
Pawanasuta, Penyebar Semangat Sastra di Kalangan Anak Muda
Ida Bagus Pawanasuta (54) sejak akhir 1990-an aktif mendorong generasi muda menekuni sastra di Bali melalui Sanggar Tutur dan Komunitas Sastra Lentera (2008). Ia membimbing siswa menulis puisi, musikalisasi puisi, dan karya sastra lain secara sukarela, serta meminjamkan buku dan membantu biaya penerbitan antologi. Pawanasuta juga memberi teladan dengan menerbitkan karya sendiri, seperti Pangasih Pamero (2005) dan novel Tresna Tuara Teked (2019) yang meraih Anugerah Sastra Rancage. Ia menekankan pentingnya buku fisik untuk melegalkan karya, menulis sebagai perayaan hidup, dan berhasil menumbuhkan kecintaan pada sastra di kalangan anak muda.
*****
Sejak akhir 1990-an, Ida Bagus Pawanasuta (54) merangkul siswa SMA dan anak muda untuk menulis sastra. Ia yakin, dari aktivitas yang ia lakukan secara sukarela itu, akan lahir anak-anak muda yang mengakrabi sastra.
“Semuanya dijalani dengan kegembiraan, tanpa bayaran. Mereka yang datang, saya apresiasi. Kami sama-sama belajar,” ujar Pawanasuta dengan nada merendah, Selasa (14/4/2020), di Klungkung, Bali.
Ia mengaku senang berbagi dan menyemangati anak-anak muda untuk terus menekuni sastra. Mereka yang hobi baca puisi, ia dorong mulai menulis puisinya sendiri. Yang sudah senang menulis, didorong untuk menerbitkan tulisannya menjadi buku, baik berbahasa Bali maupun Indonesia.
“Bagaimanapun penerbitkan buku (fisik) itu perlu,” kata guru di SMA Semarapura, Klungkung, Bali yang juga sastrawan ini. Lewat buku fisik, karya-karya terlegalisasi sebagai penyemangat generasi. Tentunya dengan catatan, semua karya harus dibuat sungguh-sunggu dan dikurasi dengan baik.
Pawanasuta tidak hanya bicara. Ia juga memberi teladan kepada anak-anak didiknya dengan menerbitkan buku-buku sastra seperti kumpulan puisi Bali seperti Pangasih Pamero (2005), gaguritan Aji Palayon Transformasi Kakawin Aji Palayon (2006), kumpulan puisi Bali Sayonge Joh (2007). Ia juga menulis novel berbahasa Bali Tresna Tuara Teked (2019) yang meraih Anugerah Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage Bandung, Januari lalu. Ia mengaku kaget mendapatkan anugerah itu.
Beberapa penghargaan yang ia terima, bagi Pawanasuta, merupakan bonus dari kegiatannya memperkenalkan sastra kepada anak-anak muda. Ia mengaku tidak menulis atau berkegiatan untuk mendapatkan anugerah. Buat dia, menulis adalah sebuah perayaan atas perasaan, atas alam, situasi yang ada di sekitarnya, dan perayaan atas anugerah yang Tuhan berikan.
Tak kenal usia
Pawanasuta jatuh cinta pada sastra sejak ia menggeluti puisi dan musikalisasi puisi saat duduk di bangku SMA. Dunia sastra dan seni memang bukan hal asing dalam kehidupan Pawanasuta. Ia biasa melihat ayahnya, Ida Bagus Putu Adnyana, berkarya sebagai pelukis maupun pemain drama.
Jalan hidup kemudian membawa Pawanasuta menjadi guru bahasa Inggris di beberapa SMA. Meski begitu, “hasratnya” untuk menggeluti sastra tak pernah padam. Ketika ia mengajar di SMA 1 Dawan pada 1998, ia melihat murid-muridnya memiliki talenta yang baik di bidang sastra.
Agar talenta-talenta itu bisa dipupuk, ia membangun Sanggar Tutur bagi murid-murid yang suka puisi, musikalisasi, serta menulis. Beberapa anak didiknya di sanggar itu, sampai sekarang masih berkarya.
Lantaran pindah tugas mengajar ke SMA 2 Semarapura, Klungkung, Pawanasuta terpaksa meninggalkan Sanggar Tutur. Namun, ia tetap menyediakan dirinya pada anggota Sanggar Tutur yang ingin konsultasi.
Di tempat mengajarnya yang baru, ia juga menemukan talenta-talenta di bidang sastra. Ia memupuk talenta-talenta itu dengan mendirikan Komunitas Sastra Lentera pada 2008 yang terdiri dari tiga lini yakni teater, musikalisasi puisi dan “nyurat” (menulis).
Pawantasuta telaten mengajari anak-anak yang tergabung dalam komunitas secara “ngayah” (tanpa memungut bayaran). Ia meminjamkan buku-buku sastranya kepada anggota yang tidak mampu beli buku.
Ia mengajak anak-anak komunitas saweran untuk membiayai penerbitan buku antologi puisi. Ia kadang membantu membiayai anggota komunitas yang sungguh-sungguh ingin menerbitkan buku. Setidaknya ia berusaha mencarikan sponsor.
Pawanasuta bangga bukan main ketika salah seorang dari 80-ang anggota komunitasnya lolos seleksi untuk Program Belajar Bersama Maestro dari Direjen Kebudayaan tahun 2019, dan belajar bersama maestro Iswadi Pratama di Lampung selama 14 hari. Pencapaian itu membuat Pawanasuta makin giat untuk menjaga semangat menulis sastra di kalangan anak muda agar terus membara.
Sumber: Kompas edisi 20 April 2020 di halaman 16 dengan judul “Ida Bagus Pawanasuta, Penyebar Semangat Sastra”.
Leave a Reply