
Putri Minang Sari, Pelarian Berbudaya Ala Penari
Putri, penari Bali kawakan kelahiran Padang, 4 Maret 1974, aktif mengajar tari Bali di Jakarta. Dikenal dengan sapaan Mimi, ia mengajar 3–4,5 jam per hari di berbagai studio seperti Bintaro, Pejaten, dan Pondok Indah. Mayoritas muridnya adalah perempuan bekerja yang mencari alternatif sehat dan berbudaya untuk menjaga kebugaran. Menurut Mimi, banyak murid tertarik karena nostalgia masa kecil atau kecintaan terhadap seni tari. Ia melihat tren ini sebagai pelarian positif sekaligus peluang menjaga hidupnya tradisi tari di kota besar. Mimi juga dikenal sebagai penggagas komunitas puisi Usmasked.
*****
Teorinya, kata Putri, Kamis (16/1/2020) di Jakarta, karena jenuh kaum perempuan ingin dekat pada aspek holistik kehidupan. “Ini kemudian jadi semacam pelarian yang sehat dan berbudaya,” ujar penari Bali kawakan ini.
Sejak beberapa tahun terakhir, tambah Putri, perempuan bekerja menjadi mayoritas dari murid-muridnya. “Jumlahnya 100 lebih, tahun ini tambah lagi 25 orang. Jadi seminggu full saya mengajar tari,” kata perempuan kelahiran Padang, 4 Maret 1974.
Mimi, demikian Putri biasa disapa, setiap hari mengajar antara 3-4,5 jam, di studio yang tersebar di Bintaro, Pejaten, Pondok Indah, dan Kepala Gading. “Aku off hari Senin, tetapi diisi latihan dengan para pelatih lain,”kata Mimi.
Motivasi pertama-tama para muridnya menekuni tari Bali, tambah Mimi, ingin tetap sehat tetapi tidak suka pergi ke gym. “Rata-rata juga pernah belajar tari waktu kecil atau suka menonton pertunjukan tari,” ungkap Mimi.
Pelarian sehat dan berbudaya, kata pengagas komunitas puisi Usmasked ini, menjadi gejala yang positif untuk pengembangan tari tradisi. “Saya yakin, tradisi akan tetap hidup di kota seperti Jakarta,” kata Mimi.
Sumber: Kompas edisi 17 Januari 2020 di halaman 12 dengan judul “Putri Minang Sari, Pelarian Berbudaya “.
Leave a Reply