Salman Aristo, Membuat Album Lagu yang Terinspirasi Pandemi

Salman Aristo menyalurkan kemarahan dan frustrasi selama pandemi melalui proyek musik Ruang Potpuri Mimpi (RPM). Pada Juni 2021, ia merilis album Marah yang Kalah berisi sembilan lagu tentang marah, duka, dan kekecewaan yang dipendam, sekaligus pesan harapan bagi diri sendiri. Album yang digarap sejak 2019 itu diluncurkan bertahap lewat video musik di YouTube, seperti “Waktu Bagian Kita” dan “Radiasi Sepi”. Bermusik sejak remaja, Salman tetap setia pada dunia musik meski dikenal sebagai sineas. Sejak 2016 ia menginisiasi RPM dan juga membentuk band indie rock Lokus.

*****

Rasa marah terhadap keadaan bisa disalurkan dengan berkarya. Sutradara Salman Aristo (45) telah membuktikannya. Melalui proyek musik Ruang Potpuri Mimpi atau RPM, Salman merilis album bertajuk Marah yang Kalah, Juni lalu.

Album berisi sembilan lagu itu menyinggung topik tentang rasa marah, frustrasi, duka, dan kecewa yang harus mengendap selama pandemi. Album ini adalah surat cinta ke diri Salman sendiri bahwa perasaan negatif itu bisa dikalahkan oleh harapan.

”Album ini terinspirasi kehidupan selama pandemi. Kita berada dalam krisis, tapi bukan berarti kita dalam kondisi susah atau kekurangan. Kita harus mengunci diri justru di saat resources tersedia, ekonomi naik, industri film membaik, dan digitalisasi telah menemukan polanya,” kata Salman saat dihubungi di Jakarta, Jumat (2/7/2021).

Salman sebenarnya telah menggarap Marah yang Kalah sejak akhir 2019. Album ini akhirnya selesai pada 2021. Sejak Juni, ia telah merilis video musik dan video lirik lagu-lagu secara bertahap di Youtube, sebut saja ”Waktu Bagian Kita”, ”Radiasi Sepi”, dan ”Pelangi dalam Ruang”.

Bermusik sejak usia 13 tahun, Salman tidak pernah meninggalkan dunia musik setelah terjun di dunia film. Salman menginisiasi RPM, sebuah proyek musik kolaborasi dengan berbagai musisi sejak 2016. Dirinya juga membuat band indie rock, Lokus.

”Gue sebagai kreator selama ini lebih dikenal orang di dunia film dan audio visual. Kalau boleh cerita, pendeknya film itu cinta pertama gue, tetapi karier pertama gue adalah sebagai anak band. Meskipun bergeser, gue tetap bermusik sampai sekarang,” ujarnya.

Sumber:  Kompas edisi 05 Juli 2021 di halaman 16 dengan judul “Salman Aristo, Musik Pandemi”.
Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *