Rama Widi, Mengobati Rasa Kangen
Rama Widi, pemain harpa Twilite Orchestra, menjadikan nasi goreng sebagai makanan favorit, terutama saat kuliah harpa di Vienna Conservatory, Austria (2004–2010), untuk mengobati rindu Tanah Air. Ia gemar memasak nasi goreng karena praktis dan memberi ruang kreativitas, dari yang sederhana hingga rumit. Rama menghindari rasa asin berlebih dari garam dengan menambahkan minyak wijen serta isian ayam suwir atau kornet, dan tidak menyukai nasi goreng yang lembek. Nasi goreng juga menyimpan kenangan nongkrong bersama teman musisi di Menteng. Selama pandemi, Rama menikmati waktu bersama keluarga, berolahraga, dan mencoba hal baru sebagai berkah terselubung.
*****
Nasi goreng menjadi makanan favorit bagi pemain harpa Rama Widi. Apalagi, ketika Rama menjalani kuliah studi harpa di Vienna Conservatory, Austria, yang berlangsung pada 2004-2010. Kala itu, masakan nasi goreng buatan sendiri menjadi menu andalan ketika dibekap rindu pada Tanah Air.
”Makanan favorit karena gampang menyajikannya. Sering banget bikin, bisa mendorong kreativitas saat memasak nasi goreng. Bisa simpel dan bisa ribet juga masaknya,” ujar harpis Twilite Orchestra yang memang hobi memasak ini saat dihubungi pada Jumat (30/4/2021).
Agar enak, Rama berusaha agar rasa asin nasi goreng tidak berasal dari garam yang terlalu banyak. Rasa asin biasanya dihadirkan dari penambahan minyak wijen. Ia juga memanfaatkan bahan campuran, seperti suiran ayam atau daging kornet, yang juga menghadirkan rasa asin.
”Jangan kebanyakan kecap, jadi manis banget. Perhatikan pemilihan beras dan tingkat kematangan nasi saat dimasak. Nasi putih yang baru masak dan masih panas akan membuat terlalu lembek. Enggak suka nasi goreng yang terlalu lembek,” ujar Rama.
Sebelum kuliah, Rama biasanya nongkrong makan nasi goreng di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. ”Kenangan. Sebelum ke Vienna sering nongkrong di situ sama teman musisi sambil bermimpi ngomongin cita-cita apa, kuliah apa, dan setelah kuliah apa yang akan dilakukan. Lebih ke memori,” ujarnya.
Selain memasak, selama pandemi, Rama juga berusaha menghilangkan kejenuhan dengan berkumpul lebih banyak bareng keluarga. Karena aktivitas bermusik belum pulih, Rama pun punya lebih banyak waktu untuk berolahraga dengan bersepeda atau berjalan kaki keliling Gelora Bung Karno.
”Pandemi ini blessing in disguise, berkah terselubung, bisa mencoba hal baru yang dulu enggak ada waktu dan keberanian melakukannya,” ucapnya.
Sumber: Kompas edisi 02 Mei 2021 di halaman 6 dengan judul “Rama Widi Obat Kangen “.
Leave a Reply