Raka Kusuma, Keras Kepala Merawat Sastra Bali

Raka Kusuma (63) dikenal sebagai sastrawan “pengkung” karena kegigihannya mengembangkan Sastra Bali Modern (SBM). Sejak 1976, ia aktif menulis karya sastra, belajar dari sastrawan Indonesia, lalu memilih fokus pada bahasa ibunya agar sejajar dengan sastra daerah lain. Raka mendirikan Sanggar Buratwangi (1998) dan majalah Buratwangi untuk wadah belajar dan mempublikasikan karya sastra Bali, meski menghadapi kendala pembaca dan biaya cetak. Ia juga menerjemahkan karya dunia ke bahasa Bali. Dedikasinya membuahkan penghargaan Rancage (2002, 2012). Lewat karya seperti Sang Lelana, Ngambar Bulan, dan Rasti, Raka mengeksplorasi budaya Bali, konflik sosial, dan spiritualitas, sambil menularkan kemampuan menulis kepada generasi muda.

*****

Kecintaannya yang keras kepala kepada sastra Bali modern, membuat IDK Raka Kusuma (63) dicap pengkung alias bandel. Kebandelannya itu justru melahirkan karya-karya yang mumpuni. Ia bahkan menerbitkan majalah sastra Bali yang berisi tulisan-tulisan berbahasa Bali.

Karya Raka yang lainnya, secara tekun ia menerjemahkan karya-karya sastra dunia ke dalam bahasa ibunya, untuk kemudian ia terbitkan di majalahnya.

Sikap pengkung itu tidak lepas dari perjalanan proses kreatifnya sebagai sastrawan yang memperjuangkan eksistensi sastra Bali modern (SBM) agar sejajar dengan sastra Jawa, sastra Sunda, sastra Indonesia, dan bahkan sastra dunia.

“Sudah banyak penekun sastra Indonesia. Saya memilih sastra dengan bahasa ibu,” tutur Raka yang ditemui di rumahnya, Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem sekitar 80 km timur Denpasar, Sabtu (29/2/2020).

Sejarah SBM dimulai tahun 1910-an, dan telah mengalami pasang-surut, karena sepinya peminat. Namun terangkat kembali tahun 2000 menyusul adanya anugerah sastra Rancage –yayasan yang didirikan Ajip Rosjidi- kepada penggiat sastra yang antara lain menulis dalam Bahasa Bali. Hal ini mendorong para penulis SBM menerbitkan buku kumpulan puisi, cerpen, dan novel.

Sebelum menggeluti SBM, Raka mulai aktif mencipta karya sastra Indonesia seperti menulis sajak dan cerita pendek tahun 1976. Alasannya menggeluti SBM, karena saat kelas 2 SMP, ia sempat menanggung malu sewaktu mengikuti lomba deklamasi. Raka mendeklamasikan puisi Diponegoro karya Chairil Anwar. “Bait pertama lancar, tapi bait keduanya saya lupa,” katanya. Para penonton kemudian riuh-rendah memintanya segera turun panggung.

Malu, kecewa, dan jengkel memenuhi perasaan Raka. Namun perasaan itu yang melecutnya memilih seni yang lain: karya sastra. Untuk mengasah kemampuannya, Raka belajar menulis sajak dari Umbu Landu Paranggi, Sang Presiden Penyair Malioboro, lalu menimba ilmu menulis cerita dari sastrawan almarhum Putu Arya Tirtawirya di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ilmu menulis yang didapat dari dua penyair itu mendorong Raka produktif mencipta karya sastra modern selama kurun waktu tahun 1976-1980. Karya-karyanya dimuat beberapa surat kabar nasional dan lokal Bali. Namun, setelah membaca cerpen dan novel karya beberapa sastrawan SBM, Raka berubah haluan. Pertimbangannya antara lain rekan-rekannya sudah bergiat pada sastra Indonesia modern.

“Saya ingin mencoba membuktikan, bahasa ibu bisa dijadikan karya sastra yang bagus,” katanya.

Raka kemudian mendirikan Sanggar Buratwangi awal tahun 1998 sebagai wadah diskusi, belajar, dan berbagi ilmu dengan para penulis. Setahun kemudian ia menerbitkan majalah Buratwangi (mirip buku diktat). Media ini menjadi ruang apresiasi sastra Bali dan mempublikasikan karya-karya para penulis. Tidak hanya menulis, Raka juga urunan uang untuk mencetak majalahnya. Ia tak ragu untuk menitipkannya di kios-kios buku untuk menemukan pembacanya.

Namun, Raka paham benar jangankan mendapatkan keuntungan finansial, sekadar menggaet pembaca pun susah. Tetapi ia pantang bersurut-surut, sebaliknya justru tetap semangat untuk menerbitkan majalah itu. “Kami ini orang keras kepala, tidak malu disebut peminta-minta untuk mencari dana ke pemerintah demi majalah itu terbit,” ungkapnya.

Tambahnya,“Saya ingat, ada bantuan dana dari pemerintah, teman yang membawa, diputar, dibungain, memutar lalu bunganya kami pakai untuk biaya cetak majalah,” ujarnya. Konsekuensinya, ia harus pulang-pergi dari Karangasem membawa bahan majalah ke percetakan di Denpasar. Edisi pertama majalah itu 100 eksemplar, namun yang laku dijual 10-20 eksemplar.

Tularkan kemampuan

Aktivitasnya di majalah itu sempat terhenti karena menderita sakit. Majalah Buratwangi ia serahkan pngelolaannya kepada Balai Bahasa Bali. Meski sakit, dia tidak berhenti berkarya, malah karya-karyanya ia bukukan dengan biaya sendiri, dan menerjemahkan karya-karya sastrawan Tanah Air. Untuk biaya cetak buku-buku itu Raka menyisihkan 10 persen dari gajinya sebagai guru.

Totalitas ayah dari dua anak ini terhadap SBM membuahkan hasil tahun 2002 dan tahun 2012, ditandai pemberian penghargaan Rancage, sebuah penghargaan terhadap karya-karya sastra dengan bahasa lokal. Raka dinilai berjasa dalan mengembangkan bahasa dan sastra Bali.

Raka juga menularkan kemampuan menulis berbahasa Bali kepada penulis muda yang terkadang rancu (terkontaminasi) membuat kalimat. Dari tangan dinginnya kini 12 penulis muda di Kabupaten Karangasem telah menggeluti SBM.

Beberapa karyanya adalah Kidung I Lontar Rograg (prosa liris) terbit tahun 1991 dan 2001. Lalu Sunaran Bulan Tengah Lemeng, terjemahan puisi Sapardi Djoko Damono. I Balar (kumpulan cerpen Bali Modern), Ngambar Bulan (kumpulan cerpen) terbit tahun 2006; Sang Lelana (kumpulan puisi) dan Rasti (novel) terbit tahun 2010, Begal (kumpulan cerpen) terbit tahun 2012.

Dari karya-karyanya itu Raka mengeksplorasi keunikan akar leluhur budaya Bali, selain menyoroti situasi sosial warga Bali yang mengalami benturan nilai-nilai tradisi dan modern. Misalnya Sang Lelana (Sang Pengembara) berupa puisi yang relatif panjang, berisi simbolisme kritik sosial dan pencarian jati diri. Dalam perjalanan pulang kampung, pengembara selain bertemu orang bijak dan sastrawan, juga melewati pantai yang sunyi, bukit yang indah, hutan yang gundul, dan kota yang warganya terperangkap konflik sosial dan aksi kekerasan.

Sedang Ngambar Bulan, menceritakan Wayan Reka, seorang pelukis yang melukis bulan purnama, dari Sasih Kasa (bulan pertama dalam tahun Bali), sampai Sasih Kaulu (bulan kedelapan dalam tahun Bali). Setiap kali melukis, ia melihat rupa dan warna bulan berbeda. Bulan purnama yang melahirkan berbagai dimensi warna, membuatnya tersadar akan kebesaran Tuhan.

Dengan talenta dan sikap pengkung-nya, Raka agaknya tidak ingin menjadi “orang lain”, tetapi menjadi “diri sendiri”, memperkaya khasanah sastra Bali, dan merawatnya melalui bahasa ibu, bahasa Bali.

Sumber: Kompas edisi 07 Maret 2020 di halaman 12 dengan judul “Raka Kusuma Keras Kepala Merawat Sastra”.