Gaspar Nikolaas Tulalessy, Ukulele Penangkal Candu Gawai

Gaspar Nikolaas Tulalessy (47) gusar dengan anak-anak Ambon yang kian jauh dari akar budaya karena kecanduan gawai. Melalui ukulele dan musik, perlahan ia meretas masalah itu. Ukulele juga jadi jalan resolusi konflik bagi generasi muda Maluku. Gerakan ini sekaligus menjaga “DNA” Ambon sebagai kota musik sejak dini.

Oleh: Raynard Kristian Bonanio Pardede

Sambil menenteng ukulele di tangan atau di pundak, kerumunan bocah yang baru pulang sekolah memadati sebuah sudut trotoar di Ambon, Maluku, Senin (14/4/2025). Lima tahun terakhir, komunitas ukulele mulai menjamur di sini. Pemandangan seperti ini kini menjadi hal yang lumrah.

Setiap kali ada acara, baik pemerintahan maupun swasta, komunitas ukulele anak-anak ini hampir pasti menjadi penampil pembuka. Pendiri Amboina Ukulele Kids Community, Gaspar Nikolaas Tulalessy, menjelaskan bahwa sebenarnya ukulele sudah lama menjadi identitas musik Maluku.

Awalnya, ukulele hanya menjadi pelengkap musik Hawaiian yang dulu populer di wilayah Melanesia, mulai dari Hawaii hingga Maluku. Musik ini menempatkan gitar pangku (lap steel guitar) sebagai instrumen utama, sementara ukulele menjadi pengiring. Salah satu grup paling tersohor adalah Amboina Serenaders yang justru lebih dikenal di Belanda ketimbang Indonesia.

“Alat musik ini awalnya dari Eropa, lalu mulai terkenal di Maluku dan menjadi alat musik tradisional yang dulu sering dikenalkan orangtua kita ke anak-anaknya,” ujar pria yang akrab disapa Niko ini.

Niko bercerita, sayangnya identitas ukulele sebagai alat musik tradisional mulai menghilang dari memori anak-anak Maluku. Tidak banyak anak yang tahu, apalagi mahir memainkannya. Saat gawai mulai merambah kalangan anak kecil, kekhawatiran Niko kian besar. Menurut dia, anak-anak semakin mengabaikan alat musik tradisional ini.

Tahun 2017, ia membentuk Hapiong Ukulele yang berisi pemain ukulele dewasa. Namun, ia ingin ukulele juga menjangkau anak-anak. Maka, pada 2019, ia mendirikan Amboina Ukulele Kids Community. Awalnya, ia mengajak anak-anak di sekitar rumahnya di Amahusu. Latihan direkam dan diunggah ke media sosial. Ternyata sambutannya luar biasa—banyak orangtua tertarik dan membawa anak-anak mereka untuk dibimbing Niko.

Saat itu, hanya delapan anak yang bergabung. Namun, dari unggahan tersebut, jumlah anggota terus meningkat hingga mencapai 125 anak dalam tahun yang sama. Latihan pun dilakukan tanpa biaya. Orangtua yang semula khawatir anak-anaknya hanya bermain gim daring, mulai melihat perubahan positif berkat ukulele.

Tidak Sengaja

Akhir 2019, Niko mengunjungi Kedutaan Besar Australia. Awalnya, ia mencari informasi beasiswa kuliah untuk anaknya. Namun, ia justru menemukan informasi kursus singkat dari Pemerintah Australia tentang pengembangan pariwisata. Meski sempat ragu karena keterbatasan bahasa Inggris dan latar belakang pendidikan terakhir hanya sampai STM, Niko memberanikan diri mendaftar dan akhirnya terpilih.

Selama dua minggu, ia berkeliling Australia dan belajar tentang pariwisata berkelanjutan di Griffith University. Pada tugas akhir, peserta diminta membuat proposal pariwisata yang tak hanya mengembangkan ekonomi, tetapi juga menjawab persoalan sosial. Maka lahirlah proyek Ukulele Goes to School di SD Inpres 42 Amahusu. Proyek ini dinilai berhasil. Niko bahkan meraih penghargaan Outstanding Awardee dalam program Australia Awards Indonesia on Sustainable Tourism.

Sejak itu, komunitas ukulele di Maluku tumbuh pesat. Dari hanya belasan, kini menjadi ratusan komunitas. Tahun 2020–2022, ia gencar mendorong ukulele masuk ke sekolah. Usahanya membuahkan hasil: Pemerintah Kota Ambon meminta setiap SD negeri membentuk ekstrakurikuler ukulele.

Tidak hanya sekolah, negeri dan desa juga ikut serta. “Orangtua bercerita, prestasi anak-anaknya jeblok karena gawai. Namun, setelah bergabung dengan komunitas ukulele, perlahan membaik,” ujarnya.

Hari Jukulele

Selain mengatasi kecanduan gawai, ukulele juga menjadi sarana resolusi konflik. Seperti diketahui, pada 1999–2002, Maluku didera konflik sosial yang memakan ribuan korban. Segregasi sosial pun tak terhindarkan.

Tahun 2021, Niko menggelar Manise Badendang Ukulele di Gong Perdamaian, Ambon. Festival ini menghadirkan anak-anak lintas agama yang bersama-sama mendendangkan lagu-lagu persatuan. Sekitar 500–600 anak hadir.

Melihat potensinya, Niko berharap komunitas ini berkembang lebih besar. Namun, ketersediaan ukulele di Ambon sangat terbatas. Ia kembali mengunggah video anak-anak bermain ukulele dengan harapan ada bantuan.

Pertengahan 2021, bantuan datang dari donatur di Kosta Rika, Selandia Baru, dan Australia. Gitaris Slank berdarah Ambon, Ridho Hafiedz, yang mendengar kabar ini, juga membantu. Ia meminta perusahaan gitar asal AS untuk mengirimkan ukulele ke Ambon. Niko juga melobi jaringan toko buku nasional agar mulai menjual ukulele.

Pada 4 September 2022, Niko bersama rekan-rekannya menggelar festival ukulele Moluccan Jukulele Day atau Hari Jukulele Maluku di Gelanggang Olahraga Karang Panjang. Pada penyelenggaraan perdana, 1.500 anak hadir. Tahun berikutnya, jumlahnya naik menjadi 5.000 anak. Panitia bahkan harus membagi penampilan menjadi dua sesi: pagi dan sore. Tahun 2024, ribuan anak kembali tampil. Tema yang diangkat tetap konsisten: perdamaian.

Oleh pemerintah daerah, tanggal tersebut kini dicanangkan sebagai Hari Ukulele Maluku. Festival ini telah menjadi agenda pariwisata tahunan di Ambon, dan komunitasnya kini menyebar hingga Maluku Utara dan Papua.

“Satu kota anak-anaknya bisa bermain musik. Itu impian saya,” ujar Niko.

Ukulele kini menjadi identitas yang melekat bagi Ambon. Sejak tahun 2019, UNESCO telah menetapkan Ambon sebagai Kota Musik. Menurut Niko, sejak menyandang gelar itu, Ambon masih mencari identitas musiknya. Ia menyarankan agar ukulele dijadikan ikon utama.

Di Ambon, berbagai kesenian tradisional memang berkembang. Namun, ukulele adalah yang terlihat paling bertumbuh. “Yang paling utama, saya berterima kasih kepada orangtua yang mengenalkan anaknya pada alat musik ini,” tuturnya.

Tidak hanya di Ambon, Niko berharap ukulele bisa dikenal di seluruh pelosok Maluku. Ia menyadari tantangannya akan makin beragam. Namun, ia selalu mengingat pesan dari almarhum Glenn Fredly di awal perjuangannya: Meraih itu mudah, tetapi mempertahankan kesinambungan yang sulit.


Profil Singkat
Gaspar Nikolaas Tulalessy
Lahir: Ambon, 20 April 1978
Pendidikan: STM Negeri Ambon (1993–1996)

Pengalaman:

  • Penerima Australia Awards Scholarship on Sustainable Tourism (2019, predikat Outstanding Awardee)

  • Founder Amboina Ukulele Kids Community (2019–sekarang)

  • Koordinator Moluccan Jukulele Leaders (2020)

Sumber: