Moch Dirhamsyah, Merawat Ingatan tentang Pekalongan

Moch Dirhamsyah (49) menekuni jurnalistik sejak kecil karena kegemarannya membaca dan mendengar radio. Ia fokus merawat sejarah Pekalongan, kota kelahirannya, melalui radio dan komunitas, seperti Pekalongan Heritage Community, Festival Kalonganan, Ngaji Sejarah, dan Omah Sinau Sogan. Dirham membuat program radio tentang kearifan dan sejarah lokal, menulis buku, melakukan riset arsip, serta mendorong pemerintah mendirikan depo arsip. Kegiatan ini menjangkau milenial dan masyarakat luas. Pandemi mendorongnya beralih ke webinar dan konten daring. Dirham menegaskan pentingnya menjaga sejarah Pekalongan agar tetap hidup, seiring kota terus berkembang dan ramai dikunjungi.

*****

Kegemarannya membaca buku dan mendengarkan radio sejak kecil membawanya kepada dunia jurnalisme. Tidak sampai di sini saja, jurnalisme menjadi pintu masuk Moch Dirhamsyah (49) untuk merawat sejarah kota kelahirannya, yaitu Pekalongan, Jawa Tengah.

Pekalongan yang penuh dengan kisah diangkat hingga menjadi cerita renyah bagi semua kalangan. Di mata Dirham, Pekalongan sangat menarik karena berada di jalan utama pantai utara yang sejak dulu sudah dilirik VOC.

Pekalongan juga merupakan daerah yang terkena tanam paksa sehingga Pekalongan dan sekitarnya berubah total. Pada masa kolonial itu di Karesidenan Pekalongan terdapat 17 pabrik gula.

Orang-orang banyak datang ke Pekalongan hingga kota itu berubah sangat luar biasa. Pendirian industri batik menjadikan kota itu makin ramai. Pekalongan menjadi kosmopolitan apalagi ketika ada kereta api dan pelabuhan. Pada masa pergerakan kemerdekaan, Pekalongan juga menjadi lokasi kongres dan muktamar berbagai organisasi.

Perjalanan Dirham ke posisinya kini diawali tahun 1991 saat ia lulus SMA dan sempat kuliah meski ia akui akhirnya berantakan. Ia kemudian bekerja di sebuah lembaga pendidikan komputer tahun 1993. Setelah itu ia bekerja di sebuah pabrik elektronik di Cikarang, Bekasi. Namun, bekerja di pabrik sepertinya bukan dunianya.

Ia pulang kampung pada 1995 dan bekerja di sebuah bank perkreditan rakyat. Dirham pun sempat mencoba bisnis pakaian dan berbagai macam barang. Sekali lagi ia merasa tak cocok. ”Saya menyadari dunia bisnis memang enggak cocok buat saya,” ujarnya.

Dunia jurnalistik

Setelah reformasi tahun 2000 ketika kebebasan pers muncul sehingga banyak media, ia ikut belajar jurnalistik. ”Saya bekerja sebagai reporter di radio Bahureksa Suara Pekalongan serta jadi kontributor beberapa radio nasional dan internasional,” ujar  Dirham. Ia juga sempat menjadi reporter media cetak di Tegal bernama Nirmala Post.

Ia mengaku belajar jurnalistik secara otodidak. Di dunia jurnalistik ini ia merasakan kebebasan dan bisa berekspresi. Tak lama setelah tercemplung di dunia jurnalistik, ia bertemu dengan Eha Kartanegara, wartawan senior yang sempat bekerja di beberapa media nasional.

Pada 2003 Eha pulang kampung ke Pekalongan dan bertemu dengan beberapa anak muda di kota itu. Dirham mengakui Eha adalah gurunya. Darinya Dirham belajar lebih komplet tentang jurnalisme.

Perihal jatuh ke dunia jurnalisme radio, ia bercerita bahwa sejak kecil ia suka mendengar radio BBC dan sandiwara radio di radio lokal. Radio diakuinya membuat wawasannya bertambah.

Ia juga melihat radio pada masa lalu ternyata menjadi alat perjuangan. Di tengah informasi yang deras saat ini, ia juga melihat radio tetap menjadi alat perjuangan, yaitu sebagai alat melawan kabar hoaks. Apalagi penggemar radio di daerah masih kuat.

”Di radio saya membikin program yang tidak bisa dibikin oleh media lain, yaitu tentang kearifan lokal dan sejarah lokal,” kata Dirham. Acara ini dimulai ketika ia pindah ke Radio Kota Batik pada 2008. Ia yang memulai karier sebagai reporter mulai mengumpulkan bahan dan membuat laporan tentang sejarah dan kisah masa lalu Pekalongan.

Sejarah dipilih karena ia suka membaca. Banyak buku yang dibaca makin membikin penasaran karena Pekalongan sering disebut di berbagai sumber sejarah.

Acara di radio dengan tema Pekalongan masa lalu ternyata bersambut. Banyak pendengar yang minta agar acara itu diteruskan dan sebaiknya tidak berhenti.

Komunitas sejarah

Dari acara radio ini akhirnya malah muncul komunitas pencinta sejarah, yaitu Pekalongan Heritage Community. Ia yang menjadi salah satu pendiri komunitas ini langsung bersemangat bekerja karena Pekalongan masuk dalam jaringan kota pusaka.

”Kepedulian komunitas terhadap sejarah Pekalongan makin kuat karena ternyata banyak bangunan yang beralih fungsi. Satu bangunan mempunyai nilai sejarah, tetapi kadang kita tak peduli dengan bangunan itu karena orang lebih mementingkan ekonomi sehingga kita melupakan sejarah. Kita sampai beraudiensi dengan DPRD dan pemerintah sehingga keluar peraturan daerah tentang perlindungan cagar budaya,” kata Dirham.

Dirham tidak hanya menjadi penggerak di Pekalongan Heritage Community, tetapi juga ikut dalam menggerakkan Festival Kalonganan yang berbasis anak muda, komunitas Ngaji Sejarah yang berbasis santri, serta Komunitas Omah Sinau Sogan yang berbasis teater dan sastra.

Di komunitas Festival Kalonganan, ia memperkenalkan sejarah Pekalongan kepada milenial dengan membuat acara jelajah rutin. Jelajah dilakukan dengan cara yang tidak serius, tetapi dengan cara cerdas.

Dari berbagai kegiatan ini, ia menyempatkan diri membuat riset dan menulis hingga menjadi beberapa buah buku. Sebuah riset tentang kesalahan penulisan di makam pahlawan dan prasasti pernah dilakukan.

Beberapa buku telah diterbitkan bersama rekan-rekannya, antara lain Asal Usul Nama Kelurahan di Pekalongan dan Ensiklopedia Tokoh Pekalongan. Dengan Pemerintah Kebupaten Pekalongan, ia dan beberapa orang membuat buku Babad Kabupaten Pekalongan. Secara mandiri, ia telah menerbitkan buku Pekalongan Tak Terlupakan.

Dirham juga tengah membuat dua buku tentang Pekalongan semasa pendudukan Jepang dan Pekalongan saat dikelola oleh bupati keturunan Tionghoa, yaitu tahun 1707-1726 dan 1726-1742. Dua bupati yang merupakan bapak dan anak itu tergolong kaya.

Mereka sempat surat-menyurat dengan VOC. Si bapak membuat surat 32 kali dan anaknya sekitar 5 kali. Mereka merasakan panen kopi pertama dari Jawa dengan produktivitas yang sangat tinggi. Mereka mempunyai kebun kopi di Pekalongan dan Semarang.

Dirham dan rekan-rekannya juga mendorong pemerintah setempat mempunyai depo arsip. Pada 2015 usulan itu muncul dan kini Pekalongan sudah memiliki depo arsip sehingga arsip-arsip Pekalongan makin terawat.

Untuk melengkapi koleksi arsip, mereka juga membikin sedekah arsip agar orang mau menyumbangkan arsip-arsip yang berkaitan dengan Pekalongan karena kadang-kadang masih dimiliki keluarga. Akuisisi dilakukan hingga menjadi aset digital. Harapannya, jika ada orang hendak meriset Pekalongan, menjadi lebih mudah.

Di tengah pandemi saat ini, Dirham dan rekan-rekannya memilih membuat webinar dan memproduksi konten secara daring agar terap terhubung dengan para peminat sejarah Pekalongan. Mereka tidak bisa untuk bertemu, tetapi dengan teknologi, sejarah dan kisah kota itu tetap mengalir di dunia maya.

Kini Pekalongan masih terus berubah dan makin banyak dikunjungi orang karena pariwisata. Baginya, apa pun yang terjadi, sejarah Pekalongan tidak boleh ada yang hilang sampai kapan pun.

Sumber: Kompas.id, Moch Dirhamsyah Merawat Ingatan tentang Pekalongan, 15 Agt 2020 05:07 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *