Suster Marsela Hokor ADM, Memeluk Rapuhnya Perempuan Sumba

Wajah teduh berkerudung duduk di belakang setir. Senin (17/3/2025) siang itu, ia mengemudi mobil ke arah luar kota menuju sebuah kampung pedalaman. Gerimis yang mulai turun menandakan perjalanan bakal berisiko oleh longsor dan jalan rusak berat yang membentang di depan sana.

Oleh Fransiskus Pati Herin

Namanya Suster Marsela Hokor ADM dari biara Amalkasih Darah Mulia, kongregasi dalam Gereja Katolik yang menjalankan misi pelayanan di daerah itu, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Mereka banyak terlibat urusan kemanusiaan.

Kali ini ia memacu mobil menuju sebuah desa di Kecamatan Wewewa Tengah. Jalanan berlubang dengan jurang di sisi kiri dan kanan membuatnya hati-hati. Sesekali ia berhenti mengamati kondisi jalanan sebelum tancap gas. ”Saya harus datang karena sudah telanjur janji,” ujarnya.

Setelah lebih dari satu jam perjalanan, ia tiba di tujuan. Melihat Marsela, seorang perempuan bersama anak-anaknya menjemputnya di pintu mobil. Mereka menerima oleh-oleh berupa bahan pokok. Mereka tampak akrab. ”Bagaimana kamu punya kondisi?” tanya Marsela kepada perempuan itu, sebut saja A.

”Begini sudah,” jawab A. Maksudnya, kondisi dia seperti yang Marsela lihat. Wajah perempuan yang diwarnai kerutan itu tampak lelah, kantung matanya menebal, dan rambutnya tak rapi. Ia tampak lebih tua dari usianya yang kini 37 tahun. Seolah beban hidup yang berat tengah dipikulnya.

Sejak usia 10 tahun, A dijual ayah kandungnya ke Malaysia. Di sana ia dipaksa sebagai pekerja seks komersial. Ia lalu menikah dan dikarunia empat anak. Sekitar 20 tahun kemudian, ia pulang ke Sumba, memboyong empat anak. Ia pulang tanpa suami.

Di Sumba, A tinggal serumah bersama kakak kandungnya yang juga sudah pisah dengan istri. Tak disangka, ia dan kakaknya kemudian terlibat hubungan terlarang. Mereka dikaruniai dua anak. Perempuan A itu kini mengalami gangguan mental cukup berat.

”Saya selalu datang berkunjung karena saya tidak ingin dia terus terpuruk. Dia harus dihibur, dia harus diselamatkan, begitu juga anak-anaknya yang tidak berdosa ini,” kata Marsela sambil mengusap kepala salah satu anak. Marsela selalu menjadwalkan waktu kunjungan ke sana.

Ia sempat mengajak A untuk tinggal di tempat lain. A juga diberikan bantuan modal untuk pemberdayaan ekonomi berupa kios dan budidaya tanaman hortikultura. Sayangnya, A tidak betah. ”Kelakuan dia kadang bikin kecewa tetapi tidak ada alasan untuk meninggalkan dia,” ujar Marsela.

Selain A, Marsela juga kini merawat I (14), remaja perempuan yang ia selamatkan dari belenggu perbudakan di pedalaman Sumba empat tahun lalu. Gadis itu sejak usianya 6 tahun dipaksa menjaga ternak, berkebun, dan menjual hasil kebun di pasar dengan jalan kaki.

Sempat disekolahkan tuannya, gadis itu selalu bolos atau tidak ke sekolah jika ada pekerjaan di rumah tuan yang belum tuntas. Gadis itu lahir dari seorang ibu yang menjadi korban perdagangan orang. Setelah diselamatkan Marsela, keluarga tuan beberapa kali berusaha mengambil I yang tinggal di rumah aman.

Kini, I disekolahkan dan tinggal bersama Marsela. Ia sudah kelas II sekolah menengah pertama sayangnya perkembangan dia agak lambat dan mentalnya pun rapuh. Ia belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Marsela dengan sabar mendampingi.

Marsela juga tak henti mengunjungi perempuan korban kawin tangkap. Pada Selasa (18/3/2025), Marsela menjenguk salah satu korban di pedalaman Kecamatan Kodi Utara. Perempuan itu menjadi korban penculikan sebanyak dua kali dengan dua pelaku berbeda. Diculik untuk dipaksa kawin.

Korban diculik lalu dibawa ke laki-laki tua yang mengincarnya. Penculikan dilakukan secara kasar, di bawah ancaman parang. Korban kemudian dibebaskan tanpa proses hukum. Keluarga yang tidak berdaya mengikuti kemauan penculik.

Sebelum diculik, orang dimaksud pernah menjadi korban perdagangan orang. ”Jadi sangat rumit menjelaskan masalah yang menimpa mereka. Kasus semacam ini berlangsung terus-menerus karena banyak yang menganggapnya biasa,” katanya.

Pemberdayaan penyintas TPPO

Tak terhitung berapa banyak perempuan korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO), korban perbudakan, dan korban penculikan untuk dipaksa kawin, yang didampingi Marsela. Banyak yang butuh proses lama tetapi ada juga yang cepat bangkit dan berdaya.

Ada seorang penyintas TPPO yang dipulangkan dari Malaysia karena mengidap penyakit menular tuberkulosis. Penyintas itu memilih ke Malaysia karena dipaksa kawin setelah suaminya meninggal. Marsela mendampinginya sepulang dari Malaysia.

Yayasan Inna Saraphine Sumba di bawah Kongregasi ADM tempat Marselina bernaung memfasilitasi program renovasi rumah bagi penyintas itu. Kini, ia sudah memiliki usaha kios dan mendirikan taman baca di kampungnya yang berada di pedalaman.

Sebelum mandiri, mereka terlebih dahulu mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan Yayasan Inna Saraphine. Mereka dilatih sesuai minat dan bakat, seperti usaha kios, pertanian, dan pengolahan kue. Mereka juga diajar mengelola keuangan.

Bagi Marsela, bantuan yang diberikan kepada korban TPPO kebanyakan bersifat ”mengobati luka”. Mereka kemudian melakukan pencegahan dengan menggelar pelatihan yang dibutuhkan pencari tenaga kerja. Mereka menyebutnya pendidikan keterampilan putri. Bentuknya pelatihan menjadi asisten rumah tangga.

Selanjutnya, mereka membantu mencari penyalur tenaga kerja profesional yang diseleksi secara ketat dan memiliki rekam jejak baik. Mereka bekerja sama dengan Keuskupan Weetebula, otoritas Gereja Katolik setempat, serta pemerintah daerah, seperti dinas sosial.

Sayangnya, tidak semua calon pekerja migran mau mengikuti prosedur itu. Lantaran tekanan ekonomi dan minimnya pengetahuan, mereka diperdayai  jaringan mafia tenaga yang kemudian menjual mereka ke luar negeri. ”Butuh kerja bersama untuk memutus mata rantai ini,” ucap Marsela.

Marsela bersyukur ada di jalan ini. Dengan pemahaman dan jaringan yang dimiliki, ia bisa berbuat bagi para korban terhitung sejak tergabung dalam jaringan relawan untuk kemanusiaan di Sumba tahun 2013.

Selama membantu para korban, Marsela tidak mengalami ancaman. Ini berbeda dengan beberapa aktivis lain. Predikat yang melekat sebagai biarawati Katolik membuatnya disegani masyarakat lokal. Ia akan selalu ada di jalan ini, memeluk rapuhnya perempuan Sumba. ***


Suster Marsela Hokor ADM

Lahir: Lewotala 19 Januari 1970

Kongregasi: Amalkasih Darah Mulia

Sumber: Kliping Kompas edisi 16 April 2025.