Moch Yudia Riyanto, Menciptakan Kurikulum Sekolah Inklusi

Moch Yudia Riyanto, Kepala Learning Support Division (LSD) Sekolah Tunas Indonesia di Bintaro, fokus mengembangkan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Selama 15 tahun, ia merancang kurikulum fleksibel dan diferensiasi pembelajaran untuk anak autis, ADHD, tuna rungu, tuna grahita, dan sindrom langka, agar bisa belajar di sekolah umum bersama teman sebaya. LSD STI membuka kelas pra-SD hingga SMA, dengan program SEV untuk jenjang kejuruan. Yudia menekankan penyadaran diri, bukan diagnosis, serta membimbing ABK agar berkembang secara optimal. Ia juga berbagi pengalaman ke sekolah lain, membangun kultur inklusif, dan menghadapi tantangan pembelajaran daring di masa pandemi.

*****

Perjuangan mencari konsep pembelajaran yang cocok bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau ABK menjadi keseharian dari Moch Yudia Riyanto. Kepala Learning Support Division Sekolah Tunas Indonesia atau LSD STI di Bintaro, Tangerang Selatan ini punya kecintaan mendalam untuk mencari model pendidikan yang sesuai dengan keunikan dari masing-masing anak didiknya.

Banyak muridnya adalah anak-anak yang sebelumnya tertolak dari sekolah lain. “Saya dibesarkan di lingkungan pendidik dari kakek, orangtua, dan saudara. Segmen pendidikan luar biasa, jarang orang yang paham. Sejak kecil menyaksikan ada ABK yang tidak beruntung karena tidak dapat tempat,” ujar Yudia, Rabu (23/12/2020).

Anak-anak dengan berbagai kekhususan seperti anak yang memiliki hambatan autis, ADHD, ADD, tuna runggu, tuna grahita, hingga berbagai jenis sindrom langka yang jarang terdengar kemudian seolah menemukan “rumah” yang mengerti tentang kekhususan kebutuhan mereka akan pendidikan di LSD.

“Kalau wisuda, gurunya yang nangis membayangkan waktu pertama kali masuk. Teringat perjuangan membentuk mereka. Saya tidak ingin lagi terjebak. Dulu waktu saya sekolah di kampung, kalau anak nakal dikeluarkan. Padahal sekolah harus inklusif dari banyak sisi. Idealnya semua sekolah harus welcome terhadap ABK,” kata Yudia.

Ketelatenannnya dalam menangani anak didiknya antara lain tampak dari relasi hangat yang muncul. Ketika berpapasan dengannya di lingkungan sekolah sebelum pandemi, muridnya selalu tampak sumingrah dan segera menyapanya akrab. Anak-anak penyandang autis dengan kesulitan komunikasi verbal yang sedang tantrum segera bisa reda ketika Yudia turut menangani.

Sudah 15 tahun berkontribusi dalam pengembangan pendidikan ABK di LSD, Yudia juga aktif sebagai pembicara tentang pengelolaan atau manajemen pendidikan ABK. Sebagai Konsultan Penanganan dan Pendidikan ABK, ia juga menularkan pengalaman penanganan pendidikan berkebutuhan khusus ke sekolah-sekolah lain.

Yudia antara lain sempat rutin terlibat membantu delapan sekolah di Jawa Tengah untuk membangun sekolah inklusi yang nyaman bagi ABK. “Saya bersedia asal mereka berkomitmen. Yang terberat adalah bagaimana penyelenggara pendidikan ini komitmen mengurusi anak-anaknya,” kata Yudia.

Diferensiasi kurikulum

Proses menularkan pendidikan inklusi yang ramah terhadap ABK tak hanya dilakukan ke sekolah khusus, tetapi juga ke sekolah umum. “Paling susah menyiapkan kultur yang welcome. Di masyarakat, sesuatu yang berbeda masih dianggap tidak biasa. Konsepsi pendidikan inklusi juga masih hanya menerima satu atau dua ABK di suatu kelas ,” kata Yudia.

LSD sendiri juga menjadi bagian terintegrasi dari Sekolah Tunas Indonesia yang memiliki kelas-kelas regular dari TK hingga SMA. Siswa ABK tetap bisa membaur dengan rekan-rekannya dari kelas reguler. Pembauran tersebut juga menumbuhkan penerimaan dari siswa reguler.

Lingkungan sekolah terasa nyaman karena semua murid dan pendidik tidak memandang teman-temannya yang berkebutuhan khusus secara berbeda. Ketika ada anak yang tantrum atau memiliki fisik yang berbeda, siswa reguler tidak lantas melakukan perundungan. Bertumbuh di sekolah umum, anak-anak ini diharapkan bisa terkondisi berkembang di lingkungan yang lebih umum.

“Kami mendesain agar ABK bisa sekolah di sekolah umum. Saya berharap tenaga ahli pendidikan khusus atau luar biasa tersedia di setiap sekolah umum sehingga bisa mengidentifikasi peserta didik yang mengalami hambatan lalu dikonsepsikan dengan teknis yang berbeda dan fleksibel,” tambahnya.

Kemampuan untuk memahami keunikan kebutuhan pendidikan setiap anak inilah yang kemudian membuat tingginya minat orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya di LSD. Pandemi tak menyurutkan langkah calon orangtua murid untuk berkonsultasi. Saking banyaknya minat, Yudia membatasi hanya menerima konsultasi satu keluarga setiap pekan.

Daftar antrean panjang calon siswa ini memang selalu terjadi tak hanya di tahun ajaran baru, melainkan sepanjang tahun. Minat orangtua untuk berburu pendidikan terbaik semakin meningkat. Biasanya, Yudia akan melayani konsultasi setiap orangtua dan memberi penjelasan detail terkait sistem pendidikan yang diterapkan di LSD STI hingga berjam-jam.

Sebagian dari orangtua ini mendaftarkan anak-anaknya yang terpaksa putus sekolah di tengah tahun ajaran karena diminta berhenti dari sekolah lain. Pihak sekolah angkat tangan karena tak bisa memenuhi kekhususan kebutuhan siswa. Ada pula anak-anak berkebutuhan khusus yang memang memilih LSD dari sejak dini.

Saat ini, LSD STI memiliki delapan kelas pra-SD dan enam kelas sekolah dasar. Ketika ada kelompok anak yang tak sanggup meneruskan ke SD, Yudia berusaha mencarikan jalan keluar antara lain dengan membuka jalur PKBM. Ia pun sedang mempersiapkan jalur khusus lain bagi anak-anak yang tak bisa melanjutkan ke jenjang SD maupun PKBM.

Untuk siswa berkebutuhan khusus yang ingin melanjutkan ke program kejuruan, STI telah memiliki progam Special Education and Vocational (SEV) bagi anak usia SMP dan SMA. “Ada diferensiasi kurikulum. Mereka tidak harus mencapai hal yang sama. Di proses bisa beda-beda. Guru harus memahami indikator pencapaian tidak harus nilai, tapi juga kematangan emosi dan tanggung jawab,” kata Yudia.

Penyadaran diri

Untuk anak-anak yang sudah menjalani pendidikan SD yang disebut sebagai kelas orbit di LSD, mereka umumnya bakal mampu mengaktualisasikan diri ke SMP reguler. Kebanyakan dari murid orbit adalah mereka dengan spektrum gangguan perilaku dan gangguan emosi. “Bagaimana proses penyadaran diri pada peserta didik mengubah status ABK pada dirinya. Anak-anak sadar harus mencitrakan diri baik. Bukan bagian masa lalu. Sistem mampu membangun penyadaran diri untuk mencitrakan diri bukan spesial,” ujarnya.

Demi membangun penyadaran diri ini, anak-anak tidak pernah dijustifikasi berdasarkan diagnosis kekhususannya. Karenanya, anak-anak ini kemudian mulai menjustifikasi diri: bahwa saya bisa lebih baik. Banyak dari alumni LSD yang sudah berada di jenjang SMA maupun kuliah yang kembali datang ke sekolah untuk menjadi sukarelawan magang.

“Saya ingin orangtua jangan sibuk dengan beban diagnosis yang dilabelkan pada anaknya. Karena pada kasus gangguan perilaku, suatu saat akan hilang karena konsep penyadaran diri. Harus berani membuka wawasan baru,” kata Yudia.

Mengajar ABK di masa pandemi juga menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan siasat khusus. Yudia menyebut pembelajaran di masa pandemi ini memang sangat menguras energi. Namun, ternyata justru ada sebagian anak yang bisa optimal belajar lewat jalur daring.

Dari anak-anak didiknyalah, Yudia belajar bagaimana menyempurnakan pendidikan bagi ABK. Yudia merancang untuk membuat kelas bagi ABK di STI yang adalah sekolah umum sejak 2005. Menyelenggarakan pendidikan untuk ABK yang beragam dalam satu lingkungan pendidikan formal umum bukanlah sesuatu yang mudah.

Secara bertahap, Yudia membentuk kultur pendidikan yang paham bahwa peserta didik ABK memiliki hak belajar yang sama. Pada masa awal pendirian LSD, banyak penolakan datang dari ketidaktahuan orangtua kelas reguler. “Kita menjelaskan lewat proses. Setelah itu memang butuh keahlian untuk merumuskan sistem,” tambahnya.

Kelas khusus untuk SD, misalnya, dibuat dengan jumlah murid sekitar 10 anak dan berbahasa Indonesia. Kurikulum dirancang fleksibel yang mudah dipahami siswa. “Bukan untuk membangun perbedaan. Tapi, bagaimana sistem mudah dijalankan dan pencapaiannya terukur. Hanya beda di bahasa pengantar dan beda riwayat diagnosis,” kata Yudia

Merumuskan sistem berdasarkan tren kebutuhan peserta didik, Yudia mengaku terus belajar menciptakan fleksibilatas sistem pembelajaran dari kasus yang muncul di peserta didik. “Kepuasannya adalah ketika anak sudah berubah. Ada ekspektasi yang tidak kita duga. Sekecil apapun perubahan adalah hasil dari proses belajar. Saya desain LSD supaya anak tumbuh berkembang sesuai kodratnya,” ujar Yudia.

Sumber: Kompas.id, Moch Yudia Riyanto Menciptakan Kurikulum Sekolah Inklusi, 02 Jan 2021 06:12 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *