Sarimita Andani Ataambu dan Pendidikan bagi Hamba di Sumba

Sepeda motor melaju kencang membelah sabana hijau di pengujung musim hujan, Senin (24/3/2025) siang. Di sisi kiri dan kanan terhampar rumput liar setinggi pinggang. Jauh ke tengah padang, puluhan ekor kuda, sapi, dan kerbau sengaja dilepas melahap rumput yang sebentar lagi menguning terpapar kemarau.

Oleh Fransiskus Pati Herin

Sepeda motor yang dikendarai perempuan itu berhenti di depan pagar rumah panggung papan yang terletak di sebuah kampung pedalaman. Ia baru saja menempuh perjalanan sejauh lebih kurang 74 kilometer dari Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Ia lalu masuk ke halaman rumah dengan cara menaiki pagar. Tuan rumah sengaja menutup rapat pintu pagar agar hewan seperti sapi, kuda, kerbau, dan babi yang berkeliaran tidak sampai masuk rumah. Oleh karena itu, tak masalah bila tamu masuk ke halaman dengan cara menaiki pagar.

Andani, begitu perempuan tersebut disapa. Nama lengkapnya Sarimita Andani Ataambu (26). Lulusan sarjana pendidikan matematika salah satu kampus di Sumba itu datang berjumpa dengan mantan muridnya yang pernah ia dampingi beberapa waktu lalu.

Ia menemui K (48), H (25), dan P (22). K dan H sudah mendapatkan ijazah Paket B yang setara sekolah menengah pertama. Sementara P mendapatkan ijazah Paket C atau setara dengan sekolah menengah atas.

Lembaran kertas ijazah itu tidak hanya menjadi pencapaian mereka, tetapi juga membawa Andani ke puncak kepuasan yang tak dapat ia gambarkan. ”Saya selalu terharu ketika melihat mereka memegang ijazah ini. Mereka begitu bangga akhirnya punya ijazah,” ujar Andani.

Tiga dari dua orang itu adalah hamba yang berada di bawah kuasa tuannya. Mereka tinggal di rumah tuan. Keturunan mereka bekerja sebagai hamba, mereka terlahir sebagai hamba. Mereka mengolah kebun, ternak, dan sumber daya yang dimiliki tuan.

Minta izin tuan

Selama tinggal di sana, mereka sempat disekolahkan. Namun, tidak seperti siswa lain pada umumnya. Jika ada urusan di rumah atau di kebun yang belum selesai dikerjakan, mereka belum boleh pergi ke sekolah. Bila mereka sudah telanjur berada di sekolah, mereka akan dipanggil pulang untuk membereskannya.

Mereka juga hanya bisa sekolah hingga sekolah dasar yang letaknya di dekat rumah. Itu pun tidak sampai tamat. ”Sekolah di dekat rumah supaya bisa sambil kerja. Tidak boleh jauh-jauh, nanti tuan marah,” kata salah satu dari mereka.

Sebagian perempuan yang tumbuh di pedalaman Sumba, Andani memahami relasi antara tuan dan hamba yang berdampak pada pendidikan para hamba. Hamba bekerja melayani tuan dan sering didapati, tuan tak peduli dengan pendidikan hambanya.

Ketika ada program pendidikan luar sekolah, para hamba menjadi salah satu target Andani. Ia masuk keluar pedalaman untuk mencari mereka yang ingin sekolah. Ia sering kali mendapat penolakan. Ia kemudian bernegosiasi dengan sang tuan agar mau mengizinkan hambanya ikut program pendidikan.

”Akhirnya tercapai kesepakatan bahwa hamba tidak boleh dibawa pergi untuk sekolah di Waingapu (ibu kota kabupaten). Saya yang diminta datang ke tempat para hamba dan menyesuaikan dengan waktu luangnya mereka. Saya penuhi permintaan tuan itu,” kata Andani.

Sejak 2019 Andani terlibat dalam pendidikan luar sekolah salah satu yayasan. Ia sudah menyekolah belasan hamba di Pulau Sumba. Ia melangsungkan pembelajaran di kediaman hamba dalam pengawasan tuan. Kini hamba sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan, ada yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Minimnya akses pendidikan kaum hamba berdampak pada kualitas pendidikan di Pulau Sumba. Lima tahun lalu, sebagaimana catatan Kompas, pernah dilakukan survei tentang kemampuan literasi anak-anak sekolah dasar. Hasilnya, 115.243 dari 142.275 anak belum bisa membaca dan menulis. ”Kondisi hari ini belum banyak berubah,” ujar Andani.

Hamba sekolahkan anaknya

Berkat bantuan Andani, K (45), salah satu hamba, mengikuti pendidikan dari Paket B. Pria itu sempat dipercaya sebagai pelayan gereja dan kader kesehatan di kampungnya. Meski saat berbicara terlihat malu-malu dan kurang percaya diri, K menjadi panutan banyak orang.

Setelah merasakan manfaat pendidikan, K telah menyekolahkan anak-anaknya. Yang sulung sudah masuk perguruan tinggi. ”Saya berjuang anak saya harus sekolah. Cukup saya yang tidak sekolah,” ujar K yang kini mulai keluar dari cengkeraman tuan. Sewaktu kecil, ia pernah bermimpi menjadi pekerja kantoran.

K memotivasi hamba yang lain agar berdaya dan berani keluar dari cengkeraman tuan. Disadari, banyak hamba tak punya sumber daya. Juga ada tuan yang dengan berbagai cara menekan hambanya. Hamba yang melawan atau ingin lari ditangkap, lalu dibawa pulang.

Rambu Dai Mami, salah satu aktivis perempuan di Sumba Timur, mengakui, relasi antara hamba dan tuan masih terjadi di Sumba. Kendati demikian, sudah banyak tuan atau kalangan maramba menyekolahkan anak-anak dari hambanya.

Menurut dia, perkembangan zaman perlahan mengubah cara pandang banyak kaum maramba (bangsawan). ”Banyak anak dari kalangan ata atau hamba memiliki pendidikan yang tinggi dan punya pekerjaan yang bagus,” kata Mami.

Hingga kini belum dapat diketahui berapa banyak jumlah hamba di Sumba. Jumlah hamba diperkirakan lebih banyak dari tuan sebab ada tuan yang punya banyak hamba. Praktik tuan dan hamba masih terus berlangsung, ditemukan di berbagai sudut wilayah Pulau Sumba.

Yeremias Bayoraya Kewuan, aktivis kemanusiaan di Sumba, pernah merilis film dokumenter berjudul Slave Island. Ia bercerita tentang perbudakan di Sumba. Sang tuan menjadikan hambanya sebagai budak. Film itu mendapat apresiasi di Eropa akhir Maret 2025 lalu.

Menurut Yeremias, kebanyakan anak hamba sengaja tidak disekolahkan oleh tuan agar tetap bodoh dan selamanya menjadi pekerja melayani tuan. Hamba kebanyakan datang dari orang miskin, orang yang kalah perang, atau orang yang memang sengaja dijual. Relasi hamba dan tuan susah dihilangkan.

Di sisi lain, ada kalangan maramba yang mau keluar dari zona itu. Mereka memberikan sumber daya mereka kepada hamba untuk dikelola demi hidup hamba dan keluarga. Mereka memutus mata rantai relasi antara tuan dan hamba.

Kini semakin banyak orang yang peduli dengan kehidupan para hamba di Sumba. Dengan berbagai cara, mereka mau membantu para hamba, termasuk pendidikan gratis, seperti yang dilakukan Andini. Banyak orang Sumba mengapresiasi sentuhan Andani bagi para hamba. ***


Sarimita Andani Ataambu

Lahir: Napu, 31 Maret 1999

 

Sumber: Kliping Kompas edisi 22 April 2025.