
Ifa Isfansyah, Yogyakarta untuk Film Abracadabra
Ifa Isfansyah adalah produser dan sutradara yang membuat film berdasarkan cerita yang ingin ia angkat, bukan karena tren genre tertentu. Hal ini tercermin dalam film Abracadabra (2020), yang ia garap pada 2018 di Yogyakarta. Film ini mengisahkan pesulap Lukman yang kehilangan keyakinan akan keajaiban. Ifa memilih Yogyakarta sebagai lokasi syuting karena keindahan alamnya, kedekatan lokasi, dan masyarakatnya yang mencintai seni. Selain itu, kemudahan perizinan dan ketersediaan pemain lokal membuat proses produksi lebih lancar. Baginya, kenyamanan berkarya lebih penting daripada mengikuti arus genre, sehingga karyanya lahir dari keinginan tulus untuk bercerita.
*****
Bagi produser dan sutradara Ifa Isfansyah, membuat film bukan karena dia tertarik dengan genre film tertentu. Dia tidak akan membuat film hanya karena belum pernah membuat film genre A atau B misalnya. Begitu pula ketika membuat film Abracadabra.
Film itu berkisah tentang Lukman (Reza Rahadian) seorang grand master sulap yang tidak percaya keajaiban lagi. Dia berencana berpamitan melalui pertunjukan sulap terakhirnya. Saat itu dia memasukkan anak kecil ke dalam kotak dan Lukman mengucapkan mantra abracadabra agar si anak menghilang. Namun, Lukman tak bisa mengembalikan si anak. Kotak itu pernah dimiliki banyak penyulap besar, termasuk ayah Lukman.
“Film itu dibuat pada 2018 di Yogyakarta, tetapi baru tayang pada Januari 2020. Banyak orang bilang genre film itu baru. Saya tidak mengejar itu. Saya ingin mengangkat cerita itu saja,” kata Ifa di Jakarta, Senin (6/1/2020).
Ifa memilih Yogyakarta karena kota itu sangat kondusif untuk membuat film. Banyak tempat menarik dan banyak orang suka kegiatan seni. “Mau wilayah apa saja, sawah, kebun, laut, pantai, pegunungan, kafe, atau lokasi lain, mudah dicari dan jaraknya tak jauh dari bandara atau hotel,” ucap Ifa.
Selain itu, banyak kemudahan, seperti mencari pemain pendukung lain, sehingga tidak perlu membawa dari Jakarta. Begitu pula soal perizinan tidak membuat kepala pening. “Shooting di sana enak dan mudah,” ujar Ifa.
Sumber: Kompas edisi 09 Januari 2020 di halaman 12 dengan judul “Ifa Isfansyah, Memilih Yogyakarta “.
Leave a Reply