Ani Ema Susanti, Dari Buruh Migran ke Sutradara Film

Saat memulai kisah perjalanan hidup dan kariernya, sutradara pemenang Piala Citra 2011 untuk film dokumenter terbaiknya, Donor ASI, Ani Ema Susanti (42), sedikit berkelakar.

Oleh Wisnu Dewabrata

Dia berseloroh kalau dulu dia justru sudah menjadi pionir dari gerakan bertanda pagar #kaburajadulu, yang belakangan viral. Seperti juga terjadi dan memicu keresahan anak-anak muda sekarang, Ani memulai petualangan hidupnya dengan menjadi buruh migran di Hong Kong. Hal itu diceritakan ibu dua anak ini saat ditemui di salah satu kedai kopi di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (19/4/2025) pagi.

Penggemar film-film dan aktor Hong Kong ini bercerita panjang lebar tentang naik turun perjalanan hidup dan kariernya. Selepas lulus sekolah favorit di kampung halamannya, SMAN 2 Jombang, Jawa Timur, Ani dipaksa keadaan menghadapi berbagai cobaan hidup. Keluarga Ani lintang pukang bertahan hidup akibat terlilit utang bank.

”Sebenarnya waktu itu ibu saya yang sudah mau berangkat jadi TKI ke Arab Saudi. Tapi, bapak melarang karena adik saya masih kecil. Saat itu bapak sedang ada utang ke bank. Saya sempat kena mental, bayangkan, orang bank yang menagih utang dulu adalah bapak teman sekolah saya sendiri,” kenang Ani.

Pada akhirnya keputusan pun diambil dan Ani memilih berangkat menggantikan ibunya menjadi pekerja migran di negeri seberang. Pilihannya waktu itu bekerja ke Hong Kong atau Singapura.

Sebelumnya, selulus SMA, Ani juga sempat melamar dan keluar masuk bekerja di beberapa pabrik atau menjadi sales kosmetik di beberapa kabupaten tetangga. Namun begitu penghasilannya tak seberapa, sementara untuk melamar ke beberapa pabrik harus punya ”orang dalam”.

Dengan berbekal nekat dan keinginan berbakti kepada orangtua, terutama melunasi utang mereka di bank, Ani berangkat ke Hong Kong setelah mengikuti pelatihan di Bekasi, Jawa Barat.

Beruntung, di Hong Kong, Ani mendapatkan majikan yang baik dan sangat pengertian. Dari mereka pula Ani merasa mendapat pengetahuan berharga tentang bagaimana sebuah keluarga itu idealnya dijalankan dan dibangun.

Pengajaran dan pengalaman seperti itu tak pernah dia peroleh, bahkan dari kedua orangtuanya. Kedua majikannya sangat baik dan bahkan sampai pernah memberinya hadiah ulang tahun sebuah jam tangan bersepuhkan emas. Ani terharu karena belum pernah ada orang perhatian dan menyelamatinya saat berulang tahun.

”Sejak awal saya kerja juga niat membiayai kuliah nanti. Saya menyisihkan sedikit uang penghasilan untuk ditabung. Kalau diserahkan semua ke orangtua, seperti mereka mau, saya enggak akan bisa menabung untuk lanjut kuliah,” ujar Ani yang saat ini juga menjadi mentor penulisan dan pembuatan film pendek untuk para pekerja migran.

Itu pun Ani masih mendapatkan cercaan dari keluarga besarnya yang menuduh dirinya berperilaku macam-macam selama bekerja di Hong Kong. Akibatnya, Ani mengaku ”kena mental” lagi dan sempat mengalami gangguan psikologis serangan rasa panik (panic attack).

Dua tahun bekerja di negeri orang, Ani kembali ke Tanah Air pada 2003 dan melanjutkan kuliah. Ia mengambil jurusan psikologi di salah satu kampus swasta di Surabaya, Jawa Timur. Sedikit banyak dengan ilmu yang dipelajarinya dia bisa menganalisis dan memperbaiki diri dari problem panic attack yang dialaminya.

Lewat pendidikan Ani meyakini dirinya akan mampu memperbaiki nasib diri sendiri. Nasihat seperti itu pernah diperolehnya dari mantan kepala sekolah saat Ani SMA. Nasihat sang kepala sekolah sangat menginspirasinya.

”Beliau juga berlatar belakang keluarga sama seperti saya. Keluarga kurang mampu. Pernah jadi loper koran. Menurut beliau, kalau tidak karena pendidikan, beliau enggak akan bisa memperbaiki nasib sampai jadi kepala sekolah. Pendidikan bisa memutus mata rantai kemiskinan. Wejangan itu selalu saya ingat,” ujar Ani.

Karya dokumenter perdana

Selama bekerja di Hong Kong Ani memang gemar menulis serta membaca buku di sela waktu senggang dan liburnya. Dia juga rajin menulis catatan pribadi pengalaman selama di sana dalam buku diary.

Sambil berkuliah Ani kerap pula menulis esai untuk kemudian dikirimkan ke beberapa media massa dan mendapatkan honorarium. Sementara itu, dari catatan-catatan buku diary semasa bekerja di Hong Kong itu Ani awalnya berencana untuk menjadikannya sebuah novel.

Sayangnya, beberapa penerbit yang dia datangi tak kunjung memberikan kabar positif. Sampai satu waktu dirinya diberi tahu seorang  rekan soal lomba pembuatan film dokumenter yang digelar salah satu stasiun televisi swasta di Tanah Air.

Berbekal bahan-bahan catatan buku harian itu dia membuat proposal film dokumenter. Untuk mempresentasikannya, Ani, yang mengaku takut bicara di depan publik, meminta bantuan seorang teman berkemampuan public speaking bagus.

Proposal Ani diterima dan dari situlah kemudian karya perdananya lahir, Helper Hongkong Ngampus (2007). Film dokumenter itu berkisah tentang pengalaman pekerja migran Indonesia yang bekerja dan mencari uang demi melanjutkan kuliah, seperti dialami dirinya.

Film itu menjadi finalis di Eagle Awards 2007 dan menang penghargaan ajang Festival Film Pemuda 2011 untuk kategori film dokumenter terbaik. Menurut Ani, mantan majikannya termasuk yang menjadi salah satu pihak yang diwawancarai dalam film dokumenternya.

Tujuannya bukan sekadar ungkapan terima kasih dan apresiasi, melainkan juga untuk memberikan konteks pada jalan cerita yang dia bangun. Terutama tentang betapa pentingnya peran asisten rumah tangga seperti dirinya bagi keluarga-keluarga di sana.

”Tanpa bantuan asisten rumah tangga mustahil bagi orang-orang seperti majikan saya bisa bekerja dan berkarier,” ujar Ani.

Menurut Ani, seperti juga diakui banyak majikan di sana, para asisten rumah tangga asal Indonesia terkenal rajin dan telaten. Saat diberi tugas mengurus anak ataupun orang jompo mereka akan bekerja dan memberikan yang terbaik.

”Tak jarang saat anak itu sudah besar mereka masih coba mencari dan menemui mantan pengasuhnya sampai ke Indonesia. Saya kenal seorang pramugari sana yang kalau terbang mintanya selalu mampir ke Indonesia,” ujar Ani.

Sebagai bentuk penghargaan dan ungkapan terima kasih Ani juga kemudian mengundang sang mantan majikan untuk hadir dalam pemutaran filmnya di Hong Kong saat itu.

Ani juga mengaku takjub semakin banyak pekerja migran terinspirasi untuk melanjutkan studi seiring semakin banyaknya kampus swasta dan Universitas Terbuka yang membuka kesempatan.

Hal itulah yang juga membuat Ani semakin yakin dunia film adalah ”jalan pedangnya”. Melalui kisah-kisah yang dia bagikan lewat medium film, Ani meyakini dirinya mampu menjangkau audiens jauh lebih luas dan lebih berdampak.

Pada 2008 karya film dokumenternya, Mengusahakan Cinta, terpilih menjadi salah satu dari Kumpulan Empat Film Dokumenter Pendek, Pertaruhan, yang diproduseri Nia Dinata. Film Mengusahakan Cinta berkisah lagi-lagi tentang perempuan pekerja migran, Ruwati, yang ragu memeriksakan rahimnya karena khawatir calon suami akan mempertanyakan keperawanannya.

Setahun kemudian Pertaruhan memenangi dua penghargaan, Dokumenter Ficer Terbaik Festival Film Dokumenter Indonesia dan menjadi film pilihan di Berlinale Panorama Section 2009.

Tahun-tahun berikutnya Ani mulai mencoba peruntungan dengan terlibat di beberapa film feature panjang, 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (2010) dan Rindu Purnama (2011), keduanya produksi Mizan Productions. Film pertama di atas menyabet tujuh penghargaan Piala Citra 2010 di mana Ani berperan sebagai asisten produser.

Kembali mencatatkan prestasi di film dokumenter, Ani memenangi penghargaan Film Dokumenter Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2011 di film yang disutradarainya, Donor ASI. Saat menggarap film dokumenter itu Ani telah memutuskan bekerja paruh waktu setelah sempat mengalami keguguran sebelumnya.

Film dan psikologi

Walau berlatar belakang pendidikan psikologi, Ani sejak awal sudah mantap memilih dunia film sebagai jalan hidup dan kariernya. Namun begitu, bukan berarti ilmu yang dipelajarinya saat berkuliah tak sepenuhnya terpakai.

Walau tak sampai berpraktik sebagai seorang psikolog, sebagai sarjana psikologi, Ani dibolehkan melakukan penyuluhan atau pemberian nasihat (counselling). Dia juga berpengalaman selama dua tahun magang di biro counselling di kampusnya.

Saat proses pembuatan film, terutama dokumenter, ada banyak metode bisa dia terapkan, terutama dalam membangun relasi dan kepercayaan, terutama dengan karakter utama dan pendukung cerita. Dengan begitu mereka bersedia untuk bersikap terbuka.

Kepercayaan seperti itu sangat dibutuhkan untuk mendapatkan cerita lengkap seutuhnya, yang kemudian akan ditampilkan dan disampaikan dalam filmnya. Hal itu dia terapkan salah satunya saat menggarap film biopic Diva Pop Indonesia, Rossa, di film All Access to Rossa, 25 Shining Years (2024).

Seperti juga pernah Kompas tulis, dalam film itu tak hanya kisah-kisah sukses dan gemerlap perjalanan karier Rossa dalam berkarier, tetapi juga ikut tergambarkan sisi jatuh bangunnya.

Salah satunya terkait kegagalan kehidupan berumah tangga Sang Diva, yang dapat dengan lengkap dipaparkan, lewat keberhasilan Ani mendapat cerita juga dari sisi sang putra tunggal Rossa dan mantan suaminya, drumer band Padi, Surendro Prasetyo alias Yoyok.

”Dalam film itu saya juga coba gambarkan bagaimana hubungan atau relasi antara anak, ibu, dan bapaknya. Banyak penonton akan relate dan terkoneksi karena mereka juga sebagai ayah dan ibu,” ujar Ani yang juga hobi menjahit pakaian anak itu.

Metode lebih kurang sama juga diterapkan Ani saat menggarap film dokumenternya terkait Orang Dengan HIV AIDS (ODHA), Perubahan Positif (2017). Film dokumenter kerja sama dengan Yayasan Spiritia, yang bergerak di bidang tersebut, diambil di beberapa lokasi, termasuk Makassar, Sulawesi Selatan.

”Yang pasti saat membuat film dokumenter itu kita harus jujur (ke narasumber) soal apa tujuan film itu dibuat. Kalau mau ayo jalan bareng. Dari beberapa yang saya temui mungkin mereka melihat saya tidak bertujuan untuk judgmental (menghakimi) ke mereka, melainkan untuk mengedukasi dan berbagi (pengalaman),” ucap Ani.

Ilmu psikologi juga sangat berguna saat menulis naskah cerita, terutama dalam membangun karakter. Salah satu cita-cita Ani yang masih terus dia upayakan untuk diwujudkan, antara lain, membangun cerita serta membuat film yang berkisah tentang kehidupan keluarga dan kesehatan mental. ***


Biodata

Nama: Ani Ema Susanti

Lahir: Jombang, 6 Agustus 1982

Pendidikan:

– Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (2003-2008)

– Beasiswa Produksi Film, SAE Institute (2012–2014)

– Policies for the Disengagement and Rehabilitation of Violent Extremists 2019, Short Term Award, Monash University–Australia Awards Indonesia (2019)

– At the forefront film directing and scriptwriting, Griffith Film School–Australia Awards Indonesia (2025)

Sumber: kliping Kompas edisi 21 April 2025.