Lieke Martens, Ratu Sepak Bola Belanda

Lieke Martens menjadi sosok sentral Barcelona Femeni, sejajar dengan Lionel Messi di tim putra. Pada musim 2020-2021, Martens membantu tim menjuarai Liga Champions Putri Eropa setelah mengalahkan Chelsea 4-0 dan meraih gelar Liga Spanyol Putri dengan catatan sempurna: 26 kemenangan, 128 gol, hanya lima kebobolan. Musim itu, ia mencetak 11 gol di liga dan lima gol di Liga Champions. Martens memulai karier profesionalnya melalui perjuangan melawan stereotip sepak bola putri Belanda, sempat bermain di tim putra hingga usia 16 tahun, kemudian berkelana ke Belgia, Jerman, Swedia, dan Spanyol. Ia telah memenangkan sembilan gelar klub dan menginspirasi perkembangan sepak bola putri Belanda.

*****

Apabila di tim putra Barcelona, Lionel Messi adalah representasi dari generasi terbaik dalam 15 tahun terakhir, maka Barcelona Femeni, tim putri klub asal Catalan itu, memiliki Lieke Martens. Ia tidak hanya menjadi penguasa di Spanyol, tapi juga merajai Eropa.

Kepastian tim berjuluk “Blaugranes” menjadi raja di Eropa tercipta setelah menumbangkan Chelsea, 4-0, pada laga final Liga Champions Putri Eropa, Senin (17/5/2021) di Stadion Gamla Ullevi, Swedia.

Martens yang bermain penuh selama 90 menit, memang tidak menyumbangkan gol. Akan tetapi, ia menyebabkan pemain Chelsea melakukan kesalahan antisipasi yang menghadirkan gol bunuh diri di detik ke-33.  Ia lantas memberikan asis untuk gol pemungkas timnya yang dicetak Caroline Hansen pada menit ke-36.

Gelar Liga Champions Putri itu melengkapi trofi Divisi Utama Liga Spanyol Putri yang telah lebih dulu direngkuh Barcelona Femeni. Bahkan, Barca menjalani 26 pertandingan di liga domestik secara sempurna alias meraih 26 kemenangan. Hebatnya, “Blaugranes”  menciptakan 128 gol dan hanya kemasukan lima gol.

Keberhasilan Barca di Spanyol dan Eropa sejalan dengan penampilan individu Martens. Musim 2020-2021 adalah masa terbaik Martens berseragam Barca. Hal itu terlihat dari catatan golnya yang tertinggi sejak bergabung dari klub Swedia, Rosengard pada 2017.

Pada musim ini, Martens telah mencetak 11 gol di Liga Spanyol, kemudian menjadi runner-up pencetak gol terbanyak Liga Champions Putri dengan catatan lima gol. Sumbangan golnya di Eropa hanya kalah dari rekan setimnya, Jennifer Hermoso, yang membukukan enam gol. Jumlah gol Martens termasuk luar biasa bagi seorang pemain sayap.

Mimpi terbesar

Bagi Martens, Liga Champions adalah mimpi terbesarnya di level klub. Sejak bergabung dengan “Blaugranes” sebelum Piala Dunia Eropa 2017 dimulai, ia  menargetkan dirinya membantu Barca untuk menjadi penguasa di “Benua Biru”.

Hanya setahun tiba di Barcelona, ia  membawa timnya menembus  final edisi 2018-2019. Sayang, Barca kalah telak 1-4 dari sang juara bertahan, Olympique Lyon. Pada musim 2019-2020, Martens tidak mampu menolong timnya yang gugur di fase semifinal karena mengalami cedera jari kaki.

Ketika telah sepenuhnya bugar dari cedera yang menghantuinya sepanjang musim lalu, Martens akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya mengangkat trofi Liga Champions. Lolosnya Barca ke babak final tercipta berkat dua gol Martens pada laga semifinal kedua melawan Paris Saint-Germain, sehingga Barca unggul agregat 3-2.

“Menjadi juara Liga Champions adalah ambisi terbesar saya ketika tiba di tim ini (Barca) empat tahun lalu. Apabila terwujud di tahun ini, itu akan menjadi sejarah baru tidak hanya bagi karier saya tetapi juga untuk Barca,” ujar Martens menjawab pertanyaan Kompas dalam wawancara virtual, Rabu (12/5/2021) lalu.

Dengan menjadi juara Liga Champions, Martens menjadi pemain pertama di tim nasional putri  Belanda yang meraih seluruh gelar di level klub, mulai  liga, piala liga, hingga kompetisi antarklub Eropa. Di sisi lain, Barcelona adalah tim pertama yang merengkuh gelar Liga Champions bersama tim putra maupun putri.

Gaji kecil

Status Martens di Barcelona Femeni memang setara Messi di tim putra. Keduanya adalah pemain dengan bayaran tertinggi. Setelah memperpanjang kontrak pada 2019  hingga 2022, ia  menerima bayaran 180.000 pound sterling (Rp 3,65 miliar) per tahun yang menjadikannya pemain termahal di tim putri Barca.

Angka itu amat kecil apabila dibandingkan gaji pemain tim putra Barca. Sebagai contoh, jumlah gaji yang diterima Martens setahun setara dengan bayaran Messi dalam tiga hari.

Untuk mendatangkan Martens dari Rosengard, Barca  mengeluarkan dana transfer. Meskipun besaran nilai transfer tidak disebutkan kedua tim, Martens menjadi  pemain pertama yang membuat Barcelona Femeni rela mengeluarkan biaya untuk merekrutnya. Padahal, ketika dikontrak Barca, ia baru berstatus sebagai pemain muda dengan potensi terbesar di Eropa.

Penilaian tim pencari bakat Barca kepada Martens tidak salah. Hanya sebulan setelah diperkenalkan sebagai pemain baru “Blaugranes”, ia langsung mempersembahkan gelar Piala Eropa pertama bagi timnas putri Belanda. Keberhasilan di Piala Eropa Putri 2017 membuat ketenaran Martens makin melambung.

Pada tahun itu, ia mengawinkan gelar individu Pemain Terbaik Putri di Eropa versi UEFA serta Pemain Terbaik Putri di Dunia versi FIFA. Prestasi itu pun belum pernah dicapai oleh pesepak bola Belanda lainnya, baik pemain putra maupun putri.

Kejayaan timnas Belanda di Piala Eropa 2017 meningkatkan pamor Martens sekaligus sepak bola putri di “Negeri Kincir Angin” itu. Kemenangan Belanda 4-2 atas Denmark di partai puncak juga menjadi titik balik bagi sepak bola putri di Belanda yang tidak pernah berprestasi sebelumnya. Sebuah gol dan asis Martens di laga final menjadikannya pemain terbaik di turnamen itu.

“Ia (Martens) adalah seorang pemain sayap brilian yang selalu mampu menjadi inspirasi bagi timnya ketika menghadapi tekanan dan sorotan di pertandingan besar,” tulis Paul Saffer, editor sepak bola putri UEFA.com.

Dua tahun berselang, timnas putri Belanda menembus partai puncak Piala Dunia Putri untuk pertama kali. Sayang, di partai puncak, Belanda gagal menaklukan penguasa sepak bola putri, Amerika Serikat, dengan skor 0-2. Adapun Piala Dunia Putri di Perancis 2019 menjadi  keikutsertaan kedua Belanda setelah Piala Dunia Kanada 2015. Martens pun satu-satunya pemain Belanda yang mampu mencetak gol di dua edisi Piala Dunia Putri.

Belum puas

Untuk berada di puncak karier saat ini, jalan Martens tidak mudah. Ia sempat kesulitan mencari klub, sehingga harus bermain dengan tim putra hingga usia 16 tahun. Ia juga sering dianggap sebelah mata karena mimpinya menjadi pesepak bola profesional. Sebab, pada awal dekade 2000-an, sepak bola putri Belanda belum berkembang. Selain itu, belum ada liga profesional.

Meskipun sempat bergabung dengan klub Belanda, Heerenven ketika berusia 17 tahun, Martens memilih bertualang ke Belgia, Jerman, Swedia, dan Spanyol untuk mengembangkan kariernya. Ia telah mengoleksi sembilan gelar di level klub. Petualangannya pun telah memberikan dampak positif bagi prestasi timnas putri Belanda.

Dengan sumbangsih besarnya bagi perkembangan sepak bola putri Belanda, Martens masuk dalam daftar 25 wanita paling berpengaruh di olahraga internasional versi majalah bisnis terkemuka, Forbes pada 2018. Namun, ia  belum puas dengan berbagai prestasinya.  Ia masih memiliki impian yang ingin diwujudkannya.

“Saya berambisi mempersembahkan medali emas untuk Belanda di Olmpiade Tokyo. Untuk di luar sepak bola, saya ingin melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi komunitas di sekitar saya dan dunia,” kata pemain bertinggi 1,7 meter itu.

Sumber: Kompas edisi 20 Mei 2021 di halaman 16 dengan judul “Lieke Martens, Ratu Sepak Bola Belanda”.

Author photo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *