Nyoman Nuarta, Doktor untuk Pematung
Nyoman Nuarta menerima gelar doktor kehormatan dari Institut Teknologi Bandung pada 3 Juli 2021, lebih dari 45 tahun setelah lulus. Ia dinilai berjasa memopulerkan konsep culturepreneur, perpaduan seni, budaya, dan prinsip ekonomi. Konsep ini diterapkannya dalam pengembangan Garuda Wisnu Kencana di Bali dan NuArt Sculpture Park di Bandung, yang dirancang dengan perencanaan bisnis matang agar berdampak ekonomi bagi masyarakat. Dalam orasinya, Nuarta menegaskan pentingnya sinergi seni dan bisnis serta menanggapi kritik atas rancangan Istana Garuda dengan sikap terbuka.
*****
Lebih dari 45 tahun setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB), pematung Nyoman Nuarta (69) mendapat gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari almamaternya. Penganugerahan gelar doktor dilakukan secara daring dalam sidang terbuka senat ITB, Sabtu (3/7/2021), yang disiarkan dari Bandung.
Nyoman Nuarta, oleh tim promotor ITB, dinilai telah berjasa besar dalam memperkenalkan konsep dan pelaksanaan culturepreneur. Konsep ini mengacu pada sinergi antara seni dan kebudayaan dengan prinsip-prinsip ilmu ekonomi.
Konsep pendirian Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali dan NuArt Sculpture Park di Bandung mengacu pada taman kebudayaan, yang dirancang dengan mempertimbangkan business plan secara matang.
Dalam orasi ilmiahnya, Nuarta mengatakan bahwa pendirian sebuah patung harus dibarengi dengan prinsip-prinsip bisnis yang matang sehingga ia berkembang menjadi kawasan yang memiliki dampak nyata secara ekonomi kepada masyarakat sekitarnya. ”GWK adalah bukti nyata, bagaimana perpaduan dan perhitungan antara art and business menjadi prinsip utama pengembangan sebuah kawasan,” kata Nuarta.
Kesan setelah jadi doktor? ”Saya menghormati orang-orang yang mengkritik saya, terutama untuk rancangan Istana Garuda di ibu kota negara baru. Sekarang terbukti, pematung pun bisa meraih gelar doktor kehormatan,” katanya singkat.
Sumber: Kompas edisi 06 Juli 2021 di halaman 16 dengan judul “Doktor untuk Pematung”.
Leave a Reply