
Suvi Wahyudianto, Jadi Diri Sendiri
Pelukis muda Suvi Wahyudianto (28) dari Bangkalan, Madura, tampil dalam Bicara Rupa-Instagram Live di Galeri Nasional Indonesia, Jumat (5/6/2020). Lulusan Pendidikan Seni Rupa Unesa ini menekankan bahwa menjadi seniman berat hanya jika tidak menjadi diri sendiri. Karyanya mengaitkan memori masa kecil dengan kondisi kini; sejak SD Suvi suka menggambar di tanah, dan kini melukis di atas gerabah. Tema karyanya, “Sesimpangan, Berjejalan”, mencerminkan keyakinan sebagai penuntun dalam keruwetan hidup. Suvi menetap di Bangunjiwo, Bantul, dan baru membuat tungku untuk karya gerabahnya. Salah satu karyanya menyoroti sapi karapan Madura, mengaitkan relasi kuasa dan ritual makan bersama.
*****
Pelukis muda dengan karya-karya gemilang kelahiran Bangkalan, Madura, Suvi Wahyudianto (28), dihadirkan Galeri Nasional Indonesia dalam Bicara Rupa-Instagram Live, Jumat (5/6/2020). Ada warganet menanyakan, apakah tidak berat menjadi seniman? Suvi menjawab dengan penuh senyum.
”Kadang memilih jalan kesenian itu terasa sangat berat. Tetapi, menjadi berat itu ketika kita tidak menjadi diri sendiri,” ujar Suvi, lulusan Jurusan Pendidikan Seni Rupa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang pernah memenangi kompetisi Painting of The Year UOB 2018 untuk Indonesia dan Asia Tenggara.
Perbincangan Bicara Rupa dipandu Desy Novita Sari dari kemitraan Galeri Nasional Indonesia dengan tema ”Sesimpangan, Berjejalan”. Suvi menentukan tema itu yang bermakna keyakinan menjadi penuntun di tengah keadaan yang berjejalan itu.
Suvi seperti sufi. Ia mengejar kemurnian hati di setiap langkahnya.
”Aku berkarya dari dalam tubuhku. Bagiku, studio terbesar adalah tubuhku,” ujar Suvi, yang berkarya melukis itu mengaitkan memori dengan situasi kekiniannya.
Suvi kini menetap di Bangunjiwo, dekat desa gerabah Kasongan, Bantul, Yogyakarta. Ia baru saja membuat tungku bakar untuk karya-karya lukisnya di atas gerabah.
”Memori sewaktu SD dulu saya sering menggambar di atas tanah dengan menggoreskan benda tajam seperti arit. Gambar ninja atau sapi yang aku suka,” kata Suvi, yang menelaah sapi untuk karapan di Madura untuk pertarungan relasi kuasa sebagai tugas akhir kuliahnya.
Lukisan kemudian dihadirkan berupa tulang-belulang sapi dan sate di tengah meja makan. Para pemegang relasi kuasa sebelumnya mengelu-elukan sapi-sapi itu.
”Kita kemudian ramai-ramai memakan sate sapi karapan itu. Tubuh kita inilah makam-makam yang berjalan bagi para sapi itu,” ujar Suvi.
Sumber: Kompas.id, Suvi Wahyudianto Jadi Diri Sendiri, 25 Jun 2020 02:35 WIB
Leave a Reply