Debryna Dewi, Kampanye Autoimun
Debryna Dewi Lumanauw, seorang dokter dan pembuat roti, menggalang dana bagi penderita autoimun melalui platform BenihBaik.com dan sosial media. Ia mendukung Komunitas Sahabat Cempluk, yang mendampingi 120 pasien lupus dan autoimun, terutama perempuan dan anak-anak. Berbekal empati dari pertemuannya dengan pasien, Debryna ingin mengedukasi publik agar tak percaya hoaks bahwa autoimun menular atau bisa sembuh total. Ia prihatin pada pasien yang kualitas hidupnya menurun drastis. Selain aktif dalam penggalangan dana, ia juga tergabung dalam tim INASAR, DoctorSHARE, dan Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118 untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan.
*****
Sebagai dokter, perjumpaan dengan pasien autoimun bukan perkara asing bagi Debryna Dewi Lumanauw. Beberapa kali berinteraksi dengan mereka, empatinya semakin tumbuh. Terutama, karena penyakit autoimun ini sanggup merusak kualitas hidup seseorang, apalagi jika menyerang seorang ibu.
Lewat platform penggalangan dana BenihBaik.com, Debryna yang juga dikenal sebagai pembuat roti ini menggalang dana untuk Komunitas Sahabat Cempluk. Komunitas ini mendidik dan mendampingi anak-anak dan perempuan yang menderita autoimun, termasuk lupus. Sebelumnya, ia juga menggalang dana bersama Chef Guswandi Taslim di Hotel Egg, lewat penjualan roti sourdough.
Debryna memilih penggalangan dana lewat sosial media karena dinilai paling cepat menggapai target kampanyenya.
”Pengin target (kampanye) yang pertama tahu adalah pengguna aktif sosial media yang sangat gampang terpapar hoaks. Enggak mau mereka percaya hoaks bahwa autoimun itu nular atau bisa sembuh,” kata Debryna yang juga tergabung dalam Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118 dan tim Indonesia Search and Rescue (INASAR).
Saat ini ada 120 pasien lupus dan autoimun yang tergabung dalam Sahabat Cempluk. Mereka memerlukan dana untuk kebutuhan pendidikan, pendampingan dan pengobatan pasien yang tak mampu berobat karena kekurangan biaya. Penyakit ini umumnya menggerogoti tubuh pasien dalam waktu lama dengan gejala yang tidak jelas seperti sakit perut atau masuk angin berkepanjangan. Pasien baru sadar tentang penyakitnya setelah berulang kali ke dokter.
”Ini suatu ketidaksengajaan yang sudah digariskan. Selalu paling enggak tega kalau ketemu pasien autoimun yang hamil dan punya anak. Kualitas hidup hancur karena penyakit ini. Sering dianggap enggak produktif, malas kerja, atau manja. Enggak semua orang tahu kalau penyakit ini butuh penanganan,” ujar Debryna yang juga sering dipanggil untuk kegiatan kebencanaan atau misi sosial bersama DoctorSHARE.
Sumber: Kompas.id, Debryna Dewi Kampanye Autoimun, 20 Feb 2020 15:46 WIB