
Fernando Sindu, Gaya Bebas di Dapur
Bagi Chef Fernando Sindu, memasak bukan sekadar bisnis, melainkan passion. Meski memiliki beberapa restoran, ia tetap memasak di rumah dan menjadikannya ruang bereksperimen yang melahirkan banyak menu restoran. Teknik memasak di rumah sama dengan di restoran, hanya lebih sederhana dan bebas tanpa batas biaya maupun selera pasar. Kecintaannya pada dunia kuliner tumbuh sejak kecil dan membuatnya merasa bahagia serta bebas stres saat memasak. Di masa pandemi, Chef Nando berjuang mempertahankan restorannya tetap buka dengan beradaptasi ke konsep layanan pesan antar demi menjaga kelangsungan kerja para pegawainya.
*****
Bagi Chef Fernando Sindu, memasak tak hanya untuk bisnis. Co-founder beberapa restoran, seperti SevenFriday Space, Benedict Jakarta, dan Canting Jogja, ini tetap memasak ketika ada waktu di rumah. Banyak makanan yang disajikannya di restoran justru lahir dari eksperimen makanan di rumah.
Ketika memasak di rumah bagi keluarganya, Chef Nando juga menularkan teknik memasak yang baik ke asisten rumah tangganya. Teknik memasak yang dilakukan di rumah sama persis seperti di restoran, hanya lebih disederhanakan. Memasak di rumah juga punya keuntungan karena tidak harus mempertimbangan biaya, preferensi rasa, hingga keserasian makanan dengan ruang restoran.
”Di rumah lebih all out. Lebih comforting dan free style no boundaries. Dari makanan rumah yang saya eksperimen, saya fusion, lalu pelan-pelan saya repackage, redevelop, sehingga cocok buat makanan restoran,” ujar Chef Nando yang pernah mengenyam pendidikan di Culinary Institute of America, New York, Jumat (18/12/2020).
Kecintaan pada dunia masak juga dipupuk dari pengalaman masa kecil menyaksikan asisten rumah tangga memasak di rumah. Sejak usia delapan tahun, ia sangat tertarik dengan segala seluk-beluk dapur.
”Saya merasa happy ketika masak. Stress free exercise. Rewarding kalau masak enak dan orang happy dan mengagumi. Rasa itu tidak bisa dibeli,” ujarnya.
Karena kecintaan memasak pula, Chef Nando berjuang agar semua restorannya tetap buka selama pandemi agar bisa terus mempekerjakan pegawai. Cara adaptasi yang dilakukan, antara lain, dengan mengubah konsep lifestyle dining menjadi lifestyle delivery.
”Sangat sibuk karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang memang sulit sekali. Sembilan bulan ini proses melelahkan. Sangat indah juga dalam waktu yang sama. Apa pun yang dilakukan demi kita bertahan. Bagaimanapun harus buka agar anak-anak bisa tetap kerja di tempat kita,” ujarnya.
Sumber: Kompas.id, Fernando Sindu Gaya Bebas di Dapur, 20 Des 2020 05:11 WIB
Leave a Reply