Astrid Sulaiman, Nasi Bungkus

Musisi jazz Astrid Sulaiman (40) di Bali terdampak pandemi Covid-19, termasuk berhentinya Ubud Village Jazz Festival. Bersama suaminya, Yuri Mahatma, Astrid menyalurkan kreativitas lewat Mensikus (Manajemen Nasi Bungkus). Donatur, disebut Sahabat Penderma, membeli nasi bungkus yang dimasak Astrid melalui Rekan Dapur. Menu sehari-hari meliputi nasi putih, sayur, dan lauk seperti telur dadar, semur, atau ayam sisit. Nasi dibagikan 50 bungkus per hari dari Senin hingga Jumat di berbagai lokasi, termasuk kawasan nelayan dan pemulung. Aktivitas itu menguatkan Astrid, memberi rasa syukur, dan menghadirkan kebahagiaan melihat penerima tersenyum meski ia sempat merasa jobless.

*****

Musisi jazz Astrid Sulaiman (40) yang tinggal di Bali merasa gundah terhadap pariwisata di Pulau Dewata. Pandemi Covid-19 seakan meluluhlantakkan kehidupan masyarakat. Selain berwisata alam, panggung hiburan praktis terhenti, termasuk Ubud Village Jazz Festival, yang biasa digarapnya bersama kawan-kawan musisi.

”Enggak ada kepastian kapan virusnya berlalu. Seniman masih bisa kreatif gelar musik virtual. Lha, para pekerja lain pasti kena dampaknya. Sampai-sampai saya kangen berbagi nasi bungkus lagi,” kata Astrid dalam percakapan di Bali, Senin (26/10/2020).

Astrid bersama suaminya yang juga musisi, Yuri Mahatma, sedikit banting setir. Dengan kemahiran masak, dia mewujudkan ide temannya yang bikin Mensikus alias Manajemen Nasi Bungkus. Konsepnya, ada donatur disebut Sahabat Penderma yang ”membeli” sejumlah nasi bungkus dari Rekan Dapur.

Astrid sebagai Rekan Dapur memasak dan membagikan nasi bungkus itu. Masakan sehari-hari, seperti nasi putih, sayur, dan lauk. Ada telur dadar, semur, terong tiram, ayam sisit, dan lain-lain. Lokasinya, terserah. Ada yang dibagikan di pinggir Jalan By Pass Nusa Dua, kawasan nelayan dan pemulung, serta kompleks bedeng di Jimbaran.

Nasi bungkus dibagi 50 bungkus per hari, dari Senin hingga Jumat, selama dua bulan. ”Capek, sih. Bagi saya, saya lebih dikuatkan dan bersyukur karena masih bisa ’cukup’ walaupun terkadang merasa down akibat jobless. Namun, begitu melihat senyum mereka yang menerima nasi gratisan itu, rasanya sesuatu yang enggak bisa dibayar,” ujar Astrid.

Sumber: Kompas.id, Astrid Sulaiman Nasi Bungkus, 03 Nov 2020 19:22 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *