M Jusuf Kalla, Ikhlas dan Menikmati Proses

Mantan Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla (78) tetap aktif di berbagai kegiatan internasional meski telah lepas dari jabatan kenegaraan. Ia terlibat sebagai juri Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia, yang dimenangkan oleh Sekjen PBB Antonio Guterres dan Latifa Ibn Ziaten. Selain itu, JK menjadi mediator negosiasi intra Afghanistan antara pemerintah dan Taliban, termasuk bertemu Mullah Abdul Ghani Baradar. Meski situasi Kabul berisiko tinggi, JK menikmati proses perjalanan dan dialog damai. Ia menekankan pentingnya ikhlas dalam menghadapi risiko. Kini, JK dan tim merencanakan pertemuan ulama untuk mendorong percepatan negosiasi damai, menunggu kondisi pandemi membaik.

*****

Lepas dari tugas kenegaraan sebagai Wakil Presiden, tidak berarti Muhammad Jusuf Kalla rehat dari berbagai kegiatan. Mantan Wakil Presiden RI berusia 78 tahun itu, selain aktif di Palang Merah Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia, kini juga sering bolak-balik Vatikan, Doha-Qatar, Abu Dhabi-Uni Emirat Arab, hingga Kabul, Afghanistan.

Kegiatannya di Abu Dhabi dan Vatikan terkait dengan penjurian Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia (Zayed Award for Human Fraternity). Bersama lima juri lain, yang terdiri dari tokoh agama, mantan komisioner Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga mantan kepala negara, JK berdiskusi untuk memilih penerima penghargaan, yang akhirnya jatuh ke Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Latifa Ibn Ziaten, seorang ibu berdarah Maroko berkewarganegaraan Perancis.

Adapun di Doha dan Kabul, JK didaulat untuk menjadi mediator proses negosiasi intra Afghanistan antara pemerintah dan Kelompok Taliban. Beberapa pekan lalu, JK bertemu orang nomor dua Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar. Setelah itu, JK bertemu dengan tim negosiasi Pemerintah Afghanistan di Kabul.

Situasi Kabul yang masih belum aman, disampaikan JK dalam perbincangan dengan Kompas beberapa waktu lalu, tidak menciutkan nyalinya. Ia tetap dapat menikmati perjalanannya itu. Di Kabul, tidak jarang, konvoi kendaraan yang ditumpanginya harus berputar-putar mencari rute yang paling aman untuk mencapai tujuan.

”Ikhlas dan nikmati. Itu yang paling penting,” katanya.

Bertemu dengan kawan-kawan di Afghanistan dan menyempatkan makan dengan mereka baginya adalah kepuasan meski di tengah jamuan ada informasi mengenai bom dan sebagainya.

Akan tetapi, kenikmatan tertinggi bagi JK adalah bila upayanya dan tim untuk mendamaikan sesama berhasil. ”Itu kenikmatan yang paling tinggi untuk mendamaikan pihak berkonflik,” kata JK.

Untuk mendorong percepatan negosiasi damai antara Pemerintah Afghanistan dan Kelompok Taliban, kini, JK dan tim tengah merancang pertemuan para ulama sebagai kelanjutan dari pertemuan yang sama di Bogor beberapa tahun lalu. Hanya saja, waktunya belum ditentukan karena pandemi Covid-19 masih melanda seluruh dunia, juga Indonesia.

Sumber: Kompas.id, M Jusuf Kalla Ikhlas dan Menikmati Proses, 13 Feb 2021 05:10 WIB 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *