
Rama Widi, Mempertajam Empati
Rama Widi, pemain harpa Twilite Orchestra, menjadikan benda seni, seperti lukisan dan patung, wajib hadir di apartemennya di Jakarta Selatan. Lukisan bertema alam memperkuat empati dan memberi kenyamanan, sementara kecintaannya pada seni pahat terkait dengan instrumen harpa yang kaya ukiran. Rama menghargai karya seni yang memiliki cerita di balik pembuatannya, mencerminkan perjuangan dan emosi seniman. Selama pandemi, ia tetap aktif dalam konser virtual untuk penggalangan dana Covid-19 dan mengajar harpa secara daring. Rama juga menemukan bakat baru memasak, lalu menjual hasilnya secara online, memanfaatkan waktu refleksi untuk memperbaiki diri dan mengembangkan kreativitas.
*****
Benda seni adalah sesuatu yang ”wajib” hadir di ruang tinggal pemain harpa Rama Widi. Di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan, benda seni itu, antara lain, terwujud dalam bentuk karya seni lukisan serta patung. Pilihannya jatuh pada lukisan yang merepresentasikan keindahan alam.
”Bisa mempertajam empati, kalau manfaat lain sebagai investasi, fengsui, atau pelengkap rumah agar lebih nyaman. Di apartemen ada lukisan sawah dan ikan agar lebih mengingatkan pada alam,” ujar harpis Twilite Orchestra itu saat dihubungi pada Jumat (24/7/2020).
Kesukaan pada seni patung juga terkait erat dengan kecintaannya pada alat musik harpa. ”Karena aku pemain harpa dan di harpa banyak sekali ukiran, aku suka seni pahat. Dengan melihat karya seni itu, kita bisa merasakan emosi dari pembuat karya lewat guratan kuas dan kehalusan patung maupun ukiran yang dibuat,” tambahnya.
Bagi Rama, semua karya seni itu indah. Nilai lebih bisa diperolehnya jika ia tahu alasan terciptanya karya seni itu. ”Ada cerita apa di balik karya seni itu? Benar-benar merasakan perjuangan, emosi, keringat, dan air mata senimannya dalam karya seni itu,” kata Rama.
Selama masa pandemi, kegiatannya dalam berkesenian juga tak lantas pupus. Ia, antara lain, terlibat dalam konser virtual penggalangan dana bagi korban Covid-19. Kegiatan sebagai guru kursus harpa yang sempat ditiadakan akibat pandemi pun sudah kembali dilakukannya secara virtual. Ia juga mulai masuk studio rekaman lagi sejak pekan lalu.
”Yang paling berharga punya waktu untuk melihat refleksi ke diri sendiri. Memperbaiki diri sendiri. Ternyata aku punya hidden talent. Bisa masak. Selama pandemi, kerjaanku masak dan menjual online masakan tersebut,” ujar Rama yang pernah terlibat sebagai pembicara webinar tentang bagaimana musisi bisa bertahan menghadapi pandemi.
Sumber: Kompas edisi 26 Juli 2020 di halaman 6 dengan judul “Mempertajam Empati”.
Leave a Reply