
Sri Mulyani, Tukang Kebun
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersyukur mendapat dukungan penuh orangtua untuk aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler sejak sekolah. Ia mengibaratkan peran orangtua seperti tukang kebun yang memberi ruang bagi keragaman minat anak tanpa memaksakan kehendak. Dukungan itu membuatnya terlibat dalam OSIS, olahraga, Pramuka, paduan suara, dan kegiatan lain. Menurutnya, anak tidak hanya perlu cerdas secara akademik, tetapi juga peka, logis, dan percaya diri. Ia juga mengenang sikap orangtua yang bijak saat dirinya mendapat nilai buruk, sehingga rasa percaya dirinya tetap terjaga.
*****
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merasa bersyukur kedua orangtuanya mendukung kesepuluh anaknya untuk selalu aktif bekegiatan saat masa sekolah. Dukungan penuh orangtua pun dimanfaatkan Sri untuk mengikuti banyak kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Dia mengandaikan mengasuh anak itu seperti menjadi tukang kebun.
Itu dia baca dari Washington Post. ”Karena sebagai gardener, orangtua harus mengizinkan keragaman atau diversity dari tiap anak. Jangan anak dipaksa. Kalau zaman dulu, kan, orangtua suka maksa untuk kasih kursus ini, kursus itu. Saya rasa di zaman sekarang, dengan peran orangtua seperti gardener, ada benarnya. Saya jadi orangtua juga enggak yang selalu mengajari anak. Saya bebaskan anak untuk bertanya ke saya atau orang lain untuk menggali sesuatu yang ingin diketahui,” tutur Ani.
Dia lalu menjelaskan masa-masa sekolahnya. ”Saya diminta aktif di eksul. Saya ikuti mulai dari OSIS, basket, Pramuka, paduan suara, dan sejumlah eksul lain. Anak-anak disuruh aktif biar pulang sudah capek,” ujar Sri yang akrab disapa Bu Ani ini saat jadi pembicara di acara daring Cerita Kemenkeu Mengajar Episode Khusus soal Pendidikan di Masa Pandemi, Senin (26/10/2020).
Kegiatan terkait olahraga, bernyanyi, membaca buku, dan berorganisasi menarik minat Bu Ani. ”Anak enggak hanya perlu pandai akademik. Perlu juga diasah kepekaan dan logikanya,” ujar Ani.
Ani mengenang saat sekolah pernah mendapat nilai merah. Padahal, kakak dan adiknya juara kelas. Namun, Ani bersyukur, orangtuanya tidak marah, malah menanggapi nilai merah dengan nada bercanda.
”Dibilang kaya lipstik warnanya. Orangtua saya tahu cara meningkatkan rasa percaya diri anaknya,” kenang Ani.
Sumber: Kompas.id, Sri Mulyani Tukang Kebun, 12 Nov 2020 12:30 WIB
Leave a Reply