
Melania Mediawaty, Sediakan Transportasi Nyaman untuk Hewan
Selama pandemi Covid-19, Melania Mediawaty menjalani profesi sebagai pet transport, mengantar hewan peliharaan seperti anjing dan kucing ke klinik, salon, atau tempat jalan-jalan. Awalnya bekerja di bank, ia beralih profesi karena kecintaannya pada hewan. Sejak 2015, Melania juga aktif menyelamatkan anjing terlantar meski penuh risiko, seperti digigit atau gagal menangkap. Ia menetapkan standar ketat agar hewan tidak stres dan selalu melaporkan kondisi mereka ke pemilik. Selain itu, Melania menjadi pet sitter yang dipercaya merawat hewan di rumah klien. Dengan dedikasi tinggi, ia menjalani pekerjaannya bukan sekadar jasa, melainkan panggilan nurani untuk menolong hewan.
*****
Selama pandemi Covid-19, Melania Mediawaty (46) sibuk membawa kucing dan anjing dari rumah pemiliknya ke klinik hewan. Perannya sebagai pet transport dijalani Melania dengan penuh cinta. Beberapa kali, dia juga menyelamatkan anjing terlantar.
Sudah beberapa pekan terakhir, Melania harus mondar-mandir membawa anak bulu (anabul), seperti kucing dan anjing, ke Klinik Hewan Rajanti di Pondok Jagung, Serpong, Banten. Sebagai pet transport dia bukan sekedar antar-jemput anabul, tetapi juga kerap diminta ikut menyelamatkan anjing telantar di jalanan.
Pemutusan hubungan kerja di sebuah bank saat krisis moneter, membuat Melania banting setir dengan berdagang handphone di ITC Kuningan selama 11 tahun. Sejak 2012, Melania sering berdonasi untuk hewan telantar di jalanan, terutama anjing. Beberapa kali diajak untuk menyelamatkan anjing terlantar, dia belum berani.
Selama 2-3 tahun berdonasi, Melania memberanikan diri menjadi penyelamat hewan terlantar. Tentunya, Melania tetap mengatur kemampuan diri, karena menyelamatkan anjing penuh konsekuensi. Belum tentu anjing yang diselamatkan akan memperoleh orang baik yang mau mengadopsi.
“Cukup tahu dirilah. Aku ini tipikal orang yang enggak tegaan,” kata Melania saat mengantarkan seekor anjing kliennya ke Klinik Hewan Rajanti, Kamis (2/4/2020).
Saat ini, tanpa terasa, 10 ekor anjing harus dirawat sendiri di rumahnya. Beberapa kali, Melania sering melihat orang-orang yang menyelamatkan anjing tidak memiliki kendaraan. Lalu, dia terpikir untuk menyediakan jasa transportasi bagi hewan peliharaan.
Tahun 2015, Melania tanpa sengaja menggeluti pet transport, yaitu menjemput dan mengantar hewan peliharaan bagi pemilik hewan yang punya keterbatasan kendaraan maupun waktu. Misalnya, mengantar hewan peliharaan untuk priksa dokter, grooming ke salon hewan, sekadar jalan-jalan supaya sehat ataupun permintaan rescue.
“Inilah awal mulanya aku berani menjadi pet transport, tetapi aku tidak ingin menjadi pet transport biasa,” ujar Melania.
Untuk mengantar anabul ke dokter, Melania pun ikut senang, jika pemiliknya mau ikut mobilnya. Namun, apabila tidak bisa ikut mengantar ke dokter, itu pun tidak masalah. Saat diperiksa di klinik hewan, pemilik bisa bicara langsung dengan dokternya.
Bahkan, Melania tidak keberatan merekam video penjelasan dokter untuk dilaporkan ke pemiliknya. Prinsipnya, Melania akan memediasi kebutuhan pemilik dan dokternya, termasuk membicarakan obat-obatan racikan yang dibutuhkan anabul. “Serasa anabulku sendiri deh. Jadi, saat diantar pulang ke pemiliknya, semua sudah harus terkesan beres,” kata Melania.
Dia juga mempunyai standar khusus ketika membawa hewan peliharaan, apalagi untuk jarak jauh. “Bagi saya, hewan yang saya bawa enggak boleh sampai stres, apalagi sakit. Kebutuhan untuk pup atau pee, makan dan minum di perjalanan, selalu dilaporkan ke pemiliknya. Untuk perjalanan jauh ke luar kota, saya selalu menetapkan standar agar hewan terlebih dahulu wajib divaksin. Minimal, buku vaksinnya wajib diperlihatkan,” ujar Melania.
Namun, Melania tak mau begitu saja membawa hewan peliharaan. Dia pernah menolak anjing yang sakit atau bisa menularkan penyakit ke hewan lainnya.
Dalam perkembangannya, Melania melebarkan penawaran jasanya, yaitu membawa anjing jalan-jalan. Melania membutuhkan waktu sekitar lima bulan untuk menjajaki permintaan kliennya membawa anjing jalan-jalan.
Melalui media sosial, Melania menawarkan pemilik hewan agar hewan peliharaan kesayangan mereka bisa diajak jalan-jalan supaya sehat, seperti di luar negeri. Perlahan-lahan, ada saja pemilik anjing yang meminta agar anjingnya bisa diajak jalan-jalan. Malah ada yang sampai meminta anjingnya diminta dibawa ke Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kebetulan, pemilik anjing itu memiliki vila.
Penyelamat hewan
Tak lama kemudian, Melania mengembangkan pelayanannya untuk membantu kelompok penyelamat hewan. “Karena cinta juga pada nasib-nasib hewan telantar, aku tetap mengenakan biaya rescue, tetapi dibikin agak ringan. Hitung-hitung, aku ikut berkontribusi menyelamatkan hewan-hewan itu. Itulah caraku membantu mereka,” ujar Melania.
Tak mudah bagi Melania saat menyelamatkan anjing terlantar di jalanan. Suatu ketika, dirinya pernah diminta menyelamatkan tiga anjing di lapangan luas yang tertutup di daerah Bogor. Kelihatannya sangat mudah. Ternyata, ketiga anjing itu terus berlari, ketika didekati.
“Yang ada malah uber-uberan, lari ke sana kemari. Saya ngos-ngosan, capek. Waktu itu, memang aku masih minim pengalaman rescue, walaupun ada dua orang yang siap membantu di sana,” kata Melania.
Seharian gagal menangkap ketiga anjing itu, dia menundanya, supaya anjing tidak trauma. Proses penyelamatan anjing bisa membutuhkan waktu 7-10 hari. Selanjutnya, Melania membawa anjing yang diselamatkan itu dibawa ke calon pemilik yang mau merawatnya, atau dibawa ke tempat penampungan hewan.
Saat menyelamatkan anjing, pasti ada resikonya. Dua pekan lalu, misalnya, Melania digigit anjing yang sedang dibawa ke klinik hewan. Begitu digendong, tiba-tiba kepala anjing itu berbalik dan menggigit tangan kanannya. Itu bukan pengalaman pertama, sebelumnya dia sudah pernah digigit anak bulu di bagian paha dan punggungnya.
Setelah memasuki tahun keenam menjadi penyedia transportasi hewan, kini Melanie memiliki tanggung jawab baru, yaitu pet sitter. Biasanya, saat liburan, para pemilik anjing atau kucing mempercayakan hewan peliharaanya kepada Melania. “Kuncinya adalah saling percaya, karena pemilik meninggalkan kunci rumah pada saya,” ujar Melania.
Pernah suatu kali, Melania diberi kepercayaan penuh dengan dititipkan kunci rumah untuk memberi makan dan minum, serta merawat kandangnya, termasuk merawat apabila hewan itu sakit, supaya enggak stres. Namun, belum banyak keluarga yang mempercayakan secara penuh.
Sekali lagi, kepercayaan menjadi modal utama Melania untuk menjalankan kegiatan sebagai pet transport. Kalaupun pemilik mempercayakan sejumlah uang untuk biaya ke dokter, seluruh perhitungan akan dibeberkan secara transparan. Terkadang, Melania malah menambahkan kekurangan biayanya dari koceknya sendiri.
Bicara biaya pet transport, Melania tanpa sungkan menyebutkan biayanya sekitar Rp 350.000, tergantung area pelayanannya. Kebanyakan, jasanya dipergunakan untuk menolong anjing peliharaan yang sudah lemas akibat parasit darah. Banyak pemilik yang tidak menyadari anjingnya yang tiba-tiba lemas.
Berbekal pengetahuan tentang hewan, Melania tak sungkan melihat tanda-tanda lemasnya. Apabila sudah divaksinasi tetapi lemas, Melania langsung melihat indikasi-indikasi awal, mulai dari memeriksa kondisi telinga, gusi dan mata anjing.
Merebut kembali
Di luar pekerjaan utamanya, Melania pernah diminta untuk merebut seekor anjing dari seorang pengadopsi. Dalam proses awal adopsi, biasanya ada perjanjian tertulis tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh pengadopsi anabul. Mulai dari menyayangi seumur hidup, merawat hingga larangan memperjualbelikan atau memindahtangankan.
Karena dinilai tidak menyayangi anjing yang diadopsi, pemilik lama meminta Melania mengambil kembali anjing tersebut. “Memang, order itu sebenarnya juga bukan dari bagian tugas pet transport. Cuma aku menganggap itu sebagai satu-kesatuan. Mendapat orederan pet transport untuk membawa, berarti tindakan merebut sekalipun harus aku hadapi,” kata Melania.
Tak jarang dia harus adu mulut. Pada dasarnya, Melania dengan penuh keyakinan ingin mengedepankan edukasi dalam mengadopsi anjing. Pertama-tama, harus mengungkapkan permasalahan dahulu sebelum merebut anjing itu. Sebagian besar, masalah yang dihadapi adalah pangadopsi tidak memelihara anak bulu sesuai perjanjian.
Kemudian, saat terjadi penolakan, Melania harus bersikeras membawa anjing itu. Setelah berhasil merebut anak bulu, dia membawanya ke dokter hewan untuk pemeriksaan awal. Saat akan diambil kembali dari klinik, pengadopsi dipersilakan membicarakan langsung dengan pemilik sebelumnya.
“Edukasi yang tidak mudah. Karena banyak orang mengadopsi juga dimintai sejumlah uang untuk penggantian biaya adopsi ataupun steril. Di sinilah, terjadi salah persepsi, seolah pengadopsi sudah membeli anjing itu, sehingga bisa seenaknya memperlakukan anjing itu,” jelas Melania.
Bahkan, orderan menyelamatkan anjing kecil usia 4-5 bulan yang baru saja ditabrak di daerah Serpong, Banten, sekaligus membawanya ke dokter, juga pernah dihadapinya. Melania pun memaksa penabrak anjing untuk bertanggung jawab. Terlebih lagi, si penabrak malah marah-marah.
eskipun itu bukan anjingnya, Melania merasa terpanggil untuk menolong anjing ini. Kalaupun penabrak merasa tidak mampu bertanggung jawab, tidak menjadi persoalan bagi Melania untuk meminta maaf di depan warga sekitar yang menyaksikannya. Akhirnya, Melania segera melarikan anjing itu ke klinik hewan.
“Sebelum datang ke lokasi kejadian, anjing itu sudah siap dimasukkan ke kantong plastik. Bilangnya, mau dibawa ke dokter, tetapi enggak jelas mau dibawa kemana? Untungnya, pelaku sudah dikelilingi oleh pelapor,” jelas Melania, yang berhasil menyita kartu identitas penabraknya.
Total biaya dokter hewan saat itu mencapai sekitar Rp 1,5 juta. Akhirnya, seluruh biaya benar-benar ditanggung oleh keluarga penabrak. Melania memahami, dirinya tidak mendewakan anjing dan berniat memeras. Namun, nuraninya kerap spontan tergugah untuk menolong. Satu demi satu, panggilan menolong ini dirasakan, dirinya bukan sebagai pet transport biasa.
Sumber: Kompas.id, Melania Mediawaty Sediakan Transportasi Nyaman untuk Hewan, 13 Apr 2020 02:36 WIB
Leave a Reply