Adhitya Herwin Dwiputra, Mendorong Lahirnya Petani Muda

Adhitya Herwin Dwiputra (27) berupaya mengubah citra petani di Indonesia agar menarik bagi anak muda. Melalui gerakan Aku Petani Indonesia, ia mengajak generasi muda terjun ke sawah, menjadi wirausahawan pertanian, dan menjalankan koperasi. Sejak 2016, Adhit memanfaatkan media sosial untuk mengedukasi soal persoalan petani dan kebutuhan pangan masa depan, serta melibatkan mahasiswa lintas disiplin. Gerakannya telah menjangkau 25.000 anak muda dan membina lebih dari 50 petani muda ahli. Ia juga membuat proyek budidaya porang skala perusahaan untuk mendorong pertanian prospektif, menekankan kesejahteraan petani sebagai kunci regenerasi generasi baru.

*****

Selama ini, petani Indonesia lekat dengan citra miskin,  tua, dan jauh dari kata keren. Makanya, generasi muda jarang yang mau menjadi petani. Adhitya Herwin Dwiputra (27) berusaha mengajak anak muda untuk mengubah citra itu dengan terjun sebagai petani.

Adhit mulai kampanye tentang sektor pertanian pada 2016 lewat media sosial. Ia mengunggah persoalan-persoalan yang dihadapi para petani dan kebutuhan pangan di masa depan. Ia, misalnya, memberikan ilustrasi bahwa pada 2035-2045 kebutuhan pangan akan meningkat seiring pertambahan penduduk.

Kebutuhan beras saja diperkirakan akan naik 100 juta ton. Pertanyaannya siapa yang akan menyediakan kebutuhan pangan itu jika tidak ada regenerasi petani dari sekarang.

Regenerasi petani jadi pekerjaan rumah yang besar buat Indonesia. Sensus Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018 oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan, dari sekitar 27 juta rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian, kepala rumah tangga petani di Indonesia didominasi warga berusia 45 tahun ke atas. Kepala rumah tangga petani usia 25-44 tahun hanya 9,2 juta. Di bawah  usia 25 tahun hanya  191.000 ribu.

“Kami ingin anak anak-anak muda, apapun latar belakang pendidikannya, ikut memikirkan persoalan ini dan mencari solusi bersama,” ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu, yang dihubungi dalam beberapa kesempatan pada 2020.

Inisiatif ini  mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk para senior dan dosennya di UGM. Adhit pun melangkah lebih lanjut. Bersama rekannya, Iftikar, ia membentuk gerakan Aku Petani Indonesia. Lewat gerakan ini mereka merancang kampanye sistematis untuk mendorong anak muda terjun ke sektor pertanian.

Pada 2018, gerakan ini mendatangi kampus-kampus yang ada di Aceh, Medan, Palembang, Banten, Bogor, Jawa Tengah, dan Jawa Timur untuk kampanye pertanian. Salah satu programnya membuat kompetisi inovasi pertanian bagi siswa  SMA dan mahasiswa. Pemenangnya diberi modal Rp 3 juta untuk menerapkan inovasi mereka.

Ia juga  mengajak anak muda turun ke kebun atau sawah, lantas  menjadi wirausahawan pertanian, dan menjalankan koperasi. Ia yakin itu semua bisa menghidupkan pertanian dan ekonomi kerakyatan. “Kami mendorong kolaborasi, mengajak anak muda memahami problem pertanian dan ikut berperan di dalamnya,” ujar Adhit yang kini memiliki tim untuk mengurus kampanye Aku Petani Indonesia.

Anak muda yang tidak atau bergelut di dunia pertanian juga bisa ikut urun pemikiran. Mahasiswa Fakultas Hukum, misalnya, bisa mengkaji  Undang Undang Agraria agar peluang alih fungsi lahan pertanian bisa ditekan. Mahasiswa Hubungan Internasional bisa  menyumbang pemikiran mengenai diplomasi dan negosiasi untuk ekspor produk pertanian.

Sejauh ini, lanjut Adhit, gerakan Aku Petani Indonesia telah menyentuh sekitar 25.000 anak muda di berbagai kesempatan. Ia senang karena kampanye-kampanye regenerasi petani di kalangan anak muda, termasuk yang ia lakukan, mulai memperlihatkan hasil.

Daftar  petani milenial yang berasal dari jaringannya semakin panjang. Ia juga melihat data survei  BPS memperlihatkan jumlah petani milenial bertambah meski angkanya  belum signifikan.  “Dulu susah nyari  petani muda. Sekarang kami punya lebih dari 50 petani muda ahli,” ujarnya.

Adhit juga menemukan obrolan di kalangan mahasiswa pertanian saat ini mulai bergeser. Di masa ia kuliah dulu, mahasiswa pertanian ngobrol bagaimana bisa kerja sebagai PNS di Kementerian Pertanian atau perusahaan perkebunan kelapa sawit. “Sekarang mahasiswa pertanian semangat  diskusi soal entrepreneur pertanian, startup pertanian, aplikasi pertanian, mengembangkan hidroponik, dan urban farming,” tuturnya.

Pokoknya pertanian

Adhit berasal dari keluarga yang menggeluti pertanian di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Hal itu membuatnya tertarik pada bidang pertanian. Ketika ia lulus SMA, ia mantab memilih kuliah bidang pertanian di UGM. Saat kuliah, ia membuat gerakan  Gamaku Kebunku untuk mengkampanyekan pentingnya menanam minimal satu pohon di kos atau tempat tinggal mahasiswa.

Saat penerimaan mahasiswa baru, komunitas Gamaku Kebunku secara mencolok membuat gerai yang dihiasi banyak tanaman supaya mahasiswa tertarik mendekat. Lalu, Adhit dan teman-teman membagikan brosur berisi kampanye untuk menanam satu pohon di kos atau tempat tinggal.

Lulus dari UGM, ia kembali ke kampungnya untuk mengurus kebun kopi orangtuanya. Di situ ia menemukan, persoalan petani dari dulu sampai sekarang tidak berubah, yakni hasil panen minim dan harga produk  pertanian rendah. Akibatnya, hidup petani merana dan bisa miskin selamanya.

Pengalaman itulah yang mendorong dia membuat gerakan sosial di bidang pertanian dengan nama Aku Petani Indonesia untuk mendorong anak muda terjun ke sektor pertanian. Awalnya, ia membiayai kampanye gerakan itu dari uang pribadi yang disisihkan dari gajinya sebagai pegawai sebuah perusahaan pertanian. Kini, ia dan tim mencari dana kampanye lewat jualan kaus cenderamata, kerja sama dengan pihak lain, dan jasa konsultasi.

Adhit sendiri telah membuat proyek percontohan budidaya porang skala perusahaan di Madiun. Jawa Timur. Saat ini, harga umbi porang bagus di pasar dunia. “Enggak bisa lagi  pemerintah menyuruh petani harus nanam padi atau tanaman yang kepastian harganya tidak jelas. Petani harus sejahtera. Jadi kami ajak untuk menanam tanaman yang prospektif dan berjuag untuk kepastian harga,” ujarnya.

Kalau petani bisa sejahtera, lanjut Adhit, tanpa diminta pun anak muda akan melirik lagi sektor pertanian. Saat itulah, regenerasi petani akan berjalan.

Sumber: Kompas edisi 13 Januari 2021 di halaman 16 dengan judul “Adhitya Herwin Dwiputra, Mendorong Lahirnya Petani Muda”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *