Valentina Sokoastri, Memberi Pendidikan Karakter untuk Anak

Valentina Sokoastri mendirikan Sanggar Juara pada 2009 saat masih mahasiswa IPB setelah melihat banyak anak di sekitar kampus tidak bersekolah. Bersama teman-temannya, ia mengajarkan pendidikan karakter setiap akhir pekan dan mendorong anak-anak kembali ke sekolah melalui program kakak asuh. Sanggar juga membantu sekolah membuat perpustakaan, mengadakan pelatihan soft skills, serta menyelenggarakan festival seni. Hingga kini lebih dari 250 anak telah melanjutkan pendidikan. Valen, yang kini menjadi Dewan Pengarah, terus mencari donatur agar program berjalan. Berbasis cinta lingkungan dan kewirausahaan, sanggar juga mengajak anak menanam sayuran. Valen sempat studi S-2 di AS melalui beasiswa USAID.

*****

Valentina Sokoastri (30) tak mau berdiam diri melihat banyak anak yang tidak bersekolah di dekat kampus Institut Pertanian Bogor. Sejak menjadi mahasiswa, dia mengajarkan pendidikan karakter kepada anak-anak di luar sekolah.

Tahun 2009, Valentina Sokoastri yang akrab disapa Valen bersama empat temannya, Adelia Ruspit, Yuris Stiawan, Ashraf Asmat, dan Faris Priyanto, mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Kemasyarakatan di Insitut Pertanian Bogor. Waktu itu, Valen masih duduk di tingkat II Jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB.

”Saat kami masih kuliah di IPB, masih banyak anak pedagang makanan atau pemulung yang ada di sekitar kampus saat jam-jam sekolah. Miris melihat mereka. Kami berpikir bagaimana caranya, ya, membantu mereka, lalu berdirilah Sanggar Juara,” kata Valen ketika dihubungi di Bogor, Jumat (12/6/2020).

Lewat komunitas ini, Valen mengajak mahasiswa untuk lebih peduli pada lingkungan sekitarnya, terutama di sekitar kampus IPB Dramaga, Bogor. Setiap akhir pekan, mereka mengajak anak-anak belajar berbagai hal, terutama terkait dengan pendidikan karakter, seperti sikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan kreatif.

”Awalnya tidak mudah karena banyak orangtua yang tidak mau anaknya belajar bersama kami. Pelan-pelan kami mengajak mereka supaya anaknya masuk sekolah,” ujarnya.

Kedekatan antara mahasiswa dan anak-anak lewat program kakak asuh membuat penyampaian materi pengajaran lebih mudah. Biasanya sanggar akan membuat tema pengajaran setiap tahun yang berubah sesuai dengan kebutuhan anak-anak.

Selain mengajar anak-anak kurang mampu, komunitas bekerja sama dengan berbagai sekolah dasar untuk membuat perpustakaan. Beberapa sekolah tersebut berada di Kabupaten Bogor, yaitu SDN Situ Leutik Dramaga, SD Jasinga, SD Tambilung, dan SD Pabuaran. Valen menceritakan, saat itu sanggar mendapat dana bantuan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan sebesar Rp 7 juta.

”Untuk mahasiswa, uang itu lumayan besar. Kami belikan buku-buku lalu bekerja sama dengan sekolah, meminjam ruangan yang dipakai untuk perpustakaan. Selepas sekolah, kami mengajak anak-anak untuk belajar soft skills. Kami mendorong anak-anak kurang mampu menjadi mandiri melalui pendidikan, kewirausahaan, dan dukungan ekonomi,” kata Valen.

Kegiatan lain yang mendorong kreativitas anak-anak adalah Sanggar Juara Festival, pergelaran seni untuk menyalurkan minat dan bakat anak-anak. Bukan hanya untuk anak-anak, sanggar juga memberikan pelatihan kepada para orangtua. Berbagai tema diberikan kepada orangtua seperti pengelolaan keuangan keluarga dan pengasuhan.

Hingga kini, ada sekitar 250 anak asuh Sanggar Juara yang sudah melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Sebagian dari mereka memilih untuk menikah setelah lulus SMA. ”Beberapa di antaranya masih banyak yang berhubungan dengan kami. Saya melihat kehidupan mereka juga lebih baik daripada orangtuanya,” ujar Valen.

Mengajar anak-anak

Keinginan Valen untuk mengajar sebenarnya datang dari orang-orang sekitarnya. Dia menceritakan, sebagian besar keluarganya berprofesi sebagai guru. ”Saya senang melihat mereka bergerak di bidang pendidikan. Di situlah muncul minat mengajar. Jujur saja, Sanggar Juara menjadi tempat pertama mengajar,” ujar ibu satu anak ini.

Dengan status mahasiswa perantau dari Lampung, Valen berusaha mewujudkan mimpinya untuk mengabdi di bidang pendidikan. ”Kami tidak punya tempat tetap untuk beraktivitas. Kalau ngumpul, ya, bisa di mana saja, koridor kampus pun bisa jadi tempat diskusi. Kalau turun ke lapangan, kami ke sekolah-sekolah,” ujarnya.

Sanggar Juara yang didirikannya terus dijalankan bersama timnya. Mahasiswa yang direkrut untuk menjadi pengurus terus berganti, dan Valen setia mendampinginya hingga sanggar bisa berjalan sampai sebelas tahun. Kini, Valen bertindak sebagai Dewan Pengarah.

Dia masih terus mencari donatur supaya organisasi bisa terus diregenerasi yang dijalankan 20 pengurus mahasiswa dan sekitar 50 anak didik bisa terus berjalan. Program lain yang masih berjalan adalah satu kakak asuh satu adik asuh. Kakak asuh berkomitmen mendanai uang sekolah adik asuh selama setahun dan dapat diperpanjang.

”Saya melihat salah satu permasalahan yang paling lekat dengan adik-adik asuh selain keterbatasan ekonomi yaitu kurangnya kecintaan lingkungan. Salah satu moto Sanggar Juara adalah cinta lingkungan yang berbasiskan entrepreneurship. Sesekali kami mengajak anak-anak didik untuk menanam benih sayuran dan buah-buahan yang hasilnya dapat dijual,” kata Valen.

Selama sanggar berjalan sebelas tahun, Valen pernah meninggalkannya selama dua tahun untuk kuliah S-2 di Amerika Serikat. ”USAID Prestasi menawarkan salah satu perwakilan dari akademisi, profesional, dan aktivis yang dinilai berkontribusi untuk Indonesia. Terpilihlah saya mewakili Sanggar Juara Foundation untuk berkuliah di jurusan Workforce Development and Education, The Ohio State University,” kata Valen yang berharap bisa memberikan dampak positif untuk sanggarnya.

Sumber: Kompas.id, Valentina Sokoastri Memberi Pendidikan Karakter untuk Anak, 15 Jun 2020 02:29 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *