
Diana Sastra, Kepedulian Sang ”Ratu Pantura”
Penyanyi tarling dangdut Diana Sastra (42), “Ratu Tarling” Pantura, menghadapi masa sulit selama pandemi Covid-19. Meski kehilangan panggung langsung dan pendapatan, Diana tetap kreatif dengan menggelar konser daring via YouTube, menyapa penggemar hingga luar negeri, sekaligus menghidupi kru dan menggalang donasi untuk warga terdampak Covid-19. Berasal dari keluarga sederhana, ia mengawali karier dengan perjuangan keras, akhirnya menapaki puncak kesuksesan. Diana juga peduli musisi tarling lain dan membina generasi baru penyanyi. Meski sukses, ia menolak politik yang mengkhianati prinsip rakyat. Kini, ia ingin terus berkarya, melayani penggemar, dan memberi manfaat bagi sesama.
*****
Lebih dua dekade menggeluti kesenian gitar-suling atau tarling, tahun ini adalah yang tersulit bagi penyanyi Diana Sastra (42). Namun, dia belum menyerah. ”Ratu Tarling” pantura ini ingin terus menemani hidup rakyatnya dan rekan-rekan seniman di tengah pandemi.
Dari studio musik dekat kebun jati di Desa Megu Gede, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (30/5/2020), Diana menyapa penggemarnya di berbagai daerah hingga negeri seberang. Dia bernyanyi diiringi penabuh gendang dan pemain keyboard via siaran langsung Youtube.
Pimpinan grup Dian Prima Management, itu, tampil dalam acara ”Pojok Sembok” pada sore hari dan ”Diana Sastra Show” di malam harinya. Dia membawakan lagu tarling dangdut berbahasa Cirebon-Indramayu yang dilengkapi humor, khas pertunjukan tarling. Ia juga menghadirkan penyanyi pantura lain.
Antusiasme penggemar tampak dari kolom komentar yang heboh sebelum acara mulai. Mereka bagaikan mengisi absen, seperti ”Karawang hadir”, ”Cirebon hadir”, bahkan ”Singapura dan Arab hadir”. Tak sedikit juga yang menyawer daring via transfer, dari Rp 25.000 hingga Rp 500.000, bahkan lebih. Sebagai gantinya, Diana akan menyebut nama penyawer dan menyanyikan khusus lagu pesanannya.
Begitulah cara pemilik akun Youtube dengan lebih dari 105.000 pelanggan ini mendekatkan diri dengan fans yang sangat mungkin jenuh di rumah selama pandemi. Program itu juga untuk menghidupkan anggota grup tarling dangdutnya di masa pandemi, sekaligus memanfaatkan jaringan Wi-Fi di rumahnya. ”Kan sudah bayar. Ha-ha-ha,” seloroh perempuan berambut pendek yang kini berwarna biru itu.
Diana merintis konser tarling dangdut daring sejak Covid-19 merebak. Sejak 1 April, setidaknya ia tampil tiga kali sepekan. Waktu berbuka puasa dan sahur dipakai menyapa penggemar. Tema acara pun beragam, dari peringatan Hari Kartini hingga mengenang maestro penyanyi campursari Didi Kempot yang sempat duet bersamanya.
Kehilangan Panggung
Kreativitas itu timbul di tengah pandemi yang merenggut mata pencarian banyak seniman pantura. Kegiatan yang mengumpulkan banyak orang dilarang.
Terakhir, Diana tampil langsung di panggung pada acara hajatan warga 24 Maret lalu. Panggilan pentas lainnya terpaksa mundur hingga Agustus mendatang. Padahal, setiap bulan ia minimal mengisi enam sampai tujuh panggungan (panggilan pentas).
Sekali tampil, grupnya bisa dibayar Rp 30 juta, tergantung lokasi hajat. Tarif tersebut sudah termasuk panggung, sound system, jasa live streaming, transportasi, dan upah untuk lebih dari 30 kru.
Kini, gudang berukuran 580 meter persegi tempat penyimpanan perlengkapan panggung pun sepi.
Akan tetapi, asam garam kehidupan telah mengajarkannya untuk tak menyerah. Konser daring setidaknya bisa membantu pemasukan sebagian krunya.
Ia juga mencairkan tabungannya demi membayar tunjangan hari raya para anggotanya. Bahkan, ibu tiga anak ini turut menebalkan rasa solidaritas di tengah krisis saat ini.
Lewat konser daring, pemilik 35 album lagu ini mengumpulkan donasi lebih dari Rp 3 juta untuk dibagikan kepada sukarelawan Covid-19. Ia juga menggalang donasi masker untuk penarik becak dan warga rentan lainnya.
”Kami ingin terus berkarya dan bermanfaat,” kata Diana yang sempat dirawat dua hari di rumah sakit karena kelelahan.
Kaca Kehidupan
Jauh sebelum pandemi, sejak 2013, Diana yang kini yatim piatu tak lupa menyantuni anak yatim saat konser. Lagunya berjudul ”Jeritan Anak Yatim” dan ”Mimi (Ibu)” merupakan gambaran perasaannya. ”Anak yatim itu seperti kaca bagi kehidupan saya,” kata Diana yang ditinggal meninggal ayahnya tahun 1982, saat ia baru berusia empat tahun.
Diana lahir dalam keluarga sederhana. Orangtuanya penjual kue di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Setelah ayahnya berpulang, ibunya kembali ke kampung di Cirebon. Di sana, ibunya jualan nasi di pinggir jalan, depan pabrik roti.
Begitulah perjuangan ibunya untuk menyambung hidup anak-anaknya. Diana anak bungsu dari sepuluh bersaudara.
Tak jarang, Diana tidur beralaskan kardus di sebelah oven pabrik roti. Kadang, ia jualan kue gorengan dengan penghasilan Rp 25. Ikut makan bakso atau nonton bioskop bersama teman-temannya sesuatu yang mustahil kala itu.
”Saya malu ketika SPP nunggak kadang sepuluh bulan. Padahal, SPP SMP cuma Rp 3.000 per bulan,” kenangnya.
Akan tetapi, ia tak mengeluh. Kegigihan sang ibu membuatnya belajar banyak hal. Ia memilih menghabiskan waktu dengan bermain dan bernyanyi.
Saking sukanya tarling dangdut, ia kerap mencuri kesempatan menonton konser dangdut dengan memegang tangan orang yang lebih tua meski tak dikenal. Maklum, hansip acap kali melarang anak-anak tanpa pengawasan orangtua menonton tarling.
Pada 1997, didorong sepupunya, ia naik panggung dengan ikut lomba nyanyi. Namun, jangankan juara, masuk final saja tidak. Suaranya yang cadel jadi penghalang. Meski demikian, salah satu juri belakangan mengajaknya tampil.
Ketika masa ujian SMA akhir tahun saat itu, dengan suara seraknya, Diana pun mulai terjun sebagai penyanyi. Perlahan, cadelnya pun lenyap.
Jalan demi jalan menuju puncak pun terbentang. Tak hanya pentas di sejumlah kota di Tanah Air, suaranya pun membahana di Taiwan hingga Korea Selatan.
Diana sendiri kaget dengan pencapaiannya. Apalagi, ia bukan keluarga seniman. Diana yakin, selain perjuangannya, Tuhan juga sudah mengatur semuanya.
Rumah besar bertingkat, studio musik, empat set panggung, hingga mobil mewah kini menjadi sederet bukti buah keringatnya. Lebih dari itu, Diana ingin meninggalkan warisan sebagai seniman tarling.
”Beberapa warga pernah mengundang saya nyanyi untuk acara ulang tahun keenam anaknya. Eh, waktu si anak menikah nanggap saya lagi. Padahal, banyak bintang baru yang lebih muda,” ujar pelantun ”Remang-remang”, lagu yang konon digemari Gus Dur itu.
Ke depan, Diana menargetkan grupnya bisa berjalan mandiri tanpa mengandalkan dia seorang. Ia pun memupuk generasi baru, empat sampai lima penyanyi. ”Saya mau di belakang layar saja. Tetapi, tetap bernyanyi selama masih bisa,” ujarnya.
Diana juga kerap menyuarakan nasib musisi tarling yang tak setenar karyanya. Tidak jarang, ia membantu sebisanya jika ada musisi yang sakit.
Keinginan membela sesama seniman ini sempat membuat dia tergoda masuk dunia politik. Fajar Andianto (40), suami Diana, mengisahkan, seorang oknum bahkan sempat menawarkan bantuan untuk membeli suara.
Namun, ia dan Diana menolak. ”Isin (malu). Masak dulu nyanyi lagu ’Bujanger Rakyat’ tetapi mengkhianati rakyat,” kata Fajar menirukan ungkapan istrinya.
Lagu yang muncul pada Pemilu 2014 itu mengingatkan para pemimpin sebagai pelayan rakyat, bukan majikan. Simak penggalan liriknya: ”Ngomong muluk-muluk/ janjine si empuk-empuk/ dadi pemimpin aja uncang-uncang angguk/ rakyat angger ngeplak bathuk/… (”Bicara tinggi/ janjinya yang manis-manis/ Jadi pemimpin hanya manggut-manggut/ rakyat tetap saja tepuk jidat/…”).
Kini, di tengah pandemi, sang ratu tetap ingin melayani. Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga hidup orang-orang di sekitarnya.
Sumber: Kompas.id, Diana Sastra Kepedulian Sang ”Ratu Pantura”, 12 Jun 2020 03:21 WIB
Leave a Reply