Sutanto Mendut, Kuliah Suka-suka ala Budayawan 

Budayawan Sutanto Mendut (66) kembali diundang mengajar di luar negeri, kali ini di Melbourne University, Australia, pada Maret mendatang. Ia mengaku tidak punya persiapan khusus dan mengajar dengan gaya sesuka hati. Sutanto sebelumnya pernah mengajar di Jepang, India, dan Turki, membagikan pengalamannya berkesenian bersama Komunitas Lima Gunung (KLG). Di Melbourne, ia akan membahas manajemen komunitas KLG, yang unik karena berjalan tanpa proposal dan didukung sumbangan non-uang seperti sayur atau ubi. Ia menilai materi ini penting karena banyak orang kini kehilangan kendali atas manajemen dirinya sendiri.

*****

Untuk kesekian kalinya, budayawan Sutanto Mendut (66) diundang untuk memberikan kuliah di sebuah perguruan tinggi di luar negeri. Maret mendatang, ia dijadwalkan mengajar selama dua pekan di Melbourne University, Australia.

Sutanto mengaku tidak memiliki persiapan khusus untuk mengajar sebab dirinya terbiasa memberikan kuliah dengan berbicara sesukanya. ”Saya mengajar sesukanya, sesuai gaya saya. Kalau mereka cocok dan saya senang, maka kuliah dilanjutkan, tapi kalau tidak, ya, saya tinggal pulang,” ujarnya, sembari tertawa terkekeh, saat ditemui dalam acara peringatan hari ulang tahun Museum Lima Gunung di Studio Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Rabu (5/2/2020).

Sutanto mengatakan sudah sering kali diundang memberikan kuliah ke perguruan tinggi di sejumlah negara, seperti Jepang, India, dan Turki. Dalam setiap kesempatan mengajar itu, dia diminta untuk menerangkan tentang aktivitasnya dalam berkesenian, terutama bersama Komunitas Lima Gunung (KLG).

Di Melbourne nanti, dia juga diminta menjelaskan tentang KLG, khususnya sistem manajemen komunitas itu. Menurut dia, materi ini sangat menarik untuk dipaparkan di masa kini sebab banyak orang kehilangan manajemen, kehilangan kendali atas dirinya. Ia juga mengaku masih berpersoalan dengan manajemen, seperti mengatur diri sendiri dan mengelola surat elektronik.

Yang jelas, ia mengatakan akan kesulitan jika diminta menjelaskan sistem manajemen keuangan KLG. ”Bagaimana bisa dijelaskan karena kami berkegiatan tanpa proposal. Semua sumbangan berasal dari banyak orang dan belum tentu menyumbang uang. Ada yang nyumbang sayur, ubi, dan gembili,” tuturnya sembari tertawa.

Sumber: Kompas edisi 08 Februari 2020 di halaman 12 dengan judul “Sutanto Mendut, Kuliah Suka-suka”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *