
CIRO ALVES, Terpuruk dan Bangkit Lagi
Saat merayakan kepastian gelar juara BRI Liga 1 2024/2025 pada Senin (5/5/2025), di Graha Persib, Bandung, Jawa Barat, banyak pendukung tim meneriakkan keras satu nama pemain. Ciro Alves! Menjadi salah satu yang disayang bobotoh, sebutan untuk pendukung Persib, musim ini adalah saat terakhir bagi Ciro berseragam biru.
”Ciro, Ciro, Ciro,” begitu para bobotoh itu berteriak.
Terus dipanggil, si empunya nama lantas nongol tidak lama kemudian dari lantai dua Graha Persib. Ciro melambaikan tangannya sembari tersenyum. Dia lantas menyalakan suar. Saat suar menyala, teriakan bobotoh kian keras.
Dikenal pemalu dan irit bicara, tidak banyak kata yang Ciro ucapkan kepada bobotoh. Kepada Kompas, ia menyebut tidak bisa berkata banyak. Dia hanya ingin menikmati momen bahagia ini.
Namun, kali ini, dia tampaknya kesulitan menyembunyikan haru di wajahnya. Itu semakin terlihat ketika beberapa pemain Persib memeluknya.
”You are the best,” kata Victor Igbonefo, pemain senior Persib.
Momen bobotoh berteriak memanggil namanya, pelukan kawan satu tim, dan haru di wajah Ciro bukan tanpa alasan. Musim depan, dia tidak akan ada di Bandung. Di usia menyentuh 35 tahun, Ciro sudah memutuskan hengkang dari Persib.
Namun, dia menyakinkan hatinya akan tetap biru, merujuk pada warna seragam Persib. ”Saya pergi tapi sebagian dari diri saya akan selalu tetap di sini. Kalian adalah kekuatan saya di setiap pertandingan, baik senang maupun sulit,” kata Ciro.
Perpisahan itu bisa jadi menyakitkan. Tiga musim terakhir, Ciro adalah nyawa Persib. Saat pemain lain cedera atau seret gol, dia tetap produktif. Penampilan di lapangan mencolok sejak memperkuat Bandung tahun 2022.
Hingga tahun 2025, ia mencetak 107 penampilan dengan 35 gol dan 33 asis. Musim terhebatnya ada di 2023/2024 saat membawa Persib juara liga untuk ketiga kalinya.
Dia bermain sebanyak 31 kali dan mencetak 14 gol serta 12 asis. Pencapaian ini membuatnya disebut sebagai sayap serang terbaik yang pernah dimiliki Persib.
Namanya bahkan sempat mencuat sebagai pemain terbaik liga musim lalu. Namun, ia kalah dari gelandang serang Madura United Francisco Rivera. Madura United adalah tim yang dikalahkan Persib di babak final.
“Menyenangkan bila mendapat gelar pribadi. Namun, bermain di hadapan puluhan ribu bobotoh dan memberikan juara untuk Persib itu jauh lebih membanggakan,” kata Ciro.
Bermain apik dan menjadi nyawa tim jelas bukan perkara mudah bagi semua pemain Persib. Tekanan dari puluhan ribu bobotoh kerap membuat kemampuan terbaik pemain tidak muncul.
Akan tetapi, itu sepertinya bukan hal baru bagi Ciro. Ia sudah pernah merasakan tekanan yang jauh lebih sadis.
Melihat sepak terjangnya sebelum berlaga di Indonesia, Ciro terbilang istimewa. Dia satu dari sedikit pemain asing di Liga 1 yang pernah memakai seragam Tim Nasional Brasil.
Meski hanya mengoleksi satu laga bersama Timnas U20, tercatat sebagai anggota Selecao muda, jelas bukan hal mudah. Saat itu, Ciro berlaga untuk Brasil di Piala Dunia U-20 di 2009.
Teman seangkatannya adalah eks Timnas Italia, Rafael Toloi, peraih Piala Champions bersama Barcelona Douglas hingga bintang Juventus dan Bayern Muenchen, Douglas Costa.
Bermain bersama negaranya, kemampuan Ciro sudah ditempa sejak muda. Dia tercatat pernah membela tim-tim di Brasil yang memiliki stadion berkapasitas lebih besar dari Persib.
Fluminense, misalnya, punya stadion dengan kapasitas 82.000 kursi. Atau, ada Atletico Paranaense yang stadionnya berkapasitas 42.000 tempat duduk.
Meski begitu, Ciro mengakui kariernya juga bukan tanpa cela. Pernah meroket bersama timnas muda Brasil, kariernya anjlok saat ayahnya meninggal. Dia mengaku terpukul. Ciro bahkan sempat enggan bermain sepak bola. ”Saya kehilangan banyak waktu untuk berkembang,” katanya.
Beruntung, Ciro lekas menemukan kembali kepercayaan diri. Pertemuan Ciro dengan istrinya, Maria Eduarda, menyelamatkan kariernya.
Setelah hengkang dari klub Uruguay Club Deportivo Maldonado, ia lantas mencoba peruntungan di Asia. Dia sempat membela klub asal Thailand, Chonburi FC, sebelum datang ke Indonesia untuk membela Persikabo mulai 2019.
Permainannya selama tiga musim bersama Persikabo sukses mencuri perhatian tim-tim besar Indonesia. Pada saat terakhirnya bersama Persikabo di musim kompetisi 2021/2022, misalnya, Ciro bermain 32 kali. Dia mencetak 20 gol dan 5 asis.
”Saat musim itu berakhir, semua tim di Liga 1 meminta saya bergabung,” kata Ciro.
Salah satunya yang meminta dia bergabung adalah Persib. Namun, Ciro yakin benar kala itu Persib bukan tim yang menawarkan gaji paling besar. Ada tim lain yang hendak memberi gaji dua kali lipat dari yang ditawarkan Persib.
Akan tetapi, kata Ciro, tawaran Persib adalah yang paling sulit dia abaikan. Sejak awal bermain di Indonesia, Persib menjadi incarannya. Dia suka dengan atmosfer puluhan ribu penonton saat Persib bermain.
Seperti gayung bersambut, bobotoh juga sudah lama jatuh hati. Banyak pendukung Persib sejak lama kagum pada kemampuan Ciro.
Salah satu contohnya saat Persib menjamu Persikabo dalam pertandingan tanpa penonton di Bali pada 2022. Meski Persikabo kalah 0-1, penampilan Ciro membuat kagum bobotoh setelah pertandingan usai. Dia seperti kesetanan ngotot bikin gol meski tak ada yang berbuah manis.
Apalagi, Ciro adalah tipe pemain baik-baik dan jauh dari gosip. Dia tak suka pergi ke hiburan malam. Hari-harinya dihabiskan di lapangan bola atau di rumah bersama anak dan istrinya.
Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemain sopan. Ia menjadi satu-satunya pemain asing yang selalu mencium tangan Manajer Persib Umuh Muchtar saat bersua. Rekaman berbagai gambar dia mencium tangan Umuh kerap viral dan banyak tersebar dimana-mana.
”Saya kira itu bagus. Semakin sedikit anak muda hormat kepada orang yang lebih tua. Itu teladan yang bagus untuk anak-anak,” ujar Ciro.
Akan tetapi, laga di musim pertama bermain bersama Persib jauh dari sempurna. Dia cedera patah tulang kecil di bahu kiri di awal musim. Itu membuatnya gagal bersinar karena terlalu lama tidak bermain.
Saat permainannya sudah kembali, Tragedi Kanjuruhan menahan dia bermain apik lagi. Di akhir musim, Persib duduk di peringkat ketiga di bawah PSM Makassar dan Persija Jakarta.
Pada musim 2023/2024, Ciro mulai unjuk gigi. Suksesi pelatih dari Rene Alberts ke Luis Milla lalu Bojan Hodak tidak menghentikan permainan atraktif di lapangan.
Fisiknya kuat. Gocekannya juga maut. Duetnya dengan David da Silva sukses membawa Persib juara Liga 1 setelah mengalahkan Madura United di babak final.
Tahun ini, di musim terakhirnya bersama Persib, Ciro juga jatuh bangun. Saat badai cedera menghantam Persib, Ciro menjadi pemain asing yang kerap bermain penuh. Dari 31 laga, ia hanya absen sekali.
Tidak jarang dia menangis saat gagal memanfaatkan peluang atau gagal membawa Persib menang. Hingga pekan ke-31, dia sudah mencetak 6 gol dan 13 asis.
Oleh karena itu, saat mimpi itu terancam gagal terwujud, ia sangat kecewa. Penyebabnya, ia mendapat kartu merah saat berlaga melawan Malut United di Ternate.
Dia dianggap wasit telah menyikut pemain lawan. Kartu merah membuatnya mesti absen di dua laga selanjutnya. Salah satu laga yang bakal dia lewatkan adalah pertandingan kandang terakhir Persib musim ini.
”Saya bukan pemain seperti itu (kerap melakukan pelanggaran). Saya ingin bisa bermain di laga terakhir di hadapan bobotoh,” kata Ciro sembari berharap hukuman itu bisa ditinjau kembali.
Sejauh ini, satu-satunya kartu merah sepanjang membela Persib itu masih akan mewarnai akhir perjalanan kariernya di Bandung. Namun, apa pun hasil akhirnya nanti, Ciro bakal akan selalu menjadi mantan terindah bagi Persib.
DATA SOSOK:
Nama: Ciro Henrique Alves Ferreira Silva
Tempat, Tanggal Lahir: Salguerio (Brasil), 18 April 1989
Sumber: Kliping Kompas edisi Kamis 8 Mai 2025