Sophie Navita, Dua Budaya

Sophie Navita mengenang pernikahannya sebagai pertemuan dua budaya yang penuh cerita lucu. Dalam prosesi lamaran, keluarga Batak yang terbiasa seserahan berupa ikan atau kepala babi dibuat bingung oleh seserahan ala Jawa seperti parfum dan pakaian, hingga pamannya bergurau apakah parfum perlu dibuat pantun. Keluarga Jawa pun terkejut dengan jumlah undangan yang sangat banyak. Karena Sophie dan suaminya, Pongki Barata, dikenal publik, undangan 600 orang berubah menjadi sekitar 1.000, bahkan ada tamu dari gedung sebelah yang ikut hadir sehingga harus memesan siomai dadakan. Dari pengalaman itu, Sophie belajar menghormati keinginan orangtua dan menyarankan pesta sederhana, terutama di masa pandemi.

*****

Mempertemukan dua budaya dalam sebuah pernikahan memberikan kesan mendalam bagi presenter dan pembawa acara Sophie Navita. Upacara seserahan saat lamaran dan order siomai dadakan pun menjadi cerita tak terlupakan.

”Orang Batak kalau waktu lamaran biasanya seserahan isinya ikan atau kepala babi, lalu dibuat pantun. Itu adat. Ketika keluarga Jawa datang, seserahan isinya parfum, baju, semacam itu. Orang Batak enggak ngerti, lalu menerima dengan wajah yang ekspresinya sukar disembunyikan,” kenang Sophie yang berdarah Batak, saat dihubungi, Jumat (10/7/2020).

Dia ingat betul kata-kata pamannya yang ikut menerima seserahan. ”Terima kasih. Dibahas enggak ini? kata Pakde. Biasanya isi seserahan dibahas. Ini parfum mau dibuat pantun enggak?” ujarnya terkekeh.

Keluarga Jawa juga kaget ketika undangan jumlahnya sangat banyak. ”Itu sudah didiskon, kata ibuku. Itu saja masih banyak banget,” ujar Sophie.

Belum lagi karena Sophie dan suaminya, Pongki Barata, bekerja di dunia hiburan dan dikenal banyak orang, undangan berjumlah 600 orang, yang muncul 1.000 orang. ”Di gedung sebelah mau ikut datang, foto-foto. Enggak cuma sama kami, tapi juga teman-teman dan undangan yang datang. Jadilah order siomai dadakan,” katanya.

Sophie, yang baru menerbitkan buku Truth: Temukan Rasa Utuhmu, Temukan Hidup, jadi belajar bahwa kalau kita menikah, yang punya hajatan bukan kita, melainkan orangtua kita.

”Jadi, nasihatku kepada adik-adik: jangan ditolak keinginan orangtua. Cari win-win solution. Jangan sampai mereka merasa dikecilkan. Pada masa pandemi

ini, kalau tetap mau merayakan pernikahan, saranku: keep it simple. Atau buat di tempat terbuka, tidak lebih dari 30 orang,” pesannya.

Sumber: Kompas edisi 12 Juli 2020 di halaman 6 dengan judul “Dua Budaya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *