Sere Rohana Napitupulu, Ibu untuk Lingkungan

Sere Rohana Napitupulu, warga Duren Sawit, Jakarta Timur, aktif melestarikan lingkungan. Awalnya hanya 15 lubang resapan biopori di lingkungannya, kini menjadi 614, membantu menampung air hujan, mengurangi genangan, dan memperbaiki ekosistem tanah. Ia mengedukasi warga memilah sampah, memanfaatkan sampah organik untuk biopori, dan menjual sampah kering, sekaligus memberi contoh lewat urban farming di rumahnya, pupuk kompos, dan eco-enzyme. Sere juga mengajari pemangkasan pohon agar tanaman mendapat sinar cukup. Inisiatifnya diapresiasi melalui Ibu Kota Awards 2019 dan Kalpataru DKI. Ia terus mengajak masyarakat menjaga lingkungan demi masa depan anak cucu.

*****

Awalnya ia menyadari di lingkungan rumahnya hanya ada sedikit lubang resapan biopori. Dari situ, Sere Rohana Napitupulu tertarik masuk dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Bersama warga, ia membuat resapan biopori dari 15 menjadi 614 lubang. Setelah itu, ia mengajar warga mengolah sampah.

Dihubungi Sabtu (12/12/2020), Sere menceritakan, ketika pertama kali bergerak, ia tidak tahu manfaat biopori. Sere hanya berpikir biopori bisa menampung air hujan.

”Rumput dan ilalang hanya menyerap air 10 sentimeter ke dalam tanah. Lubang resapan dengan kedalaman maksimal 1 meter dan diameter 10 sentimeter bisa menampung 16 liter air dalam waktu satu jam,” kata Sere yang tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur.

Ketika ia dipilih warga menjadi Ketua RT 002 pada 2010, ia membuat kebijakan setiap rumah wajib memiliki dua lubang biopori. Agar kebijakan jalan, ia memberi uang Rp 15.000 per lubang resapan kepada warga yang membuatnya. Uang itu ia ambil dari dana operasional ketua RT.

Dengan cara ini, warga termotivasi membuat lubang resapan. Dalam setahun, jumlah resapan bertambah dari 15 menjadi 300 lubang biopori aktif dan kini mencapai 614 lubang. Lubang biopori itu berhasil meresap air hujan sehingga mengurangi genangan pada musim hujan dan mencegah kekeringan di musim kemarau. Biopori juga memperbaiki ekosistem tanah sehingga tanaman tumbuh subur.

Dari biopori, ia melangkah ke penanggulangan sampah. Ia mengajak warga memilah sampah dan mendirikan bank sampah. Sampah organik dimasukkan ke dalam lubang biopori, sementara sampah kering, seperti kardus, kertas, dan botol plastik, ”disulap” menjadi rupiah.

Volume sampah yang dibuang warga ke tempat pembuangan sampah langsung berkurang. Sebelum ada lubang biopori, setiap RT menyumbang satu gerobak sampah ke tempat pembuangan. Kini, sampah tiga RT hanya satu gerobak.

Berdasarkan komposisi sampah hasil pengukuran di TPST Bantar Gebang pada 2010, sampah organik mencapai 67 persen. Sementara sampah anorganik 32,8 persen. Menurut Sere, apabila setiap warga DKI memilah sampah, tidak akan ada lagi problem sampah menumpuk di Ibu Kota.

Sampah yang tadinya dihindari bisa dipakai sebagai alat untuk beramal. Sere mengajak warga mengumpulkan sampah kering yang punya nilai jual dan menggantungnya di depan pagar agar diambil pemulung dan tukang sampah.

”Dengan cara ini, kita bisa beramal kepada pemulung dan tukang sampah,” katanya.

Mengubah kebiasaan

Sere adalah ibu rumah tangga yang aktif memikirkan lingkungan sekitar rumahnya. Ia gemar menanam aneka tanaman, terutama tanaman hias dan aneka tanaman bumbu, yang membuat suasana rumah terasa nyaman dan kaya oksigen. Ia juga gemar merangkai bunga untuk kegiatan-kegiatan penting, seperti pernikahan.

Ia rutin menyebarkan virus menanam tanaman kepada warga yang tinggal di kampung-kampung dan rumah susun. Ia juga membagi pengalaman terkait pertanian kota (urban farming) kepada generasi muda di sekolah-sekolah. Kini, di tengah pandemi, ilmu itu ia bagikan secara daring.

Mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan pada mulanya tidak mudah karena ia harus mengubah kebiasaan masyarakat. Melalui edukasi yang dilakukan pada berbagai kegiatan warga, seperti ketika arisan dan pengajian, Sere berhasil mengubah cara pandang dan kebiasaan masyarakat.

Warga yang dulunya mandi dengan air dari bak mandi kini memilih memakai pancuran (shower) yang lebih hemat air. Kebiasaan menyikat gigi dengan air di keran terbuka diubah dengan menggunakan air di dalam gelas.

Menurut Sere, mengubah kebiasaan masyarakat tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Edukasi semata juga tidak cukup. Ia harus mencontohkan bagaimana menjaga lingkungan dimulai dari tempat tinggalnya sendiri. Setelah melihat contoh nyata, warga akan tertarik dan mengikuti jejaknya.

Misalnya, Sere membuat sendiri pupuk kompos hasil pengolahan sampah di rumahnya. Selain pupuk kompos, ia menyulap sampah menjadi eco-enzyme, larutan zat organik kompleks yang diproduksi dari proses fermentasi sisa organik, gula, dan air. Larutan dipakai untuk kebersihan dan pupuk.

Hasilnya, tanaman sayur di rumahnya tumbuh subur dan segar berkat pupuk kompos dan eco-enzyme. Warga yang melihat hasilnya kemudian tertarik mencoba.

Ia juga mengajari memangkas ranting pohon-pohon yang tinggi. Pemangkasan dilakukan bukan hanya untuk merapikan bentuk pohon, tetapi memastikan pohon mendapatkan sinar matahari merata sesuai kebutuhan. Pohon kecil yang berada di bawah pohon besar juga terlindungi.

Karena sering menebas pohon, ia dijuluki ”Tukang Tebas Pohon”. Namun, setelah warga merasakan manfaat pemangkasan pohon, mereka tidak protes. Mereka justru mendukung penuh.

Sere mengaku, ia mengubah kebiasaannya bersama warga. ”Kalau dulu saya memakai air asal-asalan, tidak pernah berpikir apa dampaknya, saya sekarang jadi lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Sere.

Inisiatifnya diapreasi sejumlah pihak. Ia, antara lain, mendapat Penghargaan Ibu Kota Awards 2019 Bidang Pelestarian Lingkungan dari Pemprov DKI Jakarta dan meraih Kalpataru DKI Jakarta.

Penghargaan yang diperoleh, menurut Sere, membuat ia bisa menjangkau lebih banyak masyarakat untuk menjaga lingkungan. Masyarakat yang berasal dari Jakarta dan luar kota sering bertanya bagaimana cara menanam?

Sere mendampingi warga menanam mulai dari menebarkan bibit hingga memanen hasil tanaman.

”Saya ingin mengajak masyarakat untuk menjaga Bumi demi masa depan anak cucu kita. Saya selalu senang kalau ada pelajar dan teman-teman yang datang bertanya bagaimana cara menanam. Tanamlah apa saja, sayuran, bumbu dapur, tanaman hias, apa pun. Sebab, semua itu memberi kita oksigen untuk bernapas,” katanya.

Sumber: Kompas edisi 17 Desember 2020 di halaman 16 dengan judul “Sere Rohana Napitupulu, Ibu untuk Lingkungan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *