
Firman Hatibu, Misi Besar Ilustrator Langganan CorelDRAW
Besar sebagai ”tukang gambar” percetakan di Makassar, Firman Hatibu merengkuh nasib sebagai ilustrator yang karyanya tersebar di banyak medium dan benua. Karyanya tercetak di album band Slank, band mancanegara yang ia tidak lagi hafal jumlahnya, hingga menjadi ilustrator ”langganan” aplikasi CorelDRAW. Bekal yang ia miliki kini digunakan untuk berjejaring, membangun ekosistem lintas sektor, agar berdaya bersama.
Rumah di ujung jalan itu tidak jauh beda dengan rumah tetangga lainnya. Namun, saat memasuki pintu utama, sebuah komputer dengan berbagai perlengkapan menggambar nangkring di tengah ruangan.
Di lemari pembatas terpampang tiga buah skateboard tanpa roda dengan gambar yang saling terhubung. Itu adalah gambar yang menjadi tampilan utama aplikasi CorelDRAW versi 2020 lalu. Aplikasi ini adalah salah satu rujukan ilustrator di seluruh dunia.
”Sengaja bikin sendiri untuk kenang-kenangan,” kata Firman Hatibu, Senin (20/5/2024), menatap lekat-lekat gambarnya tersebut.
Gambar yang ia maksud itu adalah seorang perempuan berkacamata dan bertangan enam. Dua sayap terbentang di belakang, lengkap dengan tambahan dua tangan terangkat yang memegang bulatan berisi simbol vector.
Dua tangan di bawah memegang bulatan alat gambar manual. Sementara di tengah adalah bulatan berupa kunci. Semuanya berhubungan dengan dunia gambar-menggambar. Sebagai orang Bugis-Makassar yang besar di Maros, ia tidak lupa menyisipkan bando adat yang menjadi perhiasan utama Baju Bodo.
Pada 2019, gambar berjudul ”Queen of Vector” ini ia kirimkan dalam sayembara internasional CorelDRAW. Ia terpilih sebagai juara kedua. Meski begitu, gambar buatannya dipilih menjadi tampilan utama di semua aplikasi CorelDRAW versi 2020.
Selepas ajang itu, hingga bertahun-tahun setelahnya, ia tidak lagi mengikuti sayembara. Pihak perusahaan aplikasi menggambar raksasa dunia ini menghubunginya untuk menyiapkan gambar. Berturut-turut, hingga 2024 ini, gambarnya selalu ada di website hingga laman media sosial aplikasi tersebut.
”Alhamdulillah selalu dipercaya,” katanya. Ia melanjutkan, ”Kalau logo, dan gambar untuk band sudah dari 2012 lalu. Belum pernah hitung jumlahnya sampai sekarang.”
Karyanya memang telah melanglang buana di banyak benua, puluhan hingga ratusan negara. Gambar buatannya telah tercetak di logo perusahaan di Irlandia, baju kaus band di Australia, toko oleh-oleh di Texas, hingga buku di bandara-bandara dunia.
Ia memiliki ciri khas gambar yang detail dan warna yang cemerlang. Ia memiliki palet warna khusus, yang dominan tosca, dan tanpa gradasi. Untuk karakter, ia sulit menjelaskan.
”Saya juga tidak tahu apa namanya, mungkin karena saya tidak sekolah, ha-ha-ha,” selorohnya.
Menjadi ilustrator adalah pekerjaan utama Firman lebih dari satu dekade ini. Laman sosial media serupa etalase karyanya. Beberapa konsumen menghubunginya secara daring setelah melihat gambarnya di Instagram, atau melalui berbagai pemberitaan dan informasi dari teman ke teman.
Tingginya animo klien, khususnya mancanegara, membuatnya mantap untuk benar-benar mandiri dan bekerja dari rumah. Selama hampir 15 tahun, ia bekerja di sebuah percetakan. Sebelum sayembara CorelDRAW, ia juga beberapa kali memenangi ajang tingkat dunia lainnya.
”Ada yang Motocross tingkat dunia. Hadiah uangnya masuk, tetapi plakat yang ditandatangani semua pebalap tertahan di Bandara. Disuruh bayar, saya bilang mending tidak usah kalau begitu,” cetusnya.
Bagaimana bakat Firman muncul?
Sejak kecil, bahkan sebelum sekolah, Firman telah karib dengan menggambar. Entah mengapa, ia lebih senang dikasih pensil daripada mainan lainnya. Obat mujarab untuk mendiamkan Firman kecil saat menangis adalah mengajaknya menggambar.
Lantai, dinding, dan buku tidak lepas dari berbagai gambarnya. Ia menggambar apa saja yang ada dalam pikirannya, utamanya karakter yang disukainya. ”Waktu SD itu senang Dragon Ball, jadi gambar Son Goku, Vegeta, dan lain-lain. Apalagi waktu itu belum bisa beli komiknya, jadi digambar habis baca punya teman,” ceritanya.
Berbeda dengan rekan-rekannya yang lebih banyak meniru bentuk dan gaya, Firman berkreasi sendiri. Ia hanya mengambil karakter yang disukainya, lalu digambar dengan narasi yang ia inginkan.
Baginya, menggambar itu memang kesenangan dan menyalurkan imajinasi dalam kepalanya. Ia tidak bosan menjalani hari demi hari. Ia tidak mengejar lomba yang biasanya dilakukan antarsekolah.
Kesenangannya menggambar juga seiring sejalan dengan kesukaannya pada musik. Terlebih, melihat sampul album band kesukannya yang memakai berbagai gambar menarik mata.
Kedua orangtuanya tidak melarang, tetapi juga tidak mendukung penuh. Untuk membeli perlengkapan menggambar, sesekali ia harus menabung uang jajan.
Hingga lulus SMK Kebangsaan di Maros pada awal 2000-an, ia bingung untuk melanjutkan pendidikan. Sebab, universitas di Makassar belum ada jurusan yang saat ini ramai disebut Desain Komunikasi Visual (DKV).
”Yang ada hanya Seni Rupa. Tentu ada di IKJ, ITB, ISI, tapi gaji orangtua yang pegawai negeri mana mampu?” tutur pria asal Rammang-rammang ini.
Ia memutuskan untuk tidak kuliah dan fokus bekerja. Berbekal kemampuan menggambar, ia bekerja di sebuah percetakan. Di situ, ia serupa ditempa. Berbagai hal dasar ia pelajari; mulai dari layout, membuat spanduk, logo, undangan pernikahan, hingga buku Yasin untuk orang meninggal. Kelak, hal ini yang membantunya sebagai seorang menjadi ilustrator.
Di percetakan itu pula, ia mulai mengenal dunia digital. Perkenalan pertamanya menggunakan Microsoft Paint. Di aplikasi sederhana, dengan komputer yang juga legendaris pada zamannya, ia mulai masuk ke dunia baru tersebut.
Seiring perkembangan, ia mulai belajar Photoshop hingga terakhir CorelDRAW. Ia belajar spesifik, mencari dan memahami tools dalam aplikasi, dan menggunakannya dalam pekerjaan.
Di sela-sela pekerjannya, ia bergaul dengan dunia musik. Ia karib dengan skena musik underground, juga tergabung dalam Slankers Makassar. Di dunia musik ini, ia banyak menggambar mural di studio, juga untuk keperluan zine. Salah satu gambarnya kemudian masuk dalam pilihan album Road To Peace milik Slank sejak 2004 lalu.
Dari situ, ia semakin percaya diri untuk berkarya. Medio 2012, seorang rekannya menyarankan untuk menjual karya secara daring. Telepon pintar mulai ramai digunakan. Setelah mencoba, gambarnya diterima oleh sebuah band dari Australia.
”Ternyata dunia ini pasarnya luas. Yang penting karya kita konsisten dan punya sesuatu, pasti akan diterima,” tambah ayah dua anak ini. ”Ilustrator, menurut saya, adalah tukang gambar tentunya. Tapi, harus ada sesuatu yang kita tawarkan karena ini adalah seni.”
Bagaimana ia membangun jaringan?
Selain melakoni pekerjaan utamanya sebagai ilustrator profesional, Firman ingin terus berbagi dengan para ilustrator muda lainnya. Ia merasa, kesempatan yang dimilikinya harus disebarluaskan dan bisa dimanfaatkan untuk banyak orang.
Sebab, ia melihat dunia ilustrator dibutuhkan banyak orang, di banyak negara, serta dalam berbagai medium. Hanya saja, informasi tersebut tidak tersampaikan secara detail ke anak muda, khususnya di Makassar.
Sejak beberapa waktu terakhir, ia aktif menghadiri diskusi dan pelatihan yang membahas dunia ilustrasi. Ia ingin anak muda yang tertarik dengan dunia menggambar memiliki kesempatan yang sama dengannya. Selama ini, ia merasa pasar dengan para ilustrator tidak terhubung.
”Saya merasa kita ada inferioritas soal karya. Padahal, karya teman-teman tidak kalah bagusnya. Tinggal mencari akan ada pasar dan klien sendiri sesuai dengan karakter yang dimiliki,” tutur penyuka musik 90-an ini.
Tidak hanya di kalangan ilustrator, ia juga aktif berkecimpung dalam ekosistem besar yang mempertemukan banyak pekerja seni. Mulai dari musisi, penulis, hingga dunia seni gambar. Ekosistem lebih luas membuat karya bisa tersalurkan dengan baik dan saling menghidupi.
Menurut Firman, dunia kreatif mempunyai daya dobrak yang bisa terus berkembang. Kemampuan untuk saling berjejaring dan bekerja bersama, membuka ruang-ruang dan kesempatan baru untuk tumbuh bersama.
Firman Hatibu
Lahir: Maros, Sulawesi Selatan, 23 Desember 1983
Pendidikan: SMK Kebangsaan Maros
Prestasi:
- Juara 2 CorelDRAW International Design, 2019
- Illustrator for Official Commercial Global CorelDRAW, 2020-2024
- Juara 1 Design Poster for Motocross Monster Energy, 2018