
Retno Tranggono, Menebar Cinta
Dr Retno Iswari Tranggono (80) menuliskan perjalanan hidupnya dalam buku biografi Spread the Love: Kilau Mutiara di Ujung Senja, yang diluncurkan di Perpustakaan Nasional RI. Pendiri kosmetik Ristra ini berbagi pengalaman pantang menyerah, termasuk sembuh dari kanker dan lolos dari maut berkali-kali. Retno juga menceritakan masa mudanya sebagai dokter dan pendiri bagian bedah kulit serta kosmetologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia mengubah paradigma kecantikan Belanda agar sesuai kulit orang Indonesia. Meski berusia lanjut, Retno tetap aktif memberi kontribusi, percaya bahwa berpikir layaknya seorang ratu dan melihat kegagalan sebagai batu loncatan adalah kunci semangat hidup.
*****
Liku-liku kehidupan mengajarkan Dr Retno Iswari Tranggono (80) untuk pantang menyerah. Pengalaman berharga dalam menjalani hidup tersebut diramu dalam buku biografi Spread the Love: Kilau Mutiara di Ujung Senja.
Buku tersebut diluncurkan pada Kamis (12/3/2020) di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat. “Melalui buku ini saya ingin berbagi tentang pengalaman hidup saya, pentingnya untuk terus berupaya dan pantang menyerah,” tutur Retno, pendiri jenama kosmetik Ristra.
Dia menceritakan selama rentang masa hidupnya yang telah beberapa kali lolos dari maut. Dia juga telah dinyatakan sembuh total dari penyakit kanker.
Dalam buku setebal 292 halaman tersebut, Retno juga mengisahkan masa mudanya sebagai pengusaha sekaligus dokter serta pendiri bagian bedah kulit dan kosmetologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. “Sebenarnya secara tidak sengaja (berkecimpung di bidang kosmeto-dermatologi). Saya diminta ikut mengajar di Viva yang waktu itu belum ada di pasaran,” kenangnya.
Dia meyakini, ilmu kecantikan yang dulu dibawa Belanda sangat berbeda dengan kondisi orang Indonesia. Saat mendirikan Ristra, dia berupaya mengubah paradigma kecantikan tersebut dan menciptakan kosmetik yang sesuai dengan kondisi kulit orang Indonesia.
Meski telah berusia 80 tahun, Retno masih bersemangat untuk terus berkontribusi terhadap masyarakat. Salah satu penyemangat hidup yang diyakininya adalah berpikir layaknya seorang ratu. “Ratu tidak takut untuk gagal. Kegagalan adalah batu loncatan untuk sesuatu yang lebih besar,” ujar Retno.
Sumber: Kompas.id, Retno Tranggono Menebar Cinta, 14 Mar 2020 05:00 WIB