
Abdul Rahim, dari Penghijauan hingga Kopi
Banyak hal yang tampaknya tak nyambung dalam kehidupan Abdul Rahim, mulai dari urusan pendidikan, pekerjaan, kecintaan pada lingkungan, hingga menjadi sukarelawan bencana. Nyatanya semua bisa berjalan dengan baik.
Abdul Rahim tak hanya menjadi barista di sebuah kafe kecil miliknya. Rahim, sapaannya, juga menjadi pedagang kopi dan rutin mengirim kopi ke sejumlah kota hingga mancanegara. Di saat yang sama, dia ikut membina petani kopi dan juga ikut andil dalam pengembangan desa wisata di lereng Gunung Latimojong, Enrekang, Sulawesi Selatan.
Saat terjadi bencana, Rahim rela menutup kafe lalu berada di garda terdepan, menjadi relawan. Saat banjir bandang menerjang Enrekang akhir April lalu, kafenya bahkan berubah menjadi tempat pengungsian warga sekitar yang rumahnya terdampak banjir.
Beragam aktivitas tak linear ini pada awalnya adalah sebuah kerisauan. Ini bermula tahun 2008 saat melihat hutan di lereng-lereng Gunung Latimojong, di Kabupaten Enrekang, ditanami kopi oleh warga. Penanaman ini mengorbankan pohon-pohon besar atau hutan. Sebagai pencinta alam yang kerap bolak-balik Latimojong—yang puncaknya masuk dalam deretan tujuh puncak tertinggi di Indonesia—Rahim risau.
Walau tak berdiam di kaki gunung ini, Rahim merasa terusik. Perlahan dia mulai melakukan pendekatan pada warga hingga akhirnya membentuk kelompok penyuluh kehutanan swadaya masyarakat.
Bersama sejumlah warga, Rahim aktif melakukan sosialisasi dan edukasi serta mendorong penanaman kembali hutan-hutan yang sudah ditebang. Pepohonan yang ditanam tak sekadar berakar kuat tetapi sekaligus berfungsi sebagai pelindung tanaman kopi.
Penanaman kembali hutan yang telah ditebang saat itu cukup berhasil. Di satu sisi tanaman kopi juga tubuh subur. Hal ini menjadi pelecut semangat Rahim dan warga untuk berbuat lebih banyak.
Saat program penghijauan ini mulai berjalan 2008, Latimojong sudah ramai jadi tujuan wisata minat khusus oleh pencinta alam dari berbagai wilayah. Rupanya fenomena ini turut dilirik oleh Rahim.
”Saya mengajak warga duduk bersama lalu membicarakan soal memungut retribusi masuk bagi setiap pengunjung. Saya berpikir dengan cara itu, mereka bisa mendapat nilai tambah untuk destinasi wisata yang ada di wilayah mereka. Setidaknya membuat mereka berpikir untuk lebih membenahi desa dan tak lagi menebang pohon di hutan,” katanya saat ditemui akhir April lalu.
Usulannya disambut baik dan akhirnya semua sepakat. Sejak 2011, retribusi masuk ke Latimojong mulai berlaku. Tak ada yang keberatan. Toh, hasilnya kembali pada desa dan dikelola untuk kepentingan warga. Wisatawan pun tak merasa diberatkan karena nominalnya tidak besar.
Pada akhirnya seiring perjalanan waktu, warga di lereng Latimojong tak sekadar bergantung pada retribusi untuk mendapatkan nilai tambah dari anugerah alam yang ada di sekitar mereka. Pembenahan terus dilakukan. Obyek-obyek wisata baru bermunculan.
Bahkan, atraksi wisata seperti arung jeram belakangan dikembangkan oleh pemuda-pemuda desa. Semua upaya ini berujung pada masuknya Latimojong dalam deretan desa wisata dan mendapat Anugerah Desa Wisata Indonesia.
”Desa wisata jalan. Petani kopi tetap menikmati hasil dari kopi bahkan berlomba menghasilkan tanaman kopi terbaik karena kopi-kopi ini sudah menjadi bagian dari wisata,” katanya.
Perhatian Rahim pada soal lingkungan dan penghijauan setidaknya mendapat pengakuan. Dia diganjar penghargaan sebagai Juara Harapan Terbaik Wanalestari mewakili Sulsel. Penghargaan ini diterima di Istana Negara tahun 2012.
”Tak berpikir ke situ sebenarnya. Tak ada sedikit pun tujuan agar mendapat penghargaan. Tapi jika itu dilihat sebagai sesuatu atau prestasi, tentu saja saya ikut bahagia,” katanya.
Awal menjadi barista
Perihal terjunnya bapak dua anak ini pada usaha kopi terjadi secara tak sengaja. Tahun 2016, seorang pejabat Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Bandung berkunjung ke Enrekang. Saat itu dia menemui Rahim.
”Saya ditawari ikut pelatihan barista di Bandung. Mungkin karena selama ini saya banyak bersentuhan dengan petani kopi. Akhirnya saya ikut saja dan lulus dengan baik. Setelah itu saya diminta mengirim lagi 30-an pemuda yang juga akan dilatih tentang kopi dan menjadi barista. Saya pilih pemuda-pemuda desa yang punya minat pada kopi dan merekomendasikan mereka ikut pelatihan,” katanya.
Pelatihan yang semula tak pernah dipikirkan atau direncanakan ini membuat Rahim akhirnya benar-benar terjun ke dunia kopi. Dia belajar seluk-beluk kopi dan membentuk kelompok petani binaan.
Dia juga merintis kafe kecil yang awalnya menempati sebuah rumah kontrakan. Suatu ketika dia harus pindah dan tak bisa memperpanjang kontrak. Saat itu usaha baru dirintis dengan memanfaatkan pinjaman bank. Di saat yang sama istrinya hamil.
”Kami akhirnya mendapatkan sepetak tanah. Di situ saya bangun rumah tinggal dan akhirnya pelan-pelan membenahi kafe. Karena kami tinggal di kampung, usaha kafe tak bisa seperti di kota. Saya akhirnya mulai berdagang kopi,” katanya.
Rahim tak sekadar menjadi pedagang. Dia mengajak petani bekerja sama. Petani tetap rutin diikutkan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas. Dibentuknya kelompok binaan dan mencari pasar lebih luas. Dia juga membuat brand untuk kopinya yang dinamai Kopi Asik. Penamaan ini bermakna Atabika Kalosi Enrekang dan lebih luas bermakna menikmati kopi dengan asyik.
Usaha Rahim ikut mengangkat kopi membuat Bank Indonesia ikut melirik. Sejak 2018, usahanya mendapat pendampingan dari BI dan kini menjadi salah satu binaan unggulan.
Di Latimojong, Rahim membentuk unit pengolahan hasil yang dilengkapi peralatan pengolahan kopi. Namun, belakangan unit pengolahan ini diserahkan sepenuhnya kepada petani untuk dikelola bersama.
Rahim kini akhirnya lebih banyak mengurusi kopi. Selain rutin membawa kopi Enrekang dalam berbagai pameran, dia juga tetap berusaha memperluas jaringan. Tujuannya kelak di Enrekang ada industri berbasis kopi.
Fokus mengurus kopi bukan berarti dia tak lagi perhatian pada lingkungan. ”Kalau soal lingkungan dan desa wisata, saya sekarang hanya menjadi penasihat saja. Toh, warga sudah paham pentingnya menjaga lingkungan. Kopi dan wisata juga sudah memberi mereka pendapatan lebih. Kalau menjadi sukarelawan bencana, saya tetap aktif,” katanya.
Abdul Rahim
Lahir : Makassar, 8 November 1989
Pendidikan:
SMA Muhammadiyah Enrekang
STKIP Muhammadiyah Sidrap
Penghargaan:
Fasilitator Terbaik Daerah 2008
Juara 1 PKSM Terbaik Sulsel 2011
Juara Harapan Terbaik Nasional Wanalestari 2012
TPKAD Summit Regional Sulselbar-UMKM Terbaik 2022