I Made Marlowe, Makaradhwaja Bandem, Pemburu Arsip Budaya Bali

I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem mendirikan Arsip Bali 1928 untuk merepatriasi, merestorasi, dan menyebarkan dokumen seni budaya Bali tahun 1930-an agar generasi muda memahami akar budayanya. Berkolaborasi dengan peneliti AS Dr Edward Herbst, ia menemukan piringan hitam langka, film bisu, dan foto-foto tokoh serta kelompok seni Bali. Sejak 2013, tim memugar rekaman, film, dan foto yang kemudian dirilis dalam lima volume CD dan DVD lengkap dengan penelitian. Didukung CUNY dan Mellon Foundation, arsip ini menampilkan cuplikan ritual, gamelan, tari, hingga tokoh legendaris Bali. Dokumentasi dapat diunduh gratis, dan antusiasme publik memacu Marlowe terus melacak arsip budaya yang tercecer.

*****

I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem (46) bertekad melengkapi sejarah seni dan budaya Bali yang tersimpan di sejumlah museum luar negeri. Ia merintis pendirian Arsip Bali 1928 tujuh tahun lalu, yang bertujuan repatriasi, restorasi dan penyebaran dokumen bersejarah Bali masa tahun 1930-an. Semua demi generasi muda Bali agar tetap mengenal asal usul seni budayanya.

“Saya ingin anak muda setidaknya tahu sejarahnya budayanya. Harapannya, anak muda bisa menari itu tidak hanya pandai tetapi juga memahami bagaimana sejarahnya. Dan referensi itu minim ditemui di perpustakaan yang ada di Bali,” kata Marlowe yang tengah berada di Australia, Selasa (28/4/2020).

Ide-ide repatriasi dan restorasi itu dikerjakan dengan berkolaborasi bersama peneliti asal Amerika Serikat, Dr Edward Herbst.

Marlowe menuturkan, semua berawal saat ia menemukan rekaman dan film-film tentang seni gamelan serta rekaman nyanyian berbentuk format piringan hitam 78 rpm. Piringan hitam ini karya label rekaman Jerman, Odeon & Beka, yang direkam tahun 1930-an langsung di Bali. ”Piringan hitam ini merupakan koleksi aural terlengkap di jaman itu,” ujarnya bersemangat.

Namun, piringan hitam ini langka. Agen Odeon & Beka hanya mengedarkan sedikit di luar negeri dan lainnya dimusnahkan karena tidak terlalu laku di Bali.

Begitu pula film-film bisu mengenai budaya Bali zaman itu, yang dibuat serta diproduksi oleh Colin McPhee, Miguel Covarrubias dan Rolf de Maré, tidak pernah secara resmi diterbitkan. Film-film itu selama puluhan tahun hanya tersimpan di pusat-pusat arsip di luar negeri.

Begitu pula foto-foto tentang kesejarahan modern Bali di masa tahun 1930-an, di antaranya karya Colin McPhee, Walter Spies, Arthur Fleischmann, dan Jack Mershon.

Kelahiran Arsip Bali 1928 ini, tutur Marlowe, terinspirasi dari upaya Dr Edward Herbst yang dengan tekun selama bertahun-tahun mengumpulkan aneka piringan hitam budaya pada masa Bali sekitar tahun 1928-1929. Peneliti asal AS itu mengumpulkannya dari berbagai pusat arsip di seluruh dunia.

Kedekatan mereka pun menghasilkan kolaborasi untuk merepatriasi dan merestorasi arsip budaya Bali ini sejak 2013. “Kami pun membentuk tim. Sekitar 2013 hingga 2015, sejumlah dokumentasi berupa rekaman suara, film serta foto dipugar. Perjalanan itu sungguh menyenangkan bagi seluruh tim yang terlibat. Tahun 2015, hasil Arsip Bali 1928 diluncurkan di Bentara Budaya Bali,” ujar Marlowe.

Kekayaan koleksi audio tersebut dipugar kembali kualitasnya oleh etnomusikolog Allan Evans dari Arbiter of Cultural Traditions di New York, AS. Cuplikan-cuplikan film disunting oleh tim STMIK STIKOM Bali. Hasilnya dihadirkan dalam lima volume CD dan DVD, juga disertai naskah-naskah hasil penelitian Herbst.

Penelitian dan penerbitan rekaman-rekaman bersejarah Arsip Bali 1928 ini didukung sepenuhnya oleh The City University of New York (CUNY) yang menerima hibah dari The Andrew W Mellon Foundation dan melibatkan Herbst sebagai koordinator proyek.

Film-film yang sudah direstorasi ini tak hanya berkisah tentang panorama alam Bali di era tahun 1930-an. Isinya juga mengungkap tokoh-tokoh dan seka (kelompok) legendaris Bali, seperti Ida Boda, I Marya, I Sampih, I Gede Manik, Gong Jineng Dalem, Ida Pedanda Made Sidemen, Ni Nyoman Polok & Ni Luh Ciblun (Légong Kelandis), Gamelan Palégongan Kapal, Ni Gusti Made Rai & Ni Gusti Putu Adi (Légong Belaluan), dan I Wayan Lotring (Gamelan Gendér Wayang Kuta).

Cuplikan-cuplikan lain termasuk pementasan Barong Kebon Kuri, Gambang di Pura Kawaitan Kelaci, Légong Saba, Gamelan Gong Luang Singapadu, Baris Goak Jangkang Nusa Penida, Jangér Kedaton, Gamelan Geguntangan Batuan, Barong Landung, dan Jangér.

Beberapa ritual penting seperti upacara Nangkluk Mrana, pelbagai upacara piodalan dan ngabén pun termasuk dalam pemutaran film ini.

“Masyarakat dapat menguduh cuplikan film, rekaman suara, hingga foto-foto di web Arsip Bali 1928. Bebas saja, termasuk gratis mendengarkan di aplikasi Spotify,” papar Marlowe.

Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan mengapresiasi hasil kerja tim Arsip Bali 1928 ini. Dinas mengakui kemampuannya baru sebatas mengoleksi naskah lontar.

Marlowe mengaku prihatin dengan minimnya referensi dan dokumentasi seni dan budaya Bali. Apalagi, ia lahir dan besar dari tokoh seni dan budaya Bali, Prof Dr I Made Bandem MA dan Dr Suasthi Wijaya Bandem. Meski ia mengawali karier sebagai bankir.

“Saya tak bisa menari seperti ayah dan ibu saya. Tapi saya tetap mencintai seni dan budaya Bali. Kecintaan ini yang menuntun agar saya harus bisa melakukan sesuatu untuk Bali,” ujarnya.

Ia lega dan tak menyangka dengan antusias masyarakat merespons dokumenter koleksi Arsip Bali 1928. Respons mereka menambah semangat Marlowe berburu dokumen-dokumen budaya Bali yang masih tercecer.

Sejumlah orang yang mengetahui soal Arsip Bali 1928 kemudian membantunya memberikan informasi seperti tempat dokumen tertentu dan sukarela memberikan foto-foto masa lalu yang dimiliki untuk dirawat Arsip Bali 1928.

Sumber: Kompas edisi 05 Mei 2020 di halaman 16 dengan judul “I Made Marlowe Makaradhwaja Bandem Pemburu Arsip Budaya Bali”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *