
Annisa Maharani Nasran, Penyelamat Masa Depan dari Kampung Literasi Selamat
Ketertarikan Annisa Maharani Nasran (25) pada isu pendidikan muncul sejak belia. Hal itu dipicu aktivitas literasi di sekitar tempat tinggalnya belum memadai. Annisa menyadari tanggung jawab mengatasi masalah itu tidak hanya kepada pemerintah. Kondisi itu mendorong semangatnya sebagai generasi muda untuk berbuat nyata dengan mendirikan Kampung Literasi Selamat. Anak-anak hingga warga lansia terbantu.
Oleh: Emanuel Edi Saputra
Ribuan buku tersusun rapi di rak dalam bangunan yang menjadi lokasi Kampung Literasi Selamat di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (29/6/2024). Sederet sertifikat dan tropi tersusun rapi. Ruang tamu yang nyaman dilengkapi sofa juga turut menambah keindahan bangunan itu.
Tak jauh dari ruang tamu, terdapat sebuah perpustakaan kecil yang juga dipenuhi buku-buku dan majalah anak. Puluhan orang tampak asyik membaca buku di ruangan itu. Sesekali mereka bertanya tentang buku-buku yang mereka baca.
Di depan rumah tampak terpampang hasil dari praktik yang sudah diajarkan di kampung literasi tersebut. Taman yang asri dengan berbagai tanaman menambah kesejukan di lokasi itu. Beragam hasil karya, seperti baju, makanan ringan, dan produk-produk lainnya juga dipajang di area tersebut.
Annisa Maharani Nasran (25), perempuan yang mendirikan Kampung Literasi Selamat itu, tampak asyik mengobrol dengan anak-anak di tempat itu. Sesekali ia membantu anak-anak dalam mengerjakan tugas sekolah. Anak-anak itu pun tampak antusias berinteraksi dengan Annisa.
”Dari dulu, saya ingin ada perubahan di lingkungan tempat tinggal saya. Saya ingin ada sebuah tempat di mana anak-anak, remaja, hingga orang dewasa bisa mengembangkan minat dan bakat mereka, khususnya di bidang literasi. Kampung Literasi Selamat ini adalah salah satu wujud nyata dari impian itu,” ujar Annisa.
Kampung Literasi Selamat yang didirikan Annisa Maharani Nasran itu berlokasi di Jalan Parit Tokaya, Pontianak, Kalimantan Barat. Annisa mendirikan kampung itu dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat di sekitarnya.
Annisa bercerita bahwa sejak kecil ia sudah sangat menyukai buku. Ayahnya yang seorang guru selalu mendorong Annisa untuk terus membaca buku. Ia pun sering diajak ayahnya ke perpustakaan.
”Ayah saya adalah inspirasi terbesar dalam hidup saya. Beliau yang mengenalkan saya pada dunia buku. Saya sering diajak ke perpustakaan oleh ayah. Beliau yang pertama kali mendorong saya untuk mendirikan perpustakaan kecil di rumah. Dari situlah, saya kemudian terinspirasi untuk mendirikan Kampung Literasi Selamat,” ujar Annisa.
Annisa menyadari tanggung jawab mengatasi masalah itu tidak hanya kepada pemerintah. Dia sebagai generasi muda hendaknya berkontribusi menyelesaikan masalah tersebut.
Literasi dasar
Kisah Annisa membuat kita merenungi betapa pentingnya pendidikan dan literasi dalam kehidupan sehari-hari. Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa literasi, generasi muda akan kesulitan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Berawal dari mimpi kecil di dalam hati Annisa, kini kampung literasi yang ia dirikan telah berkembang pesat. Setiap hari, puluhan anak-anak, remaja, dan orang dewasa datang ke Kampung Literasi Selamat untuk belajar dan mengembangkan diri.
Di sana, mereka tidak hanya diajarkan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan hidup lainnya seperti bercocok tanam, memasak, membuat kerajinan tangan, dan sebagainya. Annisa percaya bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada buku pelajaran di sekolah, tetapi juga tentang bagaimana cara kita hidup dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
”Kami ingin memberikan kesempatan bagi semua orang, tanpa memandang usia, untuk belajar dan berkembang. Kami percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Annisa.
Ekonomi kreatif
Di kampung literasi ini, tidak hanya anak-anak yang mendapatkan manfaat. Orang dewasa dan lansia juga diajarkan berbagai keterampilan yang dapat membantu mereka meningkatkan taraf hidup.
Annisa mengatakan, di kampung literasi ini, mereka diajarkan berbagai keterampilan seperti menjahit, membuat kerajinan tangan, memasak, dan lain sebagainya. Produk-produk yang dihasilkan kemudian dijual ke pasar lokal maupun online. Hasil penjualan tersebut kemudian digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan di Kampung Literasi Selamat.
Kerajinan ini dijual ke Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Pontianak. Dari penjualan itu didapat Rp 300.000 – Rp 500.000 per bulan untuk tambahan biaya menyelenggarakan berbagai kegiatan.
Literasi anak
Semakin keterampilan bilangan kelurahan terdepan, semakin banyak yang antusias ikut serta. Setiap harinya, dari pagi sampai siang, Annisa dan Sekitar belasan anak perintis Kampung Literasi, bersama-sama belajar menulis, membaca. Terutama, antusiasme anak-anak.
”Kami berharap dengan adanya kampung literasi ini, anak-anak di Pontianak dapat memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan diri. Mereka bisa bermimpi dan mewujudkan mimpi mereka. Mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan,” ujar Annisa.
Namun, Annisa menyadari bahwa perjalanannya masih panjang. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kurangnya dana untuk menjalankan berbagai program di Kampung Literasi Selamat. Namun, Annisa tidak menyerah. Ia terus berusaha mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut.
Pandemi Covid-19
Kampung Literasi Selamat juga terkena dampak pandemi. Ketika pandemi melanda, kegiatan di Kampung Literasi Selamat sempat terhenti. Namun, Annisa dan timnya tidak menyerah. Mereka mencari cara untuk tetap menjalankan kegiatan literasi dengan aman.
”Kami sempat khawatir ketika pandemi melanda. Kegiatan literasi di kampung sempat terhenti. Namun, kami tidak menyerah. Kami mencari cara agar tetap bisa menjalankan kegiatan literasi dengan aman. Kami mulai menggunakan teknologi untuk mengajar. Anak-anak belajar melalui daring. Kami juga memberikan mereka bahan bacaan secara gratis,” ujar Annisa.
Pandemi juga membawa keuntungan tersendiri bagi Kampung Literasi Selamat. Dengan menggunakan teknologi, Annisa dapat menjangkau lebih banyak orang. Kini, anak-anak dari berbagai daerah bisa bergabung dengan kegiatan literasi di Kampung Literasi Selamat secara daring.
Kampung Literasi Selamat terus berkembang. Kini, tempat ini telah menjadi rumah kedua bagi banyak anak-anak di Pontianak. Annisa berharap, suatu hari nanti, Kampung Literasi Selamat bisa menjadi contoh bagi tempat-tempat lain di Indonesia.
”Kami berharap, suatu hari nanti, Kampung Literasi Selamat bisa menjadi contoh bagi tempat-tempat lain di Indonesia. Kami ingin berbagi pengalaman kami, memberikan inspirasi kepada orang lain. Bersama-sama, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih baik,” ujar Annisa.
Annisa Maharani Nasran
Lahir: Pontianak, 10 April 1999
Pendidikan:
- Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura, Pontianak
Aktivitas: - Pengelola Kampung Literasi Selamat
Penghargaan: - Penghargaan Aktivis Muda dari Forum Pemuda Kalbar, 2023
- Juara 1 Lomba Menulis Esai HIMAPOL Universitas Tanjungpura, 2021
- Penulis Terbaik di Pentas Sastra Pontianak, 2018
Naskah ini melupakan kliping dari Kompas, Sabtu, 6 Juli 2024.