
Sugeng Widodo, Dorongan Nurani untuk Bersih-bersih Sungai
Melalui komunitas Kelompok Aktivis Lingkungan dan Kelestarian Budaya atau Kaliku yang didirikannya enam tahun lalu, Sugeng Widodo (44) terlibat dalam beragam kegiatan lingkungan. Fokus utamanya bersih-bersih sungai sampai penghijauan di berbagai titik di Malang Raya, Jawa Timur.
Oleh Defri Werdiono
Di tengah terik matahari dan semilir angin, Rabu (23/4/2025), Sugeng menjadi salah satu bagian dalam diskusi yang berlangsung di Hutan Kampus Kehati, di Kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, yang terletak di lereng Gunung Kawi, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Diskusi membahas persiapan memperingati Hari Bumi. Ada sejumlah pihak yang terlibat, antara lain dari TNI AL dan beberapa kampus di Malang. Ada beberapa aksi yang direncanakan, di antaranya menanam pohon, konservasi mangrove, dan bersih-bersih sungai. Pelaksanaannya digelar di beberapa tempat selama empat hari pada Mei.
”Kemarin saya sudah mengambil bibit pohon yang akan ditanam dari Wates dan Bogem, Kediri. Rencananya bibit tanaman itu akan didistribusikan. Kami tanam di beberapa lokasi, mulai dari Pantai Bajulmati dan Polaman (Kabupaten Malang), juga Rampal (Kota Malang). Pada akhir Mei kami akan bersih-bersih sungai di Karangploso (Kabupaten Malang),” ucapnya.
Bersih-bersih sungai dan menanam pohon bukan hal baru bagi Sugeng dan komunitas Kaliku yang beranggotakan aktivis lingkungan setempat. Pada Ramadhan lalu, mereka menanam 3.000 batang bibit buah di sepanjang sempadan Sungai Sukun.
Area yang ditanami sepanjang 8 kilometer. Membentang di empat desa, mulai dari Gelanggang di Kecamatan Pakisaji sampai Sukoraharjo di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Sebelumnya, pada Oktober 2024, Sugeng bersama 3.000 peserta membersihkan Sungai Sukun di Desa Sukoraharjo. Mereka yang terlibat berasal dari mahasiswa, forum komunikasi pimpinan daerah, sukarelawan, dan lainnya.
”Saya tidak menghitung berapa kegiatan yang telah dilakukan. Banyak kegiatan yang kami lakukan, baik di Kabupaten maupun Kota Malang,” ucapnya.
Menurut Sugeng, tak ada rencana khusus untuk memulai setiap kegiatan bersih-bersih sungai. Semua mengalir begitu saja. Misalnya, saat melihat sampah menumpuk di sungai, yang dilakukan adalah dengan memberitahukan kepada pihak desa, kecamatan, hingga bintara pembina desa/komando distrik militer.
”Akhirnya dari situ ada sinergi dengan kodim. Kodim yang mengumpulkan forum komunikasi pimpinan daerah. Kami kebetulan sudah ada koordinasi dengan kampus sehingga tinggal menggabungkan,” ucapnya.
Sugeng juga tidak alergi bergabung dengan komunitas lain, sesama pencinta alam yang lahir lebih dulu. Bahkan, mereka berkolaborasi.
Diakuinya, tidak mudah melakukan aksi bersih-bersih sungai. Terkadang ada warga setempat kurang berkenan saat sungai di wilayahnya dibersihkan.
”Kesadaran saja. Dikira kami mau melakukan hal-hal negatif atau apa saja. Mereka kurang memberikan dukungan. Terkadang pemerintah desanya merasa ribet kalau ada kegiatan semacam itu,” katanya.
Tak jarang nada cemooh mendera. Tudingan sebagai orang yang tidak jelas acap diterima. ”Kalau belum jadi, kami dibilang orang tidak jelas. Panjang ceritanya, sampai stres keluarga. Kami juga rawan fitnah karena ada program pertanggungjawaban sosial (CSR) yang kami terima. Waktu itu ada oknum yang pengin bagi-bagi dan saya tidak mau,” tuturnya.
Sugeng sendiri merasa miris kala melihat kondisi sungai yang ada. Juga kesadaran warga terhadap lingkungan. Hingga kini masih saja ada warga yang membuang sampah di sungai. Padahal, di situ, biasanya di jembatan, sudah ada papan larangan membuang sampah, pagar besi yang sengaja dibikin sebagai perisai untuk menangkis bungkusan plastik berisi sampah yang dibuang orang tidak bertanggung jawab, hingga kamera pemantau (CCTV), dan penjaga.
”Semua ini masalah mentalitas. Bahkan, sampai viral tetap saja dilakukan. Setiap jembatan ada tumpukan sampah,” kata lelaki yang tergabung dalam Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Komisi Pengendalian Daya Rusak Air Kementerian Pekerjaan Umum ini.
Dia mencontohkan, di sungai pintu masuk Bendungan Sengguruh di Kabupaten Malang menumpuk beragam sampah yang terbawa air dari hulu Brantas. Setiap hari pihak berwenang mesti mengevakuasi hingga 30 meter kubik sampah per hari. Komunitas Kaliku punya niat untuk membantu pengelolaan sampah di tempat itu.
”Rencananya awal, kami mau mengelola sampah organiknya dulu, sekaligus memilah anorganik. Ini sedang dikomunikasikan, kemungkinan sesegera mungkin kami akan memulai menyiapkan itu. Karena tahun depan tidak boleh ada open dumping, harus kami kelola sampahnya,” ucapnya.
Menurut Sugeng, kegiatan Kaliku yang berdiri sejak 2019 ini telah berkembang luas. Dirinya bekerja sama dengan sejumlah pihak, mulai dari kampus sampai TNI. Saat ini, Sugeng dan komunitas juga tengah membuat basecamp di Desa Curungrejo, Kepanjen. Rencananya basecamp akan dijadikan ruang edukasi pengelolaan lingkungan terintegrasi.
Di basecamp itu bakal ada perikanan, pertanian, peternakan, dan pengelolaan sampah. Pihaknya kini juga sedang berkomunikasi dengan ketua salah satu kampus negeri di Malang. Harapannya bisa dijalin kerja sama dalam rangka pendampingan pembuatan kurikulum pendidikan lingkungan.
”Keinginan kami di Kaliku, basecamp itu nantinya bisa jadi ruang edukasi untuk adik-adik kita untuk belajar bagaimana kelola lingkungan dengan baik dan benar,” ujar ayah dua anak itu.
Selama ini di basecamp sebenarnya sudah ada kegiatan edukasi bagi anak-anak, tetapi belum berkelanjutan. Apa yang dilakukan baru berupa kegiatan informal, selain mendampingi beberapa sekolah untuk program Adiwiyata. Sugeng juga datang ke sekolah mengajarkan bagaimana mengelola sampah, tanam pohon, hingga bikin biopori.
Lelaki yang bekerja serabutan ini menuturkan, kegiatan konservasi dilakukan sejak enam tahun lalu. Awalnya, dia bersama sejumlah warga membersihkan saluran irigasi Anak Metro, tidak jauh dari rumahnya di Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji. Saat itu kondisi saluran irigasi menjadi tempat pembuangan sampah. Tidak lama kemudian pandemi Covid-19 datang.
”Saat Covid orang bekerja sulit. Saya melihat potensi desa. Setiap desa punya potensi. Hanya saja, butuh sentuhan orang-orang agak ’gila’. Ternyata sungai setelah dibersihkan banyak pengunjung. Bisa dijadikan arena tubing dan kegiatan positif lainnya. Dari situlah, muncul gagasan untuk membersihkan sungai,” katanya.
Setelah dibersihkan bersama beberapa warga, ternyata datang CSR dari salah satu perbankan nasional. Sempadan saluran irigasi itu pun akhirnya dikembalikan menjadi seperti sediakala, dilengkapi trek joging dan lainnya. Suasana tak lagi sepi. Setiap pekan selalu saja ada kegiatan warga di situ.
Setelah dikelola dan berkembang, ada keramba ikan dan pemasangan instalasi mikrohidro oleh salah satu perguruan tinggi swasta. Tahun 2021 rupanya konflik muncul terkait pengelolaan. Ada pembentukan pengurus baru disertai surat keputusan desa, tetapi tanpa pemberitahuan kepada Sugeng dan komunitas Kaliku.
”Ya saya lepaskan. Nah, di tangan pengelola baru rupanya tidak jalan dan kondisinya rusak lagi sekarang. Padahal, saat itu sudah ada enam keramba dari dinas perikanan, turbin mikrohidro dari ITN (Institut Teknologi Nasional Malang)—waktu itu wacananya mau jadi kampus lapangan oleh ITN—ternyata setelah terjadi konflik dinamonya hilang,” ucapnya.
Konflik itu pun tak memadamkan langkah Sugeng dalam membenahi lingkungan. Dia justru bergerak makin luas terlibat dalam bersih-bersih sungai hingga ke wilayah tetangga, Batu dan Kota Malang. Kegiatan itu pun berlangsung hingga sekarang.
Sugeng mengaku tidak tahu alasan yang membuat dirinya terjun membersihkan sungai. Nuraninya mengatakan ada keasyikan tersendiri dalam menangani hal tersebut dan dirinya terpanggil untuk melakukannya. ***
Sugeng Widodo
Lahir: Batu, 6 Agustus 1981
Istri: Suyanah
Anak: Dua
Pendidikan:
– SD Junrejo 2 Kota Batu
– SMP Diponegoro Junrejo Batu
Sumber tulisan: Kliping Kompas edisi 27 April 2025.