Sri Murdani, Banting Tulang Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

Sri Murdani mendirikan TK Mutiara Hati pada 2016 untuk mendidik anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga tidak mampu di Borobudur, Magelang. Mayoritas murid menunggak iuran, sehingga Sri harus mencari dana tambahan, termasuk mengolah hasil kebun yang diberikan orangtua menjadi keripik. Ia juga menutup biaya operasional dengan pendapatan dari lembaga bimbingan belajar miliknya. Berawal dari pengalamannya sebagai guru pendamping di sekolah inklusi, Sri menyadari perlunya sekolah khusus yang mampu memenuhi kebutuhan anak-anak ini. Dengan ketekunan dan ilmu yang terus dipelajari, Sri berkomitmen memberikan terapi, pendampingan, dan pendidikan penuh kasih untuk mengembangkan potensi mereka.

*****

Berbekal hati dan perasaan, Sri Murdani (43) mengurus dan mendidik anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga tidak mampu di TK Mutiara Hati. Ia bahkan mesti banting tulang mencari dana untuk membiayai kegiatan operasional sekolah yang ia dirikan pada 2016 itu.

Sri mengatakan, mayoritas anak didiknya berasal dari keluarga tidak mampu. Sekitar 90 persen dari mereka lebih sering menunggak daripada membayar iuran sekolah sebesar Rp 25.000-Rp 50.000 tiap bulan. ”Karena tidak punya uang, beberapa orangtua murid sering membayar saya dengan hasil kebun, seperti rumput pegagan ataupun daun kelor,” ujar Sri, Senin (3/8/2020), di Magelang, Jawa Tengah.

TK Mutiara Hati menempati sebuah rumah kontrakan di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang. Murid-muridnya adalah anak-anak yang perkembangan bicaranya lambat, menderita epilepsi, down syndromecerebral palsy, dan lain-lain. Demi kebutuhan mereka, Sri tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi layanan konsultasi kapan saja kepada murid dan orantuanya. Di luar itu, ia memberi terapi pijat kepada murid-murid dengan metode yang ia pelajari dari seorang dokter spesialis saraf di Yogyakarta.

Beragam layanan itu tidak memberi pemasukan berarti pada kas sekolah. Pasalnya, hampir semua layanan untuk murid dan orangtua diberikan secara cuma-cuma. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, Sri mesti ”akrobat” menggali sumber dana lain. Jika ada orangtua membayar sekolah dengan daun kelor atau pegagan, misalnya, Sri dan guru lain mengolahnya jadi keripik untuk dijual.

Sumber pendapatan lebih besar ia peroleh dari lembaga bimbingan belajar yang didirikan. Saat ini, bimbel itu memiliki ratusan siswa. ”Pemasukan dari lembaga bimbingan belajar ini saya pakai untuk menambal kekurangan biaya operasional di TK,” ujarnya.

Dilempar dan dipukul

Sri lulus kuliah dari Universitas Negeri Semarang tahun 2000. Ia kemudian menjadi guru wiyata di beberapa sekolah dan lembaga bimbel. Tahun 2010, ia diterima bekerja di SD Negeri Mendut yang merupakan SD inklusi. Ia bertugas sebagai guru pendamping anak-anak berkebutuhan khusus.

Awalnya, ia berpikir pekerjaannya akan sama saja dengan yang ia jalani di sekolah lain. Ternyata, di SD inklusi ini, ia mesti mengarahkan dan mengendalikan perilaku anak-anak berkebutuhan khusus di kelas. Tugas ini memberi pengalaman luar biasa kepada Sri.

”Setiap hari saya dicakar, dipukul, dan dilempar dengan berbagai macam benda. Setelah seminggu bekerja dan terus-menerus mengalami hal yang sama, saya sempat merasa tidak betah dan ingin berhenti saja,” katanya mengenang.

Ia berusaha menguatkan diri dan terus bekerja. ”Saya cuma berpikir, masa iya saya kalah sama anak-anak kecil itu,” ujarnya.

Sri berusaha lebih keras untuk mempelajari karakter dan kebutuhan anak-anak didiknya. Ia menggali aneka referensi cara memahami perilaku anak didik. Belakangan, melalui media sosial, ia berkenalan dengan seorang dokter saraf dan dosen kelas difabel di Universitas Negeri Yogyakarta. Sri kerap berkonsultasi bagaimana cara menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Ilmu yang ia peroleh ia praktikkan di kelas.

Ia juga berusaha menambah pengetahuan dan pengalamannya. Ia bergabung dengan sekolah inklusi, SMP Negeri 2 Mertoyodan, sebagai guru pendamping. Dari pengalamannya di lapangan, ia kemudian menyimpulkan, sekolah inklusi sebatas tempat untuk bersosialisasi dan tidak akan mampu mengembangkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus secara optimal. ”Anak-anak berkebutuhan khusus tetap membutuhkan sekolahnya sendiri,” katanya.

Berangkat dari kesimpulan tersebut, Sri terinspirasi membangun sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus sendiri. Ia berpikir, sekolah ini pasti dibutuhkan karena sekolah inklusi yang ada di Magelang kerap menolak beberapa anak berkebutuhan khusus yang ingin mendaftar sebagai murid.

”Sekolah inklusi biasanya membatasi diri karena mereka sendiri juga tidak memiliki cukup tenaga guru yang mampu menangani anak-anak tersebut,” ujarnya.

Sri akhirnya mewujudkan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus yang ia impikan pada 2016. Ia memilih jenjang sekolah TK karena ingin mengasuh dan mendidik anak-anak berkebutuhan khusus sejak dini. Sri mendapatkan bantuan sarana dan prasarana pendidikan dari donatur. Namun, sempat terjadi kesalahpahaman dengan donatur yang mengakibatkan bantuan mainan dan alat-alat pendukung pembelajaran yang sudah diberikan diambil kembali tepat sehari sebelum sekolah dibuka. Untungnya, kesalahpahaman bisa diatasi dan bantuan diberikan lagi.

TK Mutiara Hati awalnya berjalan dengan lima murid. Jumlah murid terus berkembang dan saat ini tercatat ada 52 orang. Selain dari Kecamatan Borobudur, mereka datang dari sejumlah kecamatan lain, seperti Muntilan, Tempuran, Salaman, bahkan dari Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Semuan guru TK berasal dari tenaga guru yang bekerja di lembaga bimbingan belajar milik Sri.

Sri menjelaskan, semua guru harus siap menghadapi perilaku anak-anak berkebutuhan khusus yang unik. Kadang murid mogok belajar atau melakukan hal-hal yang mengagetkan, seperti merobohkan lemari buku.

Tidak semua orang bisa menghadapi anak berkebutuhan khusus dengan baik, termasuk orangtuanya sendiri. Dalam kasus lambat bicara, misalnya, lanjut Sri, ada orangtua murid yang menganggap anaknya bisu tuli sehingga memberikan alat bantu dengar. Padahal, anaknya hanya membutuhkan perhatian dan stimulus.

Sri berharap, apa yang ia lakukan bisa membantu menginspirasi orang lain untuk menangani anak berkebutuhan khusus. Merawat sepenuh hati dan membantu mengembangkan potensi mereka dengan segenap keikhlasan.

Sumber: Kompas edisi 21 Agustus 2020 di halaman 16 dengan judul “Sri Murdani, Mendidik dengan Hati”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *