutradari film Eggnoid : Cinta & Portal Waktu mengaku dirinya tipe orang cukup toleran dengan orang-orang di sekitarnya. Justru, Naya merasa toleransi terhadap diri sendiri yang kecil tidak mudah untuk menerima kekurangan diri. ”Pas bicara dengan diri sendiri, aku merasa susah menerima kekurangan dan kritis pada diri sendiri,” ujar Naya.

Naya mengaku justru dirinya malah belajar dari Imperfect The Series yang ditayangkan di WeTV sejak awal 2021. Dia mendapat pencerahaan jika toleransi dalam keberagaman tidak hanya dengan teman, tetapi juga dengan diri sendiri. ”Jadi, terapi buat aku untuk menerima kekurangan dan kelebihan. Aku dipuji aja enggak nyaman, lho. Di kepalaku bukan gue, itu kerja tim. Aku enggak layak menerima (pujian itu),” ujar Naya.

Sumber: Kompas edisi 29 Juni 2021 di halaman 16 dengan judul “Toleransi Diri Sendiri”.

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *