Ady Kristanto, Penghubung ke Dunia Burung

Ady Kristanto terpikat dunia burung sejak melihat elang jawa di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak saat masih kuliah di Fakultas Biologi Unas. Sejak 2002 ia aktif meneliti burung dan terlibat dalam berbagai proyek, termasuk bersama Burung Indonesia dan Fauna and Flora International, tempat ia kini menjadi Senior Biodiversity Conservation Officer. Penelitiannya membawanya ke berbagai daerah dengan medan ekstrem. Pada 2005 ia mendirikan Jakarta Birdwatcher’s Society sebagai wadah kolaborasi pengamat burung, berbagi data, serta mengedukasi masyarakat. JBS juga menjalankan Jakarta Bird Walk dan menerbitkan buku-buku tentang burung, serta memberi dampak positif bagi kesadaran lingkungan.

*****

Delapan belas tahun silam, Ady Kristanto (36) terpesona dengan keanggunan seekor elang jawa ketika menjelajah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak di Jawa Barat. Dari situ ia bertekad menjadi peneliti burung. Ia juga merangkul kalangan pencinta burung dengan menggagas komunitas Jakarta Birdwatcher’s Society.

Cinta Ady kepada alam terlihat sejak duduk di bangku sekolah menengah. Ketika masuk kuliah pada 2001, Ady memilih Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas), Jakarta. Ia rajin mendaki gunung, termasuk menjelajah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, yang akhirnya membuatnya terjun untuk meneliti burung pada 2002.

”Keberadaan burung sangat penting. Burung berperan sebagai penyebar biji tanaman dan pengendali hama. Kalau mereka berkurang, hama akan meningkat dan tak terkendali. Pada akhirnya, hama itu akan menyerang manusia,” tutur Ady melalui sambungan telepon di Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Ady mulai terlibat dalam berbagai jenis penelitian dan organisasi bahkan sejak kuliah. Ia pernah bergabung dalam organisasi Burung Indonesia dan ikut dalam proyek bersama Dr Sebastian van Balen, peneliti asal Belanda, di pantai utara Jawa dan Madura pada 2005.

Ady juga mengikuti proyek penelitian habitat mangrove di Muara Angke, Jakarta, pada 2006. Di situ, ia bertemu dengan calon atasannya, Frank Momberg dari Fauna and Flora International. Setelah diwisuda sebagai sarjana pada tahun yang sama, ia mulai bekerja sebagai staf di Fauna and Flora International-Indonesia Programme (FFI-IP). Ia kini menjabat Senior Biodiversity Conservation Officer di FFI-IP.

Sudah banyak lokasi penelitian di sejumlah provinsi di Tanah Air yang ia kunjungi, seperti Jakarta, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Pekerjaannya memang menuntut Ady bekerja di sebuah laboratorium raksasa bernama alam. Ada perjuangan berat yang harus dilalui untuk tiba di sejumlah tempat penelitian. Ady harus menelusuri hutan, berjalan jauh, mendaki gunung, dan sabar menunggu datangnya burung. Bahkan, ia bisa sebulan tinggal di hutan untuk meneliti.

Kegiatan penelitian paling ekstrem pernah Ady rasakan di Pulau Batanta, Raja Ampat, Papua Barat, pada 2018. Ady bersama tim harus merayap di antara tebing sembari membawa perlengkapan. Apabila tidak berhati-hati, mereka bisa jatuh dan mendarat di atas batu karang nan tajam.

”Perjalanan menuju lokasi-lokasi penelitian bisa beberapa hari dan jalannya tidak mulus. Saya sudah pernah disengat lebah dan lipan. Pernah kami hampir tiba di satu lokasi, bahan logistik sudah habis sehingga harus pulang karena tidak mau kelaparan,” ujarnya.

Mengamati burung

Rasa takjub Ady terhadap burung mendorongnya untuk mendirikan Jakarta Birdwatcher’s Society (JBS) sejak 2005. Keinginan itu muncul setelah ia melihat sejumlah kampus di Jakarta memiliki komunitas pengamatan burung, tetapi masih berjalan sendiri-sendiri.

”Saya waktu itu berpikir, bagaimana kami, para citizen science ini, memiliki forum untuk berkolaborasi. Saat ini, sudah ada beberapa kampus yang terlibat, seperti Universitas Indonesia, Unas, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Islam Negeri Jakarta. Ada juga tambahan satu kelompok tur burung untuk ekowisata bernama Jakarta Birder,” tutur Ady.

Melalui JBS, seluruh komunitas pengamat burung dapat berbagi pengetahuan dan informasi kegiatan tentang kegiatan pengamatan burung. Jumlah anggota aktif JBS sekarang lebih dari 100 orang.

JBS menjadi tempat untuk mengumpulkan basis data (database) mengenai burung atau migrasi burung di Jakarta, suatu data yang masih langka di Indonesia. Data ini kemudian dibuat menjadi jurnal ilmiah dan buku, antara lain  Burung Ibukota: Panduan Mengamati dan Memotret Burung- burung Jakarta pada 2011. Secara keseluruhan, JBS telah meluncurkan lima buku mengenai burung.

Selama berkiprah di dunia pengamatan burung, JBS mendapati beberapa temuan menarik di Jakarta, seperti wilayah Jakarta Selatan memiliki banyak burung hutan, Jakarta Utara memiliki banyak burung air dan laut, sedangkan Jakarta Barat memiliki sedikit burung karena sedikitnya jumlah ruang terbuka hijau (RTH).

JBS memiliki program andalan setiap bulan bernama Jakarta Bird Walk. Ini merupakan kegiatan yang mengajak pencinta burung dan masyarakat umum untuk mengamati burung di sejumlah RTH atau area konservasi lingkungan Jakarta secara gratis. Mereka juga berdiskusi mengenai temuan yang ada di lapangan.

”JBS menjadi wadah untuk belajar mengenai burung dan lingkungan, seperti peran ruang terbuka hijau di Jakarta terhadap tata kota dan keberadaan burung. Ini juga menjadi sarana rekreasi, terapi bagi orangtua, dan penyaluran hobi fotografi,” katanya.

JBS juga membantu pemerintah setempat melakukan kajian keanekaragaman hayati Jakarta. Dari JBS ini, Ady memutuskan untuk membuat komunitas bertema lingkungan lainnya, yakni Indonesia Wildlife Photography, pada 2010, untuk mengabadikan gambar satwa liar di Tanah Air.

Ady mengakui, lingkup kegiatan dan kampanye JBS masih kecil karena berdasarkan pada kesukarelaan anggota untuk berpartisipasi. Apalagi, keberadaan komunitas seperti JBS masih langka dan tidak populer di Indonesia. Namun, JBS setidaknya berhasil memberi pengaruh positif kepada mereka yang terlibat.

”Ada yang pernah mengikuti kegiatan JBS menasihati ayahnya agar tidak memelihara burung karena itu tindakan yang egois. Saya juga pernah mengajak orang menyusuri sungai menuju Muara Angke dan mereka akhirnya sadar banyak sampah menumpuk akibat kebiasaan membuang sampah ke sungai sehingga mengganggu habitat burung. Dampak secara tidak langsungnya seperti itu,” ujarnya.

Menurut dia, beberapa alumnus kampus yang pernah terlibat JBS bahkan berusaha melanjutkan semangat untuk menjaga lingkungan dan mengamati burung. Ady menceritakan, ada alumnus yang kini bekerja sebagai guru pernah mengadakan kegiatan mengamati burung bersama JBS dengan murid-muridnya.

Sebagai peneliti keanekaragaman hayati dan pengamat burung, Ady menjadi jembatan bagi masyarakat agar lebih baik mengenal lingkungan, termasuk dunia burung. Burung bukan sekadar obyek yang indah dipandang mata dan dinikmati kicauan suaranya, melainkan juga mata rantai yang amat penting bagi keberlangsungan ekosistem Bumi.

Sumber: Kompas edisi 05 Juni 2020 di halaman 16 dengan judul “Ady Kristanto, Penghubung Dunia Burung”.

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *