Tina Toon, Geram Banjir

Tina Toon, anggota DPRD DKI Jakarta, geram karena banjir kelima kali dalam dua bulan melanda Kelapa Gading, Cilincing. Sejak awal 2020, ia beberapa kali terjebak di rumah akibat banjir. Tina kecewa karena banjir yang berulang menunjukkan kurangnya antisipasi pemerintah. Ia prihatin dengan korban banjir, terutama warga kurang mampu yang kehilangan barang dan harus mengungsi. Saat mengecek pompa air rusak di Artha Gading Mall, Tina mendesak Pemprov DKI segera memperbaiki atau mengganti pompa tersebut. Dengan APBD besar, ia berharap penanganan banjir menjadi prioritas agar penderitaan warga tidak terus berulang.

*****

Banjir yang kelima kali dalam dua bulan terakhir di kawasan Kelapa Gading, Cilincing membuat Tina Toon yang kini menjadi anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, geram dan geregetan. “Ini saya terjebak lagi di dalam rumah, tak bisa ke mana-mana,” ujar Tina pada Selasa (25/2/2020) pagi di Jakarta.

Sejak awal 2020, Tina setidaknya sudah empat kali terjebak di dalam rumah karena wilayah di sekitarnya kebanjiran. Pada libur Tahun Baru 2020 dan Imlek ia terjebak di rumah Oma-nya yang juga berada di Kelapa Gading. Pekan lalu, ia terjebak lagi di rumah Oma-nya dan Senin dan Selasa, ia terjebak di rumahnya sendiri.

Tina Toon mengaku geram dengan banjir yang terus berulang dalam waktu berdekatan. “Banjir pertama 1 Januari 2020 anggap saja musibah. Banjir kedua pas Imlek, saya masih maklum, tapi pada banjir ketiga masak keadaan masih sama sih. Banjir baru hilang setelah tiga hari. Itu berarti tak ada antisipasi dong,” lanjut Tina yang mengarahkan kegeramannya pada pemerintah.

Ia makin geram karena korban banjir sebagian adalah kalangan tak berpunya. “Barang mereka rusak semua karena kena air, terutama furnitur, belum barang lain yang hanyut. Pengungsian para lansia dan anak-anak juga harus segera dilakukan. Kasihan dong mereka,” tambahnya.

Senin (24/2/2020), Tina mengecek kondisi pompa air di depan Artha Gading Mall, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Di sana ia bertemu Wali Kota Jakarta Utara Sigit Wijatmoko, kepala suku Dinas Sumber Daya Air, camat dan lurah setempat. Ia mendapati ada pompa untuk menyedot air banjir ternyata rusak.

“Saya tak menyalahkan pak wali kota, kepala suku dinas SDA, camat, lurah karena mereka sudah bekerja, tetapi untuk memperbaiki atau mendapat pompa baru harus ada uang dari Pemprov DKI Jakarta. APBD DKI Jakarta itu besar loh Rp 87,9 triliun. Masak soal amat penting begini tak segera didahulukan?,” tanya Tina berapi-api.

Ancaman banjir yang makin kerap terjadi membuat Tina tak bisa tidur ketika hujan mulai turun. Ia khawatir, banjir tiba-tiba datang lagi dan membuat warga menderita lagi.

Sumber: Kompas.id, Tina Toon Geram Banjir, 26 Feb 2020 05:00 WIB