Tadej Pogacar, Hiu Pemangsa ”Grand Tour”

Tadej Pogacar awalnya bercita-cita menjadi pesepak bola, tetapi sejak usia sembilan tahun memilih balap sepeda mengikuti kakaknya. Meski sempat kesulitan karena postur tubuhnya kecil, bakat dan mental petarungnya cepat terlihat. Dibina Andrej Hauptman, Pogacar melesat hingga level profesional pada usia muda. Ia mencuri perhatian dunia setelah tampil gemilang di Vuelta a Espana 2019. Puncaknya, Pogacar menjuarai Tour de France 2020 pada usia 21 tahun, menjadi juara termuda sejak 1904, sekaligus meraih jersei kuning, polkadot, dan putih. Ia dijuluki “hiu” karena insting kompetitifnya yang mematikan.

*****

Tadej Pogacar pernah bermimpi menjadi bintang sepak bola. Dia menggeluti olahraga paling populer itu di tahun-tahun awal sekolah dasar. Namun, jalan hidupnya berubah saat usia sembilan tahun ketika dia mengikuti jejak kakaknya, Tilen, yang menggeluti balap sepeda di klub Rog Ljubljana. Dia masih menikmati bermain sepak bola hingga kini, tetapi jalan hidupnya ada di jalan raya, mengayuh sepeda memburu gelar juara.

Pogacar muda tidak terlalu mulus mengawali karier balap sepedanya. Dia kesulitan mendapatkan sepeda yang sesuai dengan postur tubuhnya yang mungil. Namun, spirit petarung membuat bocah berusia sembilan tahun itu pantang menyerah. Setahun kemudian, pada 2008, dia mendapatkan sepeda yang ideal dan aura kebintangannya bersinar semakin terang.

Kejuaraan pertamanya pada tahun itu menjadi titik balik yang membuka jalan menuju jenjang profesional. Lomba itu disaksikan oleh Andrej Hauptman, mantan pebalap sepeda elite Slovenia, yang menjadi pemandu bakat dan kini pelatih tim nasional balap sepeda negeri pecahan Yugoslavia itu. Hauptman datang terlambat ke kejuaraan itu dan melihat seorang bocah kecil yang sangat muda sedang mengejar rombongan pebalap yang usianya lebih tua. Bocah itu tertinggal sekitar 100 meter dan berjuang keras menyusul rombongan di depannya.

”Saya mengatakan kepada panitia lomba, kita harus melakukan sesuatu untuk meningkatkan pace bocah kecil itu supaya bisa mengejar. Mereka mengatakan, ’Tidak, ini bukan seperti yang Anda pikirkan. Dia yang di depan. Dia telah menyelesaikan satu putaran arena balap.’ Dan bocah kecil itu adalah Tadej,” ujar Hauptman kepada Procycling tahun lalu seusai Pogacar finis ketiga di Vuelta a Espana.

Pogacar telah menjadi pebalap sensasional sejak usia muda. Dia berlatih melawan pebalap-pebalap yang lebih tua, tetapi tak pernah menjadi medioker. Bocah itu memiliki bakat alami yang disempurnakan dengan kekuatan fisik serta mental petarung. Dia masuk tim nasional balap sepeda Slovenia pada usia 16 tahun, dan semakin dia beranjak dewasa, pamornya semakin terang.

Jenjang profesional

Hauptman pun memutuskan untuk menjembatani Pogacar menuju jenjang profesional pada Juli 2018. Pada usia yang belum genap 20 tahun, dia telah dinilai matang dan mampu beradaptasi dan bersaing di level pro. Hauptman menghubungi kolega dekatnya di tim UEA Emirates, Giuseppe Saronni, dan manajer tim saat ini Mauro Gianneti. Hauptman menegaskan bahwa ini tidak terlalu dini bagi Pogacar untuk masuk tim profesional karena performanya sangat mengagumkan.

Pogacar tak memerlukan waktu lama untuk menjadi bintang baru level elite balap sepeda, bahkan mampu mengubah keputusan tim yang semula belum memasukan dirinya untuk level Grand Tour, yang hanya ada tiga, Tour de France, Giro d’Italia, dan Vuelta a Espana. Menjelang Vuelta a Espana 2019, Tim UEA Emirates tidak ingin memasukkan Pogacar ke tim Grand Tour untuk menghindari kelelahan bagi pebalap muda itu. Grand Tour tidak hanya menguras fisik, tetapi juga emosi dan mental.

Kemenangan pertama di level pro saat finis terdepan di etape dua Volta ao Algarve pada Februari 2019 belum meyakinkan bagi para petinggi tim. Namun, semua berubah setelah Pogacar memenangi etape enam dan menjuarai balapan WorldTour Tour California pada Mei 2019. Dia bahkan menjadi pebalap termuda yang memenangi etape WordTour. Pogacar pun masuk tim Vuelta a Espana 2019 dan memenangi tiga etape serta finis di posisi ketiga klasemen umum pada Grand Tour yang dijuarai rekan senegaranya, pebalap Jumbo-Visma sekaligus mantan atlet ski jumping, Primoz Roglic.

Pogacar bukan bocah kecil lagi. Dia menjelma menjadi pebalap berbahaya meskipun tak kehilangan karakter sopan, ramah, dan sedikit pemalu. Di dalam dirinya juga masih bergejolak jiwa petarung yang tak kenal menyerah. Dia menunjukkan itu saat tertinggal 57 detik dari Roglic hingga etape 19 Tour de France 2020, dengan menegaskan pertarungan belum selesai.

Pogacar seperti ikan hiu yang mencium keresahan lawan menjelang individual time trial etape 20 Le Tour. Dia pun menyerang sejak start dan finis terdepan sebagai pemegang maillot jaune alias jersei kuning yang selama 13 hari dikuasai Roglic. Dia pun mengukuhkan dirinya sebagai juara Le Tour di masa pandemi Covid-19 ini pada Minggu (20/9/2020), sehari sebelum merayakan ulang tahun ke-22. Dengan keunggulan 59 detik dari Roglic, Pogacar menjadi pebalap termuda yang menjuarai Tour de France setelah 1904. Pogacar juga merebut gelar raja tanjakan (jersei polkadot) dan pebalap muda terbaik (jersei putih).

Sangat kompetitif

”Tadej adalah orang yang sangat sederhana, sangat sopan. Dia anak yang normal. Tetapi, dalam balapan, dia sangat kompetitif. Ketika melihat yang lainnya dalam kesulitan, dia menjadi seperti hiu,” tegas Hauptman kepada Cyclingnews.

Insting pembunuh bak hiu di lautan lepas itu terasah sejak kecil saat dia bertarung melawan pebalap yang lebih tua, lebih besar, dan lebih tinggi 20 sentimeter. Atmosfer itu mengasah mentalnya untuk menggali kemampuannya, tanpa kehilangan hormat kepada rekan-rekan setimnya. Hiu di lintasan balap dan anak muda yang sopan di kehidupan sehari-hari.

Itulah yang membuat dia menyebarkan ”demam kuning” di Slovenia saat kayuhan sepedanya berhenti di Paris Champs Elysees, Minggu (20/9/2020). Ini bukan hanya kemenangan personal dan tim UEA Emirates, melainkan juga kejayaan Slovenia, negeri mungil yang luasnya satu pertiga puluh dua Jakarta itu. Dia menghadirkan kebahagiaan bagi sekitar dua juta penduduk Slovenia yang tak memiliki sejarah panjang balap sepeda. Dia pebalap Slovenia pertama yang menjuarai balap jalan raya paling keras, Tour de France.

”Ini sungguh luar biasa, berdiri di sini di Paris di puncak podium. Saya tidak pernah berpikir saya akan berada di sini. Ini menjadi petualangan tiga pekan yang luar biasa. Saya tidak bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan saat ini,” ujar Pogacar di laman Le Tour.

Dia menjadi model panutan bagi generasi muda Slovenia untuk menembus sekat-sekat pembatas untuk berada di puncak dunia. Pogacar tidak berasal dari keluarga olahragawan. Ayahnya adalah perancang furnitur, khususnya kursi, dan ibunya guru bahasa. Namun, dia mampu menemukan bakatnya dan mengembangkannya meskipun panutannya, Tilan, meninggalkan balap sepeda sebelum masuk level yunior.

Tanpa sosok kakak yang menjadi inspirasinya menekuni balap sepeda, Pogacar tidak goyah. Dia terus menggali talentanya, hingga kini menjadi pemangsa Grand Tour yang menakutkan, seperti hiu ganas di lautan lepas.

Sumber: Kompas.id, Tadej Pogacar Hiu Pemangsa ”Grand Tour”, 22 Sep 2020 05:33 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *