Samuel Wattimena, Jalur Yang Benar

Samuel Wattimena, desainer berusia 59 tahun, menerima Apresiasi Ikon Prestasi Pancasila 2020 dari BPIP pada 17 Agustus 2020. Ia merasa penghargaan ini menjadi penguat untuk terus berkarya tanpa memikirkan usia. Masuk dalam kategori Seni Budaya dan Kreatif, Samuel dikenal sebagai pelestari kain tradisional yang ia tekuni sejak 1979. Ia mengenang perjuangannya menjelajahi pelosok Nusantara saat fasilitas komunikasi masih terbatas. Meski kini informasi lebih mudah diakses, ia menilai nilai bisnis makin dominan. Samuel bertekad melestarikan kain tradisional dengan memasukkan unsur sejarah agar inovasi tetap berakar, sambil menegaskan bahwa “local is the new global.”

*****

Desainer Samuel Wattimena (59) menjadi salah satu tokoh penerima Apresiasi Ikon Prestasi Pancasila 2020 dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Acara penghargaan dilakukan secara virtual pada tanggal 17 Agustus 2020 dalam rangkaian perayaan HUT RI ke-75.

“Senang. Berarti apa yang saya lakukan, sudah berada di jalur yang benar,” ujar Samuel tentang penghargaan yang dia terima, Selasa (25/8/2020) di Jakarta. Penghargaan itu sekaligus menjadi ‘pecut’ baru bagi Samuel untuk terus berkarya, tidak pensiun dan berhenti karena alasan usia.

Samuel termasuk dalam jajaran penerima penghargaan Katagori Seni Budaya dan Kreatif, khususnya pelestari kain tradisional. Sebagai desainer, Samuel telah menekuni kain tradisional sejak tahun 1979.

Samuel mengenang, ketika memulai untuk pertama kalinya, dia juga ‘berdarah-darah’. Selain belum ada telepon dan jaringan internet, daerah-daerah yang dia kunjungi, umumnya jauh di pelosok Tanah Air, dan belum terkoneksi dengan kota.

“Tapi itu masa-masa yang indah karena belum banyak yang datang, jadi kita bisa ngobrol seperti saudara. Sekarang meski sudah semakin terbuka, info-info sangat mudah didapat, tapi sense of business-nya sudah tinggi,” kata Samuel.

Dia bertekad akan terus melestarikan kain tradisional Tanah Air dengan memasukan unsur sejarah agar tidak terjadi kesimpangsiuran ketika ada inovasi. “Biar orang paham sejarah. Kalau hanya kekinian, ya nggak make believe. Kita harus bangga karena local is the new global sekarang,” kata Samuel. 

Sumber: Kompas.id, Samuel Wattimena Jalur Yang Benar, 29 Agt 2020 05:30 WIB 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *