Kamila Andini, Tantangan Baru Film-filmnya

Kamila Andini (33), sutradara berbakat Indonesia, menyambut tahun 2020 dengan semangat dan tantangan baru. Ia memulai proses syuting film panjang ketiganya yang mengangkat isu pernikahan remaja, sebuah tema yang dekat dengan kehidupannya sebagai ibu. Selain itu, ia akan menggarap pementasan teater di Melbourne, adaptasi dari film keduanya Sekala Niskala, yang telah meraih penghargaan internasional. Film debutnya, The Mirror Never Lies, juga sukses di berbagai festival dunia. Lulusan Universitas Deakin ini memilih film sebagai medium menyampaikan gagasan, dan menganggap setiap karya seperti anak sendiri—berharga dan tak bisa dibandingkan.

*****

Sutradara Kamila Andini (33) menyongsong 2020 dengan deg-degan sekaligus merasa tertantang. Padat betul agendanya. Ia akan memulai shooting film panjang ketiganya di awal tahun.

Film itu bercerita tentang pernikahan remaja dengan segala problematikanya. Ia sudah menulis cerita film ini sejak tahun 2017. ”Saya merasa harus ngomongin soal ini. Sebab, saya juga punya anak perempuan dan ingin memberikan pandangan terkait masa depan mereka,” kata ibunda Rintik dan Binar ini.

Selain menyiapkan pengambilan gambar film, Februari mendatang dia juga harus ke Melbourne, Australia. Di sana, dia akan mengatur pementasan teater yang merupakan alih wahana dari film panjang keduanya, Sekala Niskala atau The Seen and Unseen.

Film itu memenangi sejumlah penghargaan, seperti Berlin International Film Festival 2018 dan penghargaan di ajang Adelaide International Film Festival di Australia untuk kategori International Feature Fiction Competition. Film panjang pertama karya Dini berjudul The Mirror Never Lies juga pernah diikutkan di 30 festival film internasional dan meraih beberapa penghargaan.

”Saya tak pernah menyiapkan suatu kegiatan sedekat itu. Sangat deg-degan, walaupun di sisi lain sangat senang karena sudah dikasih berkah yang bagus di tahun depan,” katanya.

Istri dari sineas Ifa Ifansyah ini memang tak jauh dari dunia seni. Ayahnya, produser dan sutradara Garin Nugroho, adalah nama besar dalam perfilman Indonesia. Akan tetapi, Dini merasa tidak pernah betul-betul memilih di dunia film.

Sejak kecil, dia sudah bereksperimen melalui banyak medium seni. Hanya saja, ketika belajar tentang film, dia merasa itu medium tepat untuk mengutarakan gagasan dan apa pun yang dirasakannya. Dia suka bahasa film, juga elemennya yang kaya. Itulah yang membuatnya terpanggil untuk terus membuat film. Intuisinya bergerak, semua inderanya bekerja saat bercerita melalui film.

”Dada saya penuh dan hangat, kepala saya tidak bisa dihentikan. Semua hal berat yang dihadapi lebih terasa seperti tantangan yang menyenangkan ketimbang beban. Setelah membuat beberapa film, saya merasa bisa berkontribusi melalui medium ini,” kata lulusan Universitas Deakin, Melbourne, Australia, ini.

Dini melihat setiap karya seperti anak sendiri. Pembuatan film, menurut dia, seperti orang yang sedang melahirkan. Seorang ibu tidak pernah membandingkan anak-anak yang terlahir dari rahimnya.

Begitu juga Dini. Ia tidak pernah membandingkan filmnya. ”Tentu saja kita tidak pernah bisa membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya, juga memilih mana anak yang terbaik di antara semuanya,” katanya.

Setiap film selesai dibuat, Dini pun serasa menjadi ”orang” baru. Orang yang akan terus maju untuk melahirkan film-film baru. ”Setiap prosesnya tentu sangat berkesan dalam perjalanan kreatif saya,” katanya.

Sumber: Kompas.Id, Tantangan Baru Film-film Kamila Andini, 03 Jan 2020 06:30 WIB