Rifqi Maulana, Peternak Sapi di Belantara Ibu Kota Jakarta
Rifqi Maulana (34) melanjutkan usaha peternakan sapi perah keluarga di Jakarta, meski kini hanya tersisa beberapa keluarga yang menekuni profesi ini. Dengan 42 sapi perah di rumah Mampang Prapatan, plus sapi di Depok dan Duren Tiga, Rifqi memproduksi sekitar 600 liter susu per hari yang cepat habis. Ia tetap mempertahankan metode tradisional, sambil menyesuaikan dengan kebersihan dan kesehatan sapi modern. Rifqi juga mengelola usaha tahu yang ampasnya menjadi pakan sapi, serta mengembangkan sapi potong dan pembibitan. Permintaan tinggi mendorong keluarga ini menekuni inovasi produk berbasis susu dan tetap mempertahankan usaha turun-temurun.
*****
Sapi adalah hidup bagi Rifqi Maulana (34). Sejak ia lahir, suara sapi akrab di telinganya. Hingga usaha turun-temurun ini tiba di tangannya, ia mantap melanjutkan dan mengembangkan peternakan di tengah kepungan gedung jangkung Ibu Kota.
Teras rumah di Jalan Mampang Prapatan XV Nomor 2 tampak sibuk, Rabu (16/6/2021). Dua pekerja menyaring susu yang baru saja diperah. Dengan cekatan, mereka mengemas susu ke plastik, masing-masing berisi 1 liter atau 2 liter. Hilir-mudik pembeli selama proses pengemasan membuat bungkusan susu sapi ludes dalam satu jam saja.
Susu itu berasal dari 42 sapi perah yang ada di kandang keluarga, tepat di belakang rumah itu. Ada pula enam ekor sapi perah yang ada di kandang keluarga di Duren Tiga, Jakarta, serta 30 ekor di Depok. Kandang ini dikelola oleh Rifqi dan kakak-kakaknya. Mereka adalah generasi ketiga peternak sapi perah yang tersisa di kawasan itu.
”Dulu, orang Betawi di sini usaha ternak sapi perah. Jumlahnya sekitar 20 keluarga. Tetapi sekarang tinggal sekitar empat keluarga yang masih pelihara sapi, termasuk kami,” tutur Rifqi.
Sebagian peternak memilih mengganti kandang sapi menjadi usaha yang lebih ”kota”, seperti rumah kontrakan. Selain membutuhkan kerja fisik yang cukup berat, risiko beternak sapi memang tergolong tinggi. Jika seekor saja mati, kerugian bisa mencapai Rp 40 juta atau lebih.
Di tengah tantangan itu, Rifqi memilih tetap meneruskan usaha yang dirintis kakeknya. ”Ekonomi kami ya dari sapi ini. Orangtua saya bilang, ’Kamu bisa kuliah juga karena sapi. Sapi ini yang bayarin kamu’,” tuturnya.
Selain keluarga besar Rifqi, sapi-sapi ini juga menghidupi 13 pekerja.
Menyesuaikan zaman
Sebagian cara beternak masih tetap sama, seperti proses pemerahan yang masih manual. Hanya saja, aspek kebersihan mendapatkan perhatian saat ini.
Beda zaman juga membuat perlakuan terhadap sapi berubah. ”Dulu, kalau ada sapi sakit, kami bawa ke tanah kosong punya tetangga di belakang kandang. Di situ, sapi dijemur biar sehat. Sekarang, lahan itu sudah jadi rumah. Kalau sapi sakit, saya langsung konsultasi ke dinas (DKPKP) dan dokter akan langsung datang memeriksa sapi,” papar anak bungsu dari enam bersaudara ini.
Agar sapi lebih nyaman, Rifqi menyiapkan tumpukan rumput di sekitar sapi sakit untuk alas tidur sapi yang sakit ini.
Ia mengakui, memelihara sapi bukan perkara mudah saat ini. Di tengah keterbatasan lahan, ia mesti berupaya menjaga kesehatan ternaknya, terlebih dari penyakit menular yang mematikan. Pihak dinas, kata Rifqi, juga sering memperbarui informasi ke kelompok sapi setempat apabila ada sapi yang sakit.
”Kalau pas ada sapi yang sakit, saya harus ekstra waktu memantau kesehatannya dan berkoordinasi dengan dinas,” katanya.
Tidak hanya penyakit, Rifqi juga mesti menjaga ternaknya agar tidak stres lantaran stres bakal berimbas pada penurunan produksi susu. Berada di tengah kota yang cenderung panas saja membuat produksi susu sapi perkotaan sebesar 60-70 persen dibandingkan sapi yang diternak di perdesaan atau daerah berhawa sejuk. Pemberian pakan tambahan atau konsentrat menjadi upaya untuk menjaga produksi susu sapi.
Rifqi menambahkan, sebagian besar tetangganya merupakan warga lama sehingga mereka bisa memaklumi adanya peternakan di sekitar mereka. Namun, itu bukan alasan peternak tidak memperhatikan kebersihan lingkungan guna menjaga kesehatan hewan sekaligus meminimalkan ketidaknyamanan tetangga mereka.
Persoalan limbah, misalnya, terus diupayakan penanganannya. Rifqi tengah mengikuti pelatihan budidaya maggot yang bisa membantu mengurai limbah padat peternakannya. Selama ini, limbah padat sebagian diambil oleh petani di kawasan Puncak, Jawa Barat.
Melebarkan sayap
Selain sapi perah, Rif
qi juga meneruskan usaha pembuatan tahu yang diwariskan ayahnya. Tercatat ada 34 pembuat dan pedagang tahu di bawah naungannya. Di bawah setiap produsen tahu, ada beberapa pekerja. Total ada 90 tenaga kerja yang berkecimpung di bisnis tahu ini. Selain menyediakan tempat, Rifqi juga menyiapkan bahan baku pembuat tahu.
Bisnis tahu ini punya keterkaitan dengan sapi. Ampas tahu merupakan pakan sapi, selain rumput gajah. Semasa hidupnya, H Mardani, ayah Rifqi, mengumpulkan ampas tahu dari para perajin dan menjualnya ke peternak sapi. Keuntungan dari penjualan ampas tahu itu dikumpulkan dan dibelikan sapi perah dari HM Sjafi, kakek Rifqi.
Lama-kelamaan, sang ayah akhirnya membuka usaha pembuatan tahu. Simbiosis mutualisme tahu dan sapi membuat bisnis ini juga dilanjutkan Rifqi.
Kini, ampas tahu saja yang bisa diproduksi sendiri sebagai pakan sapi. Rifqi mengaku sudah tidak sanggup lagi mencari rumput pakan sapi lantaran area tempat hidup rumput sudah teramat jauh dari rumahnya. ”Dulu di Pancoran ada lahan rumput. Sekarang, cari rumput mesti jauh. Saya enggak sanggup lagi. Jadi, saya beli dari penjual rumput yang biasa memasok ke Jakarta Selatan,” katanya.
Selain menjalankan usaha warisan, Rifqi juga melirik peluang sapi potong, terutama untuk hewan kurban. Sejak tahun 2005, ia menjajaki usaha ini. Beberapa tahun terakhir, sapi potong Rifqi dipilih sebagai hewan kurban pimpinan negara ini, termasuk oleh Presiden Joko Widodo pada Idul Adha 2020. Untuk Idul Adha tahun ini, Rifqi menyiapkan 54 ekor sapi.
Bersama kakaknya, Rifqi juga mengembangkan usaha pembibitan sapi di Depok. Selain bisa menambah pemasukan, mereka juga bisa mendapatkan calon induk sapi perah yang berkualitas.
Usaha sapi potong dan pembibitan sapi menjadi semacam tabungan dan bonus bagi Rifqi sekeluarga lantaran uang diterima dalam jumlah besar apabila seekor sapi terjual. Sapi berbobot 900 kilogram ke atas dijual mulai Rp 90 juta. Sebagian besar uang diinvestasikan lagi ke peternakan sapi.
Adapun usaha sapi perah tetap dilanjutkan sebagai pemasukan harian bagi keluarga ini. Rata-rata mereka menjual 600 liter susu sapi sehari.
”Sebenarnya, permintaan jauh di atas kemampuan produksi kami. Apalagi kalau akhir pekan, ada ratusan liter permintaan yang tidak bisa kami penuhi. Saya tanya ke teman-teman sesama peternak, mereka juga tidak punya stok susu sapi karena sudah terserap,” tuturnya.
Pemandangan di teras depan Rifqi mengonfirmasi tingginya permintaan itu. Sebagian susu dibeli pengelola restoran, sebagian lagi dibawa loper susu yang sudah memiliki pelanggan tetap masing-masing, dan sebagian kecil kantong susu dibeli tetangga Rifqi.
”Kalau bisa mengembangkan lahan, produksi susu sapi bisa ditambah karena permintaan juga masih terbuka. Tetapi, susah mendapatkan lahan di Jakarta saat ini,” ucapnya.
Keluarga besarnya juga melirik pengembangan produk berbahan baku susu seperti yoghurt. Saat ini, pengembangan produk itu baru tahap awal.
Melihat kecukupan pendapatan dari sapi, Rifqi mengaku tidak pernah sedetik pun terpikir untuk mengakhiri bisnis keluarga ini dan beralih ke profesi kantoran yang banyak dijalankan warga perkotaan. Ia tetap menekuni dunia sapi perah. ”Tetapi, entah ya kalau besok-besok ada perubahan aturan kota. Selama masih boleh beternak, saya lanjutkan usaha ini,” ujarnya.
Sumber: Kompas edisi 25 Juni 2021 di halaman 16 dengan judul “Secuil Peternak Sapi di Jakarta”.
Leave a Reply